ORPHEUS: Cathedra Verum Saga Vol. 1

Jourdan Jonathan
Chapter #6

CHAPTER 5: Chains and Silence

Kabut Silent Forest perlahan memudar.

 

Tidak langsung hilang.

 

Ia surut pelan, seperti tirai gelap yang ditarik dari panggung setelah tragedi selesai dimainkan. Partikel cahaya masih beterbangan di udara—sisa Fragment Duskmaw yang hancur, berkilau redup seperti abu bintang yang tidak tahu ke mana harus jatuh.

 

Shion berdiri diam di tengah jalan setapak.

 

Scythe basic model di tangannya berpendar lemah. Armor tipisnya retak di beberapa bagian, garis neon biru di tubuh kecilnya berkedip pelan seperti napas yang belum stabil.

 

Luka di sayap kirinya sudah mulai menutup, tetapi sensasi DataEater masih tertinggal di bawah tekstur avatarnya.

 

Seperti gigitan dingin yang belum benar-benar melepaskan.

 

Panel status melayang redup di sudut pandangnya.

 

[STATUS]

Name: Shion

Race: Penguin-Type Adaptive Avatar

Class: Phantom

Type: Abyss Reaper

Lv. 18

Neural Sync: 3.1%

Condition: Data Strain Contact — Minor

 

Lima belas level.


Beberapa jam lalu, Shion masih memukul Data Blob demi satu Silver.

 

Kini ia telah mencapai level delapan belas setelah nyaris dihapus dari NIRVANA.

 

Seharusnya kenaikan sebesar itu terasa seperti kemenangan.

 

Namun di tengah hutan yang masih menyimpan bau glitch hitam dan kabut busuk, angka tersebut tidak terasa seperti hadiah.

 

Lebih seperti bukti bahwa sistem baru saja menukar hampir-hilangnya nyawa dengan statistik.

 

Di sampingnya, Ayaka menghela napas panjang.

 

Tonfa ganda di tangannya menurunkan cahaya sedikit demi sedikit. Armor peraknya masih terlihat anggun, tetapi retakan di bahunya merusak kesan sempurna itu. Dari luka tersebut, sisa glitch hitam menetes pelan sebelum terbakar oleh cahaya biru pucat dari sistem pemulihan.

 

Shion meliriknya.

 

“Kau yakin baik-baik saja?”

 

Ayaka tidak langsung menjawab.

 

Ia menatap bahunya sendiri, lalu tersenyum tipis.

 

“Kalau aku bilang iya, kamu akan percaya?”

 

“Tidak.”

 

“Kalau begitu kenapa bertanya?”

 

“Formalitas sosial.”

 

Ayaka tertawa pelan.


Pendek.

 

Lelah.

Namun tawa itu cukup untuk membuat hutan terasa sedikit kurang mencekik.

 

Shion menatap tempat Duskmaw hancur.

 

“Jadi itu cuma fragmen.”

 

Ayaka mengikuti arah pandangnya.

 

“Ya.”

 

“Jawabanmu semakin lama semakin tidak menenangkan.”

 

“Karena memang tidak ada yang menenangkan.”

 

Hening kembali turun.

 

Di kejauhan, pepohonan Silent Forest tidak lagi bergerak seperti makhluk hidup. Namun setelah apa yang mereka lihat, Shion tidak yakin apakah hutan itu benar-benar diam atau hanya menunggu kesempatan berikutnya untuk bernapas.

 

Ia membuka panel inventory.

 

[ITEM ACQUIRED]

Eye of the Death

Grade: Rare

Effect: Reveals enemy weak point

Activation Cost: 20% current HP

Warning: Neural Feedback Possible

 

Mata hitam-biru itu berputar pelan di dalam ruang inventory, pupilnya berdenyut seperti sesuatu yang sedang tidur.

 

Shion menatapnya.


“Level lima belas, lima ratus Points, seratus Silver, dan sebuah mata yang menghabiskan HP-ku sendiri.”

