Verth Ruins menelan suara langkah mereka.
Begitu Eclipse Vanguard melewati gerbang selatan, dunia di belakang mereka seolah terputus.
Suara angin dari lembah menghilang.
Jejak cahaya dari Aetherion Prime tidak lagi terlihat.
Bahkan musik latar NIRVANA yang biasanya mengalun dari sumber tak kasatmata perlahan meredup, menyisakan bunyi armor, napas, dan gesekan sepatu pada lantai batu.
Panel quest tetap menyala di sudut pandangan mereka.
[QUEST: VERTH RUINS EXPEDITION]
Primary Objective: Clear 30 Hollow Demon Spawn
Progress: 0/30
Secondary Objective: Locate Ruins Core Chamber
Optional Objective: Defeat Ruins Guardian
Recommended Party: 4 Players
Area Risk: Low
Shion menatap baris terakhir itu.
Low.
Satu kata yang sederhana.
Satu kata yang seharusnya menenangkan.
Namun Silent Forest juga pernah terlihat seperti area yang masih dapat dijelaskan oleh panel sistem—sampai Fragment Duskmaw muncul dan semua penilaian sebelumnya kehilangan arti.
Shion menggeser pandangannya dari HUD.
Grakthor berjalan paling depan.
Shield besarnya telah berada di tangan kiri, sementara pentungan berlapis besi tergantung siap di tangan kanan. Cahaya biru mengalir di sepanjang tepi shield, menandakan equipment defensifnya telah aktif.
Kaelenya bergerak beberapa langkah di belakangnya, sedikit ke kiri.
Busurnya sudah berada di tangan. Sebuah anak panah data tersusun di atas tali, belum ditarik penuh, tetapi siap dilepaskan begitu sesuatu memasuki pandangannya.
Sylphine berada di belakang Grakthor.
Tongkat kecilnya memancarkan glyph tipis yang berputar di sekitar kristal biru pucat. Matanya terus mengamati dinding, lantai, dan langit-langit yang retak.
Shion mengambil sisi kanan formasi.
Scythe basic model digenggam dengan kedua sayapnya. Bilahnya memantulkan cahaya rune dalam warna biru kehijauan.
[FORMATION ACTIVE]
Frontline Anchor: Grakthor Brune
Rear Line: Kaelenya Veyra / Sylphine Aria
Mobile Control: Shion
[PARTY STATUS]
Stable
Shion membaca panel tersebut sekilas.
Stable.
Setelah latihan malam sebelumnya, panel itu bukan sepenuhnya salah.
Namun satu malam latihan juga belum cukup untuk menjadikan mereka party yang benar-benar saling memahami.
Grakthor berhenti di persimpangan pertama.
“Kiri atau kanan?”
Kaelenya membuka peta quest.
Garis hijau menunjuk ke lorong kiri.
“Kiri. Jalur kanan tidak terhubung dengan objective.”
Grakthor menatap lorong kanan.
Lorong itu lebih gelap, dipenuhi akar digital yang menggantung dari langit-langit.
“Mungkin ada peti.”
“Mungkin ada jebakan,” jawab Kaelenya.
“Bisa jadi keduanya.”
Shion menatap Grakthor.
“Keinginanmu untuk mati demi peti sangat menginspirasi.”
“Bukan mati. Eksplorasi.”
“Sering kali perbedaannya hanya terletak pada siapa yang menulis laporannya.”
Sylphine menutup mulutnya, menahan tawa kecil.
Sebuah bunga holografik muncul di atas ujung tongkatnya.
Kaelenya meliriknya.
“Kau sudah mulai?”
Sylphine segera menggoyangkan tongkat.
Bunga itu pecah menjadi partikel.
“Itu tidak sengaja…”
Grakthor mengangkat jempol.
“Pemanasan strategi bunga.”
Wajah Sylphine memerah.
Shion menyesuaikan posisi scythe di tangannya.
“Jalur kiri sebelum Grakthor menemukan filosofi baru tentang peti.”
Mereka melanjutkan perjalanan.
Lorong kiri membuka jalan menuju sebuah plaza luas yang dikelilingi bangunan tanpa atap. Pilar-pilar batu patah berdiri di kedua sisinya, sebagian dililit akar bercahaya, sementara sebagian lainnya berkedip seperti berada di antara dua bentuk yang berbeda.
Lantai mozaiknya retak.
Di bawah retakan, aliran data biru bergerak seperti sungai cahaya jauh di dalam tanah.
Sebuah tangga berhenti di udara.
Potongan balkon melayang tanpa dinding yang menopangnya.
Pecahan patung berputar perlahan, mencoba menyusun dirinya sendiri sebelum kembali terurai.
Sylphine berhenti.
“Tempat ini…”
Ia memperhatikan kepala patung yang terus terbentuk lalu pecah.
“…seperti sedang berusaha mengingat bentuk lamanya.”
Kaelenya menatap salah satu pilar yang berkedip.
“Atau lupa bagaimana mempertahankannya.”
Grakthor menepuk shield-nya.
“Selama tidak ada yang jatuh ke kepala kita, aku tidak keberatan.”
