Cahaya hologram memantul lembut di dinding Guild Hall Green Beast.
Malam telah turun di Aetherion Prime, tetapi ruangan itu tidak terasa gelap. Lampu-lampu biru dan hijau menggantung di langit-langit kayu, memantulkan bayangan hangat di antara meja panjang, papan quest, dan deretan senjata tua yang dipasang sebagai dekorasi.
Shion duduk di salah satu kursi bundar dekat meja besar.
Atau lebih tepatnya, ia duduk di atas kursi setelah Rugg membantunya naik.
Lagi.
Scythe basic model bersandar di sisi kursi, ukurannya hampir lebih panjang daripada tubuh pinguinnya sendiri. Armor tipisnya sudah diperbaiki seadanya oleh sistem guild, meski beberapa retakan kecil masih tampak seperti bekas luka yang belum ingin hilang.
Di hadapannya, Big Jack Oswald berdiri dengan kedua tangan di pinggang.
Ketua Green Beast itu tampak seperti gunung yang memutuskan untuk menjadi pembicara motivasi.
“Jadi, Shion,” kata Big Jack, suaranya menggema tanpa perlu berteriak. “Lo bilang mau naik level cepat, tambah skill point, dan tidak mati dengan cara memalukan?”
Shion mengangkat alis.
“Aku tidak ingat bagian terakhir.”
“Gue tambahkan. Itu bagian penting.”
“Profesional sekali.”
“Tentu. Gue ketua guild.”
Big Jack menggeser panel holografik besar di atas meja. Sebuah peta muncul, memproyeksikan area reruntuhan yang dikelilingi hutan digital, sungai data, dan beberapa menara retak yang menonjol dari tanah seperti tulang dunia lama.
Nama area itu berkedip pelan.
[VERTH RUINS]
Big Jack mengetuk peta dengan satu jari besar.
“Ini quest yang cocok buat lo. Area Verth. Reruntuhan tua, demon kelas rendah, beberapa imp, dan satu boss di bagian terdalam. Status resminya: easy.”
Shion menatap tulisan itu.
Setelah Silent Forest, kata easy terdengar seperti jebakan dengan font ramah.
“Definisi easy di NIRVANA agak mencurigakan.”
Big Jack tertawa keras.
“HAHA! Bagus! Paranoia sehat meningkatkan peluang hidup.”
“Itu bukan menenangkan.”
“Gue bukan terapis.”
Big Jack memperbesar peta. Beberapa titik merah muncul di area reruntuhan.
“Reward-nya lumayan. EXP stabil, drop-nya bisa dipakai untuk upgrade gear, dan kalau lo perform bagus, gue bisa bantu membuka akses ke skill tree lanjutan milik guild.”
Shion menatap peta dengan lebih serius.
Skill.
Gear.
Level.
Setelah Duskmaw dan Seraphiel, ia tidak lagi melihat angka sebagai mainan.
Angka adalah cara dunia ini menjelaskan apakah seseorang mampu berdiri sendiri—atau harus menunggu orang lain menyelamatkannya.
“Aku ambil.”
“Bagus.”
Big Jack menyeringai.
“Tapi lo tidak akan pergi sendirian.”
Shion menatapnya.
“Aku bisa—”
“Tidak.”
Jawaban Big Jack turun seperti kapak.
Shion diam.
Big Jack menunjuk peta lagi.
“Lo pintar, Shion. Gue akui itu. Tapi pintar bukan berarti kebal. Class Phantom memberi lo kecepatan dan fleksibilitas, bukan izin untuk menerima semua serangan dengan wajah.”
“Aku tidak berencana melakukannya.”
“Rencana sering berubah begitu sesuatu mulai mencoba membunuh lo.”
Big Jack mengetuk salah satu titik pada peta.
“Apalagi Type Abyss Reaper milik lo belum punya catatan pembanding di registry. Itu berarti kita belum tahu semua batasnya.”
Shion melirik scythe di sampingnya.
Bilah itu memantulkan cahaya hijau guild dalam garis tipis.
“Jadi?”
“Jadi lo butuh party.”
Big Jack melipat kedua tangan di dada.
“Bukan cuma orang yang bisa menghasilkan damage. Lo butuh seseorang yang menahan garis depan, seseorang yang menjaga jarak serang, dan seseorang yang memastikan kalian semua masih bisa berdiri ketika rencana mulai berantakan.”
