Pintu Green Beast terbuka seperti dihantam badai.
Bukan karena seseorang menendangnya.
Tidak.
Orang yang masuk hanya mendorongnya seperti biasa.
Masalahnya, “biasa” bagi sosok itu terdengar seperti pintu tua sedang mencoba bertahan hidup dari takdir yang terlalu berat.
Langkah besar menghentak lantai kayu. Hologram quest yang melayang di udara bergetar pelan. Beberapa gelas di atas meja ikut berdenting. Percakapan yang tadi memenuhi guild berhenti satu per satu, digantikan oleh sesuatu yang anehnya bukan ketakutan.
Lebih seperti antisipasi.
Shion menoleh.
Sosok itu memenuhi ambang pintu.
Minotaur.
Tubuhnya besar seperti tembok hidup, ototnya menonjol di bawah armor ringan yang memantulkan kilatan hijau dari lampu guild. Sepasang tanduk melengkung dari kepalanya, kasar dan penuh bekas goresan, seolah pernah digunakan untuk menantang lebih banyak hal daripada yang seharusnya disarankan oleh akal sehat.
Di punggungnya, sebuah kapak raksasa tergantung miring.
Bilahnya lebar, berlapis rune relic berwarna merah gelap yang berdenyut pelan seperti bara di bawah abu.
UI Shion langsung bereaksi.
[PLAYER: Big Jack Oswald]
Race: Minotaur
Class: Striker-Guardian
Type: Ravager
Lv. 52
Weapon: Relic Rune Axe
Shion membaca panel itu sekali lagi.
Striker-Guardian.
Dua Class dalam satu field.
Bukan pertama kalinya Shion melihat format seperti itu.
Ayaka juga memilikinya—Guardian-Striker. Namun pada Ayaka, kedua Class itu terasa seperti perpaduan antara pertahanan mutlak dan serangan yang dikendalikan dengan presisi.
Pada Big Jack, urutannya terbalik.
Striker berdiri lebih dahulu.
Daya hancur menjadi fungsi utamanya, sementara Guardian memastikan kekuatan itu digunakan untuk melindungi orang-orang di belakangnya.
Level lima puluh dua menjelaskan bagaimana ia bisa memiliki dua Class sekaligus. Seperti Ayaka, Big Jack telah melewati batas perkembangan yang memungkinkan Mixed Class terbuka.
Namun kesamaan mereka berhenti di sana.
Ayaka menggunakan tonfa dengan ledakan terukur.
Big Jack membawa kapak yang terlihat seperti bisa membelah meja, dinding, dan mungkin seluruh gedung hanya karena suasana hatinya sedang buruk.
Type Ravager terasa sangat cocok untuknya.
Salah satu survivor di meja belakang menghela napas lega.
“Ketua…”
Big Jack Oswald menoleh ke arah mereka.
Tatapannya yang besar dan tajam langsung melembut.
Namun sebelum ia bicara, matanya berhenti pada sesuatu yang lebih dekat.
Lebih kecil.
Lebih bundar.
Lebih tidak masuk akal.
Shion.
Big Jack membeku.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Lalu suaranya meledak.
“APA ITU?!”
Seluruh guild bergetar.
Shion perlahan menatap ke kiri, lalu ke kanan.
Tidak ada siapa pun selain dirinya yang cukup absurd untuk menjadi target pertanyaan itu.
Ia menghela napas.
“Sepertinya aku.”
Big Jack menunjuknya dengan jari sebesar lengan manusia.
“PINGUIN?!”
“Ya.”
“DENGAN ARMOR?!”
“Sayangnya.”
“DAN SCYTHE?!”
Shion menatap scythe di tangannya.
“Ini memang cenderung terlihat seperti scythe.”
Hening setengah detik.
Lalu Big Jack tertawa.
Bukan tawa kecil.
Bukan tawa sopan.
Tawa itu seperti drum perang dilempar dari tebing.
“HAHAHAHA! LUAR BIASA!”
Beberapa anggota guild ikut tertawa. Rugg di belakang bar menutup wajah dengan kain, jelas sudah terbiasa dengan level volume itu, tetapi tetap tidak kebal sepenuhnya.
Big Jack melangkah masuk.
Lantai kayu mengeluh di bawah beratnya.
“Duduk sini, pinguin kecil! Gue harus tahu, lo NPC baru, maskot event, atau player yang tersesat ke server ini setelah kalah taruhan?”
