Aetherion Prime masih bersinar seperti biasa.
Itu yang membuat Shion merasa sedikit kesal.
Langit malam berlapis grid biru pucat tetap membentang di atas kota. Menara kristal holografik tetap memantulkan cahaya lembut. Player tetap berjalan di jalan utama, tertawa, berdagang, mengejar quest, seolah di luar sana tidak ada hutan yang bisa memakan akun seseorang.
Seolah beberapa menit lalu, Shion tidak hampir terhapus.
Seolah Ayaka tidak baru saja dibawa pergi oleh pasukan Cathedra berlapis emas.
Ia berjalan pelan di antara keramaian, scythe di bahunya, armor tipisnya masih memperlihatkan retakan kecil bekas pertarungan. Sayap kirinya sudah pulih secara visual, tetapi rasa dingin dari DataEater masih tertinggal seperti bayangan di bawah kulit.
Cathedra Verum.
Cathedra Perfect.
Cathedra Vicar.
Misha Abnormal.
Threat Level: Critical.
Istilah-istilah itu berputar di kepalanya seperti file rusak yang tidak mau berhenti diputar.
Sebelum malam ini, kata seperti Class, Type, dan Title hanya tampak seperti kolom-kolom dingin dalam sebuah panel sistem.
Phantom menjelaskan bagaimana dunia membaca pertumbuhannya.
Abyss Reaper menjelaskan cara tubuhnya menyalurkan pertarungan.
Namun Title seperti Cathedra Perfect dan Cathedra Vicar membawa sesuatu yang berbeda.
Bukan kemampuan.
Bukan gaya bertarung.
Melainkan kedudukan.
Mandat.
Dan mungkin, rantai.
“Apa sebenarnya semua itu?”
Ia menghela napas.
“Dan kenapa aku tidak sempat bertanya apa pun?”
Pertanyaan itu terdengar bodoh begitu keluar dari mulutnya.
Tentu saja ia tidak sempat bertanya.
Setiap kali ia hampir mendapat jawaban, dunia memilih cara dramatis untuk memotong percakapan: monster kabut, pasukan Cathedra, portal emas, atau sistem yang tiba-tiba memberi reward seolah hidup seseorang baru saja menjadi transaksi.
Shion berhenti di tepi jalan.
Di hadapannya, kota awal NIRVANA tampak seperti festival yang tidak pernah selesai. Kios makanan mengeluarkan aroma roti panggang. Panel quest melayang di udara. Denizen bercakap-cakap dengan ekspresi yang terlalu alami. Seorang player dragonkind tertawa keras bersama demon bersayap hitam, sementara fairy kecil melayang di atas kepala mereka seperti lentera hidup.
Semua terlihat normal.
Terlalu normal.
Shion menatap keramaian itu lama.
“Aku butuh jawaban,” gumamnya.
Matanya kemudian menangkap sebuah papan besar di sisi jalan.
Papan kayu gelap, diperkuat bingkai besi, dengan huruf holografik hijau yang berdenyut pelan.
GREEN BEAST ADVENTURER GUILD
Di bawah tulisan itu, ada lambang kepala binatang bertanduk yang tersenyum ganas.
Shion memiringkan kepala.
“Green Beast…”
Nama itu terdengar jauh lebih tidak suci dibanding Cathedra Verum.
Itu saja sudah membuatnya menarik.
Ia mendorong pintu guild.
Suara derit kayu menyambutnya, hangat dan kasar, sangat berbeda dari portal emas Seraphiel yang terlalu bersih. Aroma kayu tua, logam, makanan panggang, dan minuman manis bercampur di udara. Ruangan di dalamnya luas, dipenuhi meja panjang, papan quest, dan hologram misi yang melayang di beberapa sudut.
Tempat ini tidak indah seperti aula suci.
Tidak rapi seperti barisan Cathedra.
Namun tempat ini hidup.
Player dari berbagai ras duduk di meja-meja: orc, minotaur, beastman, dwarf, elf, dan beberapa avatar aneh yang bahkan Shion belum tahu kategorinya. Suara tawa, keluhan, dan denting gelas saling bertabrakan, membentuk kekacauan yang anehnya terasa nyaman.