Shion menatapnya datar.
“Kau sudah menyiapkan mereka, bukan?”
Senyum Big Jack melebar.
“Sekarang lo mulai mengenal gue.”
Ia menoleh ke pintu.
“MASUK!”
Pintu holografik di sisi ruang briefing terbuka.
Sosok pertama melangkah masuk.
Tinggi, ramping, dan tenang. Rambut hitamnya jatuh seperti aliran obsidian di punggungnya. Armor tipis berlapis rune gelap membungkus tubuhnya dengan elegan, tidak berlebihan, tetapi setiap garisnya tampak sengaja dibuat untuk membuat orang lain merasa kurang rapi.
Di punggungnya tergantung busur panjang dengan lengkung halus, memancarkan aura ungu samar.
Matanya ungu.
Tajam.
Senyumnya tipis.
“Kaelenya Veyra,” katanya, suaranya halus, tetapi membawa duri yang nyaris sopan. “Jadi kamu pemilik Type Abyss Reaper yang membuat ketua guild berbicara seolah baru menemukan artifact langka?”
Shion menatapnya dari bawah.
“Kalau ekspektasimu monster raksasa, maaf mengecewakan.”
Kaelenya menatap tubuh pinguinnya.
Lalu scythe-nya.
Lalu kembali ke wajahnya.
“Hm. Tidak. Ini jauh lebih aneh.”
Senyumnya sedikit melebar.
“Aku menghargai kejutan.”
“Terima kasih. Kurasa.”
Panel informasi muncul.
[PLAYER: Kaelenya Veyra]
Race: Elf
Class: Artillery
Type: Farshot
Shion mengamati busur panjang di punggungnya.
Class Artillery menjelaskan posisinya dalam formasi: damage dealer dari garis belakang. Type Farshot menjelaskan bagaimana ia melakukannya—proyektil presisi dari jarak aman, selama pandangannya terhadap target tidak terputus.
Big Jack menunjuknya.
“Kaelenya. Output tinggi, akurasi lebih tinggi, otak tajam, lidah lebih tajam. Kalau dia memuji lo, cek dulu apakah itu hinaan.”
Kaelenya tersenyum tipis.
“Ketua terlalu baik.”
“Lihat? Itu mungkin hinaan.”
Shion menatapnya.
“Aku mulai paham.”
Kaelenya menggeser panel kecil di udara.
“Kalau kita akan bekerja sama, party invite dulu.”
Panel muncul di depan Shion.
[PARTY INVITATION: Kaelenya Veyra]
Shion hendak menekan accept.
Namun panel berikutnya muncul.
[ERROR]
Already in Party
Ia berhenti.
Alisnya mengerut.
Shion membuka status party.
Satu nama masih tertera di sana.
Ayaka Minase
HP: 12%
Shion menatap angka itu.
Dua belas persen.
Masih hidup.
Masih terdaftar di sistem.
Namun jauh.
Terlalu jauh untuk dijangkau.
Nama itu berkedip pelan seperti sisa cahaya dari pintu yang sudah tertutup.
Kaelenya memperhatikan wajahnya.
“Ada masalah?”
Shion menutup panel.
“Tidak.”
Ia membuka menu party sekali lagi.
Jemarinya—atau ujung sayapnya—berhenti di atas satu pilihan.
[LEAVE PARTY]
Hanya satu tombol.
Hanya satu perintah sistem.
Namun ketika Shion menekannya, rasanya seperti melepas benang terakhir yang masih menghubungkannya dengan Silent Forest.
[PARTY LEFT]
Nama Ayaka menghilang dari HUD-nya.
Tidak ada pesan perpisahan.
Tidak ada pengingat bahwa mereka pernah bertarung bersama.
Tidak ada catatan tentang satu serangan yang dihindari karena Shion melihat masa depan, atau satu inti gelap yang dihancurkan karena Ayaka mempercayai arahannya.
Sistem hanya menghapus satu nama.
Dingin.
Efisien.
Selesai.
Shion menatap ruang kosong itu selama satu detik lebih lama dari yang seharusnya.
Lalu ia kembali membuka undangan Kaelenya.
“Invite diterima.”
[PARTY JOINED]
Kaelenya melihatnya beberapa saat lebih lama daripada yang nyaman.