 

Ayaka melirik panel tersebut.

 

“Reward dari entitas Misha hampir tidak pernah diberikan tanpa harga.”

 

“Dunia ini punya definisi hadiah yang agresif.”

 

“Anggap saja sistem sedang membangun karaktermu.”

 

“Kalau begitu sistem perlu belajar cara memberi hadiah ulang tahun.”

 

Ayaka kembali tertawa kecil.

 

Lalu langit berubah.

 

Bukan gelap.

 

Bukan merah.

 

Melainkan emas.

 

Cahaya suci memotong kabut dari arah jalan utama, terlalu terang untuk berasal dari matahari digital yang mulai turun. Suara denting logam bergema dari kejauhan—ritmis, teratur, dan dingin.

 

Bukan langkah player biasa.

 

Langkah pasukan.

 

Ayaka menegang.

 

Shion langsung menangkap perubahan itu.

 

“Ayaka?”

 

Ia tidak menjawab.

 

Matanya menatap lurus ke arah cahaya emas yang membelah hutan.

 

Kabut tersibak.

 

Satu per satu, ksatria Cathedra muncul dari balik pepohonan.

 

Armor perak mereka berkilau dengan aksen emas. Setiap permukaannya dihiasi pola holografik menyerupai doa yang berdenyut pelan. Mereka berjalan dalam formasi sempurna.

 

Tidak ada yang bicara.

 

Tidak ada yang menoleh.

 

Tombak, pedang, dan perisai mereka memantulkan cahaya yang terlalu bersih untuk hutan yang baru saja hampir memakan dua akun.

 

Shion menatap barisan itu.

 

Tidak ada panel individual yang muncul.

 

Tidak ada alasan untuk memindai setiap orang dalam pasukan tersebut.

 

Kedisiplinan mereka sudah menjelaskan lebih banyak daripada layar status mana pun.

 

Di tengah barisan itu, seorang pria berjalan lebih dahulu.

 

Rambut pirang keemasan jatuh rapi di balik helm terbuka. Wajahnya tenang, nyaris indah, tetapi sorot matanya dingin seperti hukum yang tidak pernah belajar memaafkan.

 

Jubah putih beraksen emas melambai di belakangnya. Lambang Cathedra Verum berpendar samar di bagian dada, menyatu dengan pola cahaya pada armor beratnya.


Sebuah longsword tergantung di pinggangnya.

 

Bilah senjata itu masih berada di dalam sarung, tetapi Shion dapat merasakan tekanan tajam darinya—seperti sesuatu yang diciptakan bukan hanya untuk melukai, melainkan untuk memutus.

 

Panel UI muncul.

 

[PLAYER: Seraphiel Vant Corvane]

Race: Blessed Human

Class: Guardian

Type: Severant

Title: Cathedra Vicar

Lv. 99

 

Shion menatap angka itu.

 

Lv.99.

 

Setelah Duskmaw, ia pikir ia mulai memahami skala dunia ini.

 

Ternyata belum.

 

Seraphiel berhenti beberapa langkah di depan mereka.

 

Cahaya di sekelilingnya membuat kabut Silent Forest mundur, seolah bahkan hutan abnormal itu tidak ingin menyentuhnya.

 

Aura pria itu bukan sekadar kuat.

 

Ia teratur.

 

Rapi.

 

Diberkati oleh sistem—atau mungkin oleh sesuatu yang lebih tua dari sistem.

 

Shion tidak tahu.


Dan itu membuatnya semakin tidak menyukai pria tersebut.

 

Seraphiel tidak menatap Shion lebih dahulu.

 

Ia menatap Ayaka.

 

“Cathedra Perfect.”

 

Panggilan itu jatuh seperti rantai.

 

Ayaka menutup matanya sebentar.

 

Ketika ia membukanya lagi, ekspresi santai yang tadi tersisa di wajahnya sudah hilang.

 

“Vicar.”

 

Shion menoleh dari Ayaka ke Seraphiel.

 

Perfect.

Lihat selengkapnya