ORPHEUS: Cathedra Verum Saga Vol. 1

Jourdan Jonathan
Chapter #10

CHAPTER 9: Verth Beckons

Pagi di Aetherion Prime datang bersama musik yang terlalu damai untuk dunia yang baru saja mengajarkan Shion bahwa kematian bisa lebih buruk daripada sekadar kehilangan HP.

 

Langit biru berlapis grid membentang di atas kota. Garis-garis pucat berdenyut lembut di balik awan, seolah NIRVANA sedang bernapas dalam tidurnya. Cahaya pagi memantul pada menara kristal, jembatan batu, dan ribuan panel holografik yang mulai memenuhi jalan utama.

 

Green Beast sudah berisik sejak matahari digital belum sepenuhnya naik.

 

Denting gelas.

 

Suara armor.

 

Teriakan player yang kehilangan equipment.

 

Dan suara Grakthor yang terdengar seperti seseorang sedang mengumumkan perang terhadap meja makan.

 

“TAMBAH DAGING!”

 

Rugg berdiri di balik bar dengan ekspresi seseorang yang telah mempertimbangkan banyak keputusan hidupnya pagi itu.

 

“Kau sudah makan empat porsi.”

 

Grakthor menepuk perutnya.

 

“Itu pemanasan.”


“Pemanasan untuk apa?”

 

“Porsi kelima.”

 

Rugg menatapnya beberapa detik.

 

Lalu meletakkan sepotong roti tambahan di atas piringnya.

 

“Ambil ini dan berhenti mengancam persediaanku.”

 

“HAHA! Aku tahu kau menyayangiku!”

 

“Aku menyayangi keheningan. Kau berdiri di antara kami.”

 

Shion duduk di kursi tinggi dekat ujung bar.

 

Atau lebih tepatnya, ia duduk setelah Rugg mengangkatnya ke sana tanpa diminta.

 

Shion sudah memutuskan untuk tidak melawan.

 

Setidaknya tidak pagi ini.

 

Scythe basic model bersandar di sisi kursinya. Armor ringan membungkus tubuh pinguinnya, garis biru pucat di permukaannya menyala stabil. Retakan bekas Silent Forest telah diperbaiki, tetapi Shion masih bisa merasakan sisa dingin DataEater di sayap kirinya setiap kali pikirannya kembali pada kabut hitam itu.

 

Di seberang meja, Kaelenya memeriksa inventory-nya.

 

Anak panah data berputar pelan di dalam panel holografik. Setiap bundle diberi tanda berdasarkan material, penetrasi, dan efek mana. Ia menghitung semuanya dua kali, lalu memindahkan beberapa ke quick slot dengan ketelitian yang hampir mengintimidasi.

 

Sylphine duduk di sampingnya.


Fairy itu memegang tongkat kecilnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menelusuri daftar catalyst dan potion mana. Sebuah buku catatan tipis terbuka di depannya. Di dalamnya, terdapat sketsa glyph barrier dari latihan malam sebelumnya.

 

Beberapa garis sudah dikoreksi.

 

Beberapa sudut diberi lingkaran kecil.

 

Di salah satu halaman, ada gambar bunga yang dicoret berulang kali.

 

Shion meliriknya.

 

“Kau memasukkan strategi bunga ke dalam catatan?”

 

Sylphine tersentak.

 

“A-ah…”

 

Ia buru-buru menutup buku itu.

 

“Itu hanya… kemungkinan taktis.”

 

Kaelenya mengangkat wajah dari inventory-nya.

 

“Kemungkinan membuat musuh mati dalam kebingungan estetis?”

 

Wajah Sylphine memerah.

 

“Aku tidak menulis seperti itu…”

 

Grakthor, yang masih mengunyah, mengangkat satu tangan.

 

“Harus ditulis! Strategi luar biasa butuh dokumentasi!”

 

Shion menatap bunga holografik kecil yang muncul tanpa sengaja di atas tongkat Sylphine.


“Kalau sistem sendiri mengakui accidental distraction effect, kurasa kita tidak bisa mengabaikannya.”

 

Sylphine menunduk semakin dalam.

 

“Tolong jangan bangga pada bagian ‘accidental’-nya…”

 

Kaelenya tersenyum tipis.

 

“Tenang. Kalau berhasil dua kali, kita bisa mulai menyebutnya disengaja.”

 

Sylphine melirik mereka.

 

Untuk sesaat, rasa gugupnya berkurang.

 

Lalu satu bunga lain muncul di atas kepala Shion.

 

Hening.

 

Shion mendongak.

 

“Aku mulai merasa ditarget.”

 

Grakthor tertawa sampai hampir tersedak.

 

Rugg meletakkan segelas air di hadapannya tanpa melihat.

 

“Minum sebelum Green Beast kehilangan Guardian karena sarapan.”

 

“Aku tidak bisa dikalahkan makanan!”

 

“Kalimat terakhir banyak orang sebelum tersedak.”

 

Shion mengambil sepotong roti dari piringnya.

 

Hangat.

 

Renyah.

 

Nyata.

 

Rasa itu masih terasa aneh baginya.

 

Bukan karena buruk.

 

Justru karena terlalu mudah untuk diterima.

 

Beberapa hari lalu, dunia nyata terasa seperti sesuatu yang tidak lagi mampu ia sentuh dengan benar. Kini, di sebuah guild berisik dalam dunia virtual, ia bisa merasakan hangat roti, dingin minuman, dan seseorang tertawa karena bunga muncul di atas kepalanya.