Namun ia tidak bertanya.
Itu membuat Shion sedikit menghargainya.
Langkah berat berikutnya memecah suasana.
Sosok besar masuk dengan suara armor yang berdenting keras. Kulitnya hijau gelap, tubuhnya lebar dan kuat, dengan shield besar di punggung serta pentungan kayu berlapis besi di tangan kanan. Senyumnya langsung muncul sebelum ia sempat memperkenalkan diri.
“HAHA! Ini dia tim yang bikin gue semangat!”
Suaranya memenuhi ruangan.
“Ada elf elegan, pinguin berscythe, dan gue—orc paling ganteng di Green Beast!”
Shion menatapnya.
“Ganteng?”
Kaelenya menyilangkan tangan.
“Definisi itu tampaknya sangat fleksibel.”
Sosok besar itu tertawa keras.
“HAHA! Fleksibel berarti bisa dipakai semua orang! Nama gue Grakthor Brune!”
Panel muncul.
[PLAYER: Grakthor Brune]
Race: Orc
Class: Guardian
Type: Bulwark
Shield besar di punggung Grakthor membuat klasifikasinya terasa nyaris terlalu tepat.
Guardian menempatkannya sebagai anchor garis depan.
Bulwark menjadikan equipment defensifnya pusat dari cara ia bertarung.
Bukan hanya seseorang yang memiliki pertahanan tinggi.
Seseorang yang sengaja mengubah dirinya menjadi dinding bagi orang lain.
Big Jack menepuk bahu Grakthor dengan bangga.
“Grakthor. Shield besar, suara besar, keberanian besar, dan kemampuan membuat strategi apa pun terdengar seperti ajakan makan.”
Grakthor mengangkat jempol.
“Strategi terbaik dimulai setelah perut penuh!”
“Lihat?” kata Big Jack.
Shion menatap Grakthor.
“Aku merasa kita akan sering mendapat masalah.”
“HAHA! Jangan khawatir, pinguin.” Grakthor menepuk shield di punggungnya. “Kalau masalah datang, gue berdiri di depan.”
Kalimat itu diucapkan dengan tawa.
Namun Shion menangkap sesuatu di baliknya.
Kesederhanaan yang tulus.
Tidak ada janji bahwa Grakthor akan selalu menang.
Hanya janji mengenai tempat ia akan berdiri ketika sesuatu datang menyerang.
Sebelum Shion bisa membalas, sosok terakhir masuk.
Langkahnya nyaris tidak terdengar.
Tubuhnya mungil, lebih kecil daripada kebanyakan player di ruangan, dengan sayap transparan yang memantulkan cahaya lembut di belakang punggungnya. Rambut peraknya jatuh seperti aliran cahaya bulan, dan kedua tangannya menggenggam tongkat kecil yang dihiasi kristal biru pucat.
Ia berhenti di dekat pintu, menunduk sedikit.
“Um…”
Suaranya sangat pelan sampai hampir tertelan dengung hologram.
“Aku… Sylphine Aria.”
Panel muncul.
[PLAYER: Sylphine Aria]
Race: Fairy
Class: Support
Type: Glyphcaster
Kristal pada tongkat Sylphine berdenyut pelan. Rune-rune kecil muncul di udara di sekitar ujungnya, lalu menghilang sebelum sempat membentuk pola lengkap.
Support menjelaskan fungsi utamanya—pemulihan, penguatan, dan pengendalian mana.
Glyphcaster menjelaskan channel yang ia gunakan: rune, glyph, dan catalyst yang terbentuk melalui tongkat kecil di tangannya.
Sylphine mengangkat wajah sedikit.
Matanya hijau jernih, gugup, tetapi tidak kosong.
“Aku harap… kita bisa bekerja sama.”
Shion menatapnya.
Nada suaranya tanpa sadar menjadi lebih lembut.
“Kita akan buat ini berjalan lancar.”
Sylphine berkedip.
Lalu tersenyum kecil.
Tongkat di tangannya tiba-tiba memancarkan cahaya.
Sebuah glyph kecil terbuka di udara.
Bunga-bunga holografik bermekaran di atas kepala Shion.
Hening.
Shion menatap bunga-bunga itu.
Kaelenya mengangkat alis.
Grakthor membelalak.