Di balik bar, seorang orc berdiri.
Kulitnya hijau gelap, tubuhnya besar, bahunya lebar, dan tindikan logam menggantung di salah satu telinganya. Wajahnya tampak garang pada pandangan pertama, tetapi ketika ia melihat Shion, senyum lebarnya langsung muncul.
Sebuah panel identifikasi sederhana terbuka di sudut pandangan Shion.
[DENIZEN: Rugg]
Race: Orc
Class: Denizen
Profession: Bartender
Tidak ada Type.
Tidak ada level tempur.
Tidak ada senjata atau Title yang menjelaskan siapa dirinya.
Hanya nama dan profesi.
Namun cara orc itu berdiri di balik meja, mengenali setiap suara gelas, setiap pesanan, dan setiap perubahan suasana di ruangan tersebut membuat Shion merasa bahwa panel itu sudah menjelaskan cukup banyak.
“Whoa.”
Rugg mencondongkan tubuh.
“Pinguin?”
Shion berhenti di ambang pintu.
“Ya. Kita mulai dari situ lagi rupanya.”
“Dengan armor dan scythe?”
“Sayangnya begitu.”
Senyum Rugg melebar.
“Gila. Tapi keren.”
Shion berkedip.
Itu bukan respons yang ia duga.
Biasanya orang tertawa, mengambil foto, atau mempertanyakan keputusan hidupnya.
Rugg menunjuk kursi bar.
“Masuklah, traveler. Jangan berdiri di pintu. Kau bikin tempat ini terlihat lebih dramatis dari biasanya.”
Shion berjalan mendekat.
Lalu berhenti di depan kursi bar.
Kursinya tinggi.
Terlalu tinggi.
Ia menatap kursi itu.
Lalu menatap tubuh pinguinnya.
“…”
Rugg melihat situasinya, lalu tertawa keras.
“Hahaha! Benar juga. Kursi ini bukan untuk warrior ukuran ringkas.”
“Jangan sebut aku ukuran ringkas.”
“Baiklah, warrior mini.”
“Itu lebih buruk.”
Rugg tertawa lagi, lalu dengan mudah mengangkat Shion dan meletakkannya di atas kursi bar.
Shion duduk kaku.
“Terima kasih.”
“Sama-sama. Jangan sampai jatuh, warrior mini.”
“Aku mulai menyesal masuk ke sini.”
“Tapi belum keluar, kan? Berarti tempat ini bagus.”
Shion tidak bisa membantah logika itu.
Rugg menyandarkan siku di meja bar.
“Nama?”
“Shion.”
“Bagus. Gue Rugg. Bartender, pendengar keluhan, dan penyelamat player pendek dari kursi tinggi.”
“Profesi yang spesifik.”
“Dunia ini butuh spesialis.”
Untuk pertama kalinya sejak Ayaka pergi, Shion tertawa kecil.
Tidak banyak.
Namun cukup.
Rugg menunjuk deretan menu holografik.
“Mau minum? Makan? Atau cuma datang buat terlihat misterius?”
Shion menatap menu itu.
“Makanan di sini… punya rasa?”
Rugg menatapnya seolah pertanyaan itu menyinggung kehormatan guild.
“Punya rasa? Traveler, kau sedang duduk di Green Beast. Kalau makanan kami cuma dekorasi hologram, aku sudah pensiun dan mengubah Profession-ku menjadi batu.”
“Batu bukan profesi.”
“Batu yang kecewa bisa menjadi apa pun.”
Shion menghela napas.
“Baiklah. Satu set menu pemula.”
“Pilihan bagus.”
Rugg bergerak ke belakang bar. Beberapa menit kemudian, sebuah nampan muncul di depan Shion: roti panggang berlapis saus hijau muda, potongan daging sintetis yang berkilau tipis, dan segelas minuman biru pucat dengan uap dingin melayang di atasnya.
Shion menatap makanan itu lama.
“Kalau ini membuatku keracunan, aku akan menghantuimu.”