Shion menatapnya datar.
“Player.”
“HAHA! BAGUS! Lebih bagus lagi!”
Big Jack menarik kursi khusus dari dekat meja besar. Kursi itu terbuat dari besi gelap dengan lapisan holografik penguat. Kursi biasa tidak akan muat. Tidak akan kuat. Dan mungkin akan mengajukan pengunduran diri.
Ia duduk dengan dentuman rendah.
Lalu menepuk meja.
“Nama!”
“Shion.”
“Bagus! Singkat! Tajam! Cocok untuk pinguin bersenjata kematian!”
“Aku tidak yakin itu pujian.”
“Itu pujian tertinggi dari gue!”
Big Jack berdiri lagi dengan tiba-tiba.
Seluruh ruangan otomatis memberi ruang.
Ia mengangkat kedua lengannya, memamerkan otot dengan pose dramatis yang seharusnya tidak dilakukan siapa pun di tengah percakapan serius.
“DENGARKAN BAIK-BAIK! Nama gue Big Jack Oswald! Ketua Green Beast! Kekuatan, keberanian, solidaritas, dan…”
Ia menarik napas dalam-dalam.
“…bau minyak otot adalah identitas gue!”
Rugg dari balik bar berseru, “Tidak ada poin keempat di slogan resmi guild!”
Big Jack menunjuknya tanpa menoleh.
“Akan gue ajukan di rapat berikutnya!”
Shion menatap adegan itu.
Aku masuk ke guild orang gila.
Anehnya, tempat itu terasa lebih aman daripada portal emas Seraphiel.
Big Jack akhirnya menurunkan lengannya, lalu menatap dua survivor Silent Forest.
Dalam sekejap, tawa di wajahnya berkurang.
Tidak hilang sepenuhnya.
Namun tertutup oleh sesuatu yang lebih berat.
“Oke,” katanya, suaranya turun. “Ceritakan semuanya.”
Dua survivor itu saling menatap.
Player pertama mulai bicara dengan suara gemetar. Ia menjelaskan bounty di Silent Forest, kabut yang bergerak, suara gigi tanpa mulut, dan teman mereka yang tertinggal hanya beberapa langkah sebelum ditelan. Player kedua menambahkan dengan suara serak tentang party list abu-abu, glitch yang tersisa di tangan mereka, dan bagaimana sistem tidak memberi status dead maupun logout.
Big Jack mendengarkan tanpa memotong.
Itu yang mengejutkan Shion.
Sosok yang beberapa detik lalu membuat ruangan terasa seperti panggung komedi mendadak diam sepenuhnya. Tidak ada pose. Tidak ada ledakan suara. Hanya mata merahnya yang menatap dua anggota guildnya dengan perhatian yang kasar, tetapi nyata.
Ketika cerita selesai, Big Jack mengangguk pelan.
“Kalian hidup. Itu penting.”
Player pertama menunduk.
“Tapi dia—”
“Gue tahu.”
Big Jack menaruh tangan besar di bahu survivor itu. Sentuhannya hati-hati, seolah ia sadar kekuatannya bisa menghancurkan sesuatu yang ingin ia tenangkan.
“Pulang. Istirahat. Jangan login ke area luar dulu. Gue akan kirim tim dengan level dan komposisi yang cukup untuk mencari jejak teman kalian.”
Player kedua menatapnya.
“Ketua…”
“Ini bukan permintaan.”
Nada Big Jack tetap hangat, tetapi tidak bisa dibantah.
“Green Beast tidak meninggalkan anggotanya begitu saja.”
Dua survivor itu mengangguk.
Rugg memberi isyarat kepada beberapa player lain untuk menemani mereka keluar dari ruang utama. Ketika mereka pergi, suasana guild tetap sunyi selama beberapa saat.
Lalu Big Jack menoleh kepada Shion.
“Sekarang, pinguin.”
Shion mengangkat alis.
“Aku punya nama.”
“Gue tahu. Tapi pinguin lebih mudah diingat.”
“Luar biasa. Identitasku runtuh dalam tiga menit.”
Big Jack tertawa pendek.
“Rugg bilang lo ada di hutan itu.”
Shion melirik Rugg.
Rugg mengangkat kedua tangan.
“Aku cuma bartender, bukan penjaga rahasia.”
Big Jack mencondongkan tubuh ke depan.
“Lo melihat entitas itu?”