Sylphine memerah.
“A-ah, maaf! Itu… tidak sengaja…”
Grakthor tertawa sampai bahunya bergetar.
“HAHA! Bagus! Kalau tim ini mati, setidaknya kita mati dengan dekorasi!”
Shion menatap bunga yang perlahan menghilang.
“Strategi moral support yang agresif.”
Kaelenya menutup mulutnya, mencoba tidak tertawa.
Gagal.
Big Jack memukul meja dengan telapak tangannya.
“Lihat kalian!”
Suaranya menggelegar.
“Pinguin Phantom dengan Type yang tidak tercatat, elf Artillery yang bicara seperti bangsawan beracun, Guardian yang menganggap dirinya hadiah untuk dunia, dan Support yang memunculkan bunga saat panik!”
Ia membuka kedua tangannya.
“Ini tim paling aneh yang pernah gue bentuk!”
Shion menghela napas.
“Itu seharusnya membuatku khawatir.”
“Tidak!” Big Jack menyeringai. “Itu seharusnya membuat sejarah!”
Panel party terbuka di tengah meja.
Kali ini, sistem tidak hanya menampilkan nama.
[PARTY FORMATION]
Shion
Class: Phantom
Type: Abyss Reaper
Kaelenya Veyra
Class: Artillery
Type: Farshot
Grakthor Brune
Class: Guardian
Type: Bulwark
Sylphine Aria
Class: Support
Type: Glyphcaster
[FORMATION ASSESSMENT]
Frontline Anchor: Available
Ranged Output: Available
Support Channel: Available
Mobile Control: Available
Party Balance: Stable
Shion menatap panel itu.
Untuk pertama kalinya, Class dan Type tidak hanya terasa seperti label individual.
Di dalam party, keduanya membentuk hubungan.
Grakthor menjadi titik yang menahan tekanan.
Kaelenya menjaga output dari jarak aman.
Sylphine mempertahankan mana dan kondisi tim.
Sedangkan Shion—dengan mobilitas Phantom, Echo Bind, dan jangkauan scythe milik Abyss Reaper—mengisi celah yang tidak bisa dijangkau tiga lainnya.
Bukan pemimpin.
Belum.
Bukan pusat formasi.
Namun sesuatu yang dapat bergerak di antara semua garisnya.
Big Jack menunjuk panel itu.
“Lihat? Kalian tidak dibentuk karena kebetulan.”
Kaelenya menyentuh field formasi.
“Komposisinya seimbang.”
“Di atas panel,” kata Shion.
Kaelenya meliriknya.
“Kau tidak percaya sistem?”
Shion mengingat tulisan High pada bounty Silent Forest.
Lalu Threat Level: Critical yang muncul ketika semuanya sudah terlambat.
“Aku percaya sistem bisa menampilkan data,” jawabnya. “Aku tidak selalu percaya data itu lengkap.”
Senyum Kaelenya menghilang sedikit.
Bukan karena tersinggung.
Lebih karena ia memahami alasan di balik kalimat tersebut.
Big Jack mengangguk.
“Jawaban bagus.”
Ia menekan satu bagian panel.
[NOTICE]
Class–Type compatibility indicates potential formation stability.
Actual performance depends on coordination, equipment, terrain, skill timing, and player judgment.
“Panel cuma memberi tahu kalian punya alat yang dibutuhkan,” kata Big Jack. “Panel tidak bisa membuat kalian saling percaya.”
Grakthor mengangkat tangan.
“Kalau begitu kita mulai dengan makan bersama!”
Big Jack menunjuknya.
“Lihat? Kadang dia benar secara tidak sengaja.”
“Gue selalu benar!”
“Itu bagian tidak sengajanya.”
Kaelenya kembali menyentuh panel.
“Sebelum makan, kita butuh nama party.”
Grakthor langsung mengangkat tangan lagi.
“Nama yang keras! Yang bikin demon gemetar!”
Sylphine menggenggam tongkatnya.
“Nama yang… indah. Tapi kuat.”
Kaelenya menatap Shion.
“Kamu?”
Shion diam.
Ia menatap pantulan scythe-nya pada permukaan meja. Cahaya biru kehijauan dari bilahnya menyatu dengan lampu hijau guild, membentuk bayangan panjang di lantai.
Bayangan.