 

NIRVANA tidak terasa seperti pelarian.

 

Tidak lagi.

 

Tempat ini terlalu berbahaya untuk disebut tempat bersembunyi.

 

Namun mungkin…

 

Mungkin tempat yang berbahaya masih bisa menjadi tempat seseorang menemukan alasan untuk tetap berjalan.

 

Panel kecil berkedip di sudut pandang Shion.

 

[PARTY: ECLIPSE VANGUARD]

Shion — Phantom / Abyss Reaper

Kaelenya Veyra — Artillery / Farshot

Grakthor Brune — Guardian / Bulwark

Sylphine Aria — Support / Glyphcaster

 

[PARTY STATUS]

Ready

 

Empat nama.


Empat Class.

 

Empat Type.

 

Namun setelah latihan semalam, Shion mulai memahami bahwa panel tersebut tidak memperlihatkan bagian terpenting.

 

Panel tidak menunjukkan Grakthor yang sengaja memperlambat langkah agar Sylphine tidak tertinggal.

 

Tidak menunjukkan Kaelenya yang selalu memeriksa blind spot sebelum mengkritik orang lain.

 

Tidak menunjukkan Sylphine yang memperbaiki semua glyph-nya sepanjang malam karena satu barrier sempat retak.

 

Dan tidak menunjukkan betapa sulitnya bagi Shion untuk mempercayai bahwa tiga nama itu masih akan berada di sana ketika quest berakhir.

 

Pintu ruang guild master terbuka.

 

Big Jack keluar sambil membawa gulungan peta holografik di satu tangan. Relic Rune Axe-nya tidak dibawa, tetapi sosoknya tetap cukup besar untuk membuat beberapa anggota guild secara refleks menyingkir dari jalur.

 

“ECLIPSE VANGUARD!”

 

Shion menutup sebelah telinganya.

 

“Kami berada lima meter darimu.”

 

“Bagus! Berarti kalian mendengar!”

 

Kaelenya menutup panel inventory.

 

“Kami sudah siap.”


Big Jack melihat Grakthor yang masih makan.

 

“Semuanya?”

 

Grakthor mengangkat piringnya.

 

“Persiapan terakhir!”

 

“Lo bilang begitu tiga porsi lalu.”

 

Big Jack menggeser peta holografik ke atas meja.

 

Proyeksi Verth Ruins muncul di antara piring, gelas, dan remah roti. Jalur utama ditandai dengan garis hijau, sementara beberapa area samping berkedip dalam warna abu-abu.

 

“Briefing terakhir,” katanya. “Gerbang selatan. Jalur utama. Jangan cari jalan pintas. Quest kalian cuma membersihkan Hollow Demon Spawn dan mencapai Ruins Core Chamber.”

 

Grakthor menunjuk bagian tengah peta dengan potongan daging.

 

“Boss-nya di sini?”

 

Kaelenya menurunkan tangannya.

 

“Jangan menunjuk peta taktis dengan sarapan.”

 

“Kenapa? Lebih akurat.”

 

Noda saus jatuh menembus hologram.

 

Tidak meninggalkan bekas.

 

Grakthor mengangguk puas.

 

“Lihat?”

 

Kaelenya menutup mata sebentar.

 

Shion menduga ia sedang berdoa untuk kesabaran.

 

Atau mempertimbangkan pembunuhan.

 

Big Jack menunjuk jalur masuk.

 

“Formasi perjalanan bebas selama jalurnya aman. Begitu kalian mendekati area spawn, Grakthor ambil depan. Kaelenya cari posisi dengan garis bidik bersih. Sylphine tetap di dalam jangkauan shield dan jangan keluarkan mana berlebihan sebelum pola musuh terbaca.”

 

Tatapannya terakhir berhenti pada Shion.

 

“Lo bergerak di sisi formasi. Jangan mengejar target keluar jalur hanya karena kelihatannya lemah.”

 

Shion mengangkat alis.

 

“Kenapa instruksiku terdengar paling spesifik?”

 

“Insting ketua guild.”

 

Rugg menyela tanpa melihat dari gelas yang sedang dibersihkannya.

 

“Dan bukti latihan semalam.”

 

“Aku hanya mengejar target dua kali.”

 

Kaelenya memandangnya.

 

“Empat.”

 

“Dua di antaranya bersifat taktis.”

 

“Dua di antaranya membuatmu berada di luar radius barrier.”

Shion diam sesaat.

 

“Aku menghargai caramu menyimpan statistik tentang kegagalanku.”

 

“Sama-sama.”

 

Big Jack mengetuk bagian utara peta.

 

Layer abu-abu berkedip.

 

Untuk sepersekian detik, tulisan muncul.

 

[NOCTIS VERTH LABYRINTH]

 

Lalu pecah menjadi noise.

 

Big Jack menatap mereka satu per satu.

 

“Jangan masuk ke area utara.”

 

Nada suaranya tidak lagi membawa humor.

 

“Kalau peta berubah, kalian kembali ke jalur terakhir yang bisa dipastikan. Kalau sistem menampilkan objective baru, jangan langsung diterima. Kalau ada sesuatu yang tidak cocok dengan data quest, berhenti dan evaluasi.”

 

Lihat selengkapnya