Sebuah pecahan batu kecil terlepas dari pilar di sampingnya.
Tok.
Batu itu jatuh tepat di atas helm Grakthor.
Hening.
Shion menatapnya.
“Verth sepertinya mendengar tantanganmu.”
Grakthor mengambil batu tersebut dari kepalanya.
“Itu bukan serangan.”
“Lalu?”
“Sapaan.”
Kaelenya menghela napas.
“Kalau seluruh bangunan menyapamu sekaligus, kami tidak ikut bertanggung jawab.”
“Kalian tidak boleh meninggalkanku. Aturan guild.”
Grakthor menyeringai lebar.
“Aku kebal terhadap konsekuensi.”
“Kemampuan paling berbahaya di party ini,” gumam Shion.
Sylphine mengangkat tongkatnya.
“Aku akan melakukan scan sebelum kita bergerak lebih jauh.”
Glyph biru terbuka di udara.
Beberapa lingkaran rune bergerak ke luar, menyapu plaza, bangunan, dan retakan pada lantai.
[AREA SCAN]
Mana Flow: Stable
Residual Noise: 4%
Anomaly Trace: Pending
Data Integrity: 98%
Sylphine membaca hasilnya.
“Aliran mana stabil.”
Shion menunjuk salah satu field.
“Anomaly Trace masih pending.”
“Scan pertama pada struktur tua memang membutuhkan waktu,” kata Kaelenya.
“Dan residual noise?”
Sylphine memperhatikan angka tersebut.
“Empat persen masih rendah. Bisa berasal dari kerusakan struktur atau data lama yang belum dibersihkan.”
Shion mengamati retakan pada mozaik.
“Jadi belum ada masalah.”
“Belum ada masalah yang terbaca,” koreksi Kaelenya.
Shion meliriknya.
“Aku menyukai perkembangan cara berpikirmu.”
“Aku hanya mencegahmu mengatakannya lebih dulu.”
Suara goresan muncul dari bangunan di sisi timur.
Grakthor segera memindahkan shield ke depan.
Kaelenya menarik tali busurnya.
Sylphine mundur setengah langkah ke dalam jangkauan perlindungan Grakthor.
Shion menurunkan pusat tubuhnya dan mengarahkan scythe ke lorong gelap.
Satu sosok kecil merangkak keluar dari balik dinding.
Tubuhnya kurus dan berwarna kelabu gelap. Telinganya panjang, matanya merah, dan sebilah tulang pendek digenggam seperti pisau.
Sosok kedua muncul.
Lalu ketiga.
Keempat.
Panel identifikasi terbuka.
[MOB SCAN]
Hollow Imp
Lv. 12
Category: Hollow Demon Spawn
Behavior: Aggressive / Pack Movement
Local Risk: Low
Sepuluh Hollow Imp keluar dari bangunan-bangunan di sekitar plaza.
Beberapa berdiri membungkuk dengan tulang tajam di tangan. Yang lain berlari menggunakan tangan dan kaki, tubuh mereka bergerak patah-patah seperti kehilangan beberapa frame animasi.
Grakthor menurunkan pusat gravitasinya.
“Akhirnya.”
Kaelenya mengangkat busur.
“Jangan maju. Biarkan mereka masuk ke jangkauan kita.”
Grakthor menepuk shield-nya.
“Aku tidak maju.”
Ia menyeringai.
“Mereka yang datang kepadaku.”
Hollow Imp pertama melompat.
Senjata tulangnya menghantam shield Grakthor.
DANG!
Cahaya biru menyebar dari titik benturan.
Grakthor tidak bergeser satu langkah pun.
Imp kedua menyerang dari sisi kanannya.
Grakthor memutar shield, menahan serangan itu, lalu mendorong permukaannya ke depan.
Makhluk tersebut terlempar ke tengah plaza.
“Shion!”
Shion sudah bergerak.
Tubuh kecilnya meluncur keluar dari sisi kanan formasi. Scythe berputar membentuk lengkung biru kehijauan.
“Phantom Arc!”
Riak energi menghantam Hollow Imp yang terlempar.
Tubuhnya pecah menjadi partikel cahaya.
Gelombang yang sama mengenai makhluk kedua di belakangnya dan mengurangi sebagian besar HP-nya.
Anak panah Kaelenya melesat.
Ssst!
Proyektil ungu menembus inti merah pada dada Hollow Imp tersebut.
Intinya pecah.
Makhluk itu lenyap sebelum menyentuh lantai.
Tiga Hollow Imp datang dari sisi kiri.
Kaelenya mengubah posisi kakinya dan menarik tali busur.
Tiga anak panah data tersusun sekaligus.
Ia melepaskannya.
Anak panah pertama menembus kepala target terdekat.
Anak panah kedua menghantam lutut target berikutnya.
Anak panah ketiga menyentuh tepi pilar, memantul, lalu menembus leher Hollow Imp yang mencoba bersembunyi di belakangnya.
Shion meliriknya.
“Kau menghitung sudut pantulannya?”
Kaelenya sudah membentuk anak panah berikutnya.
“Kau ingin membicarakan matematika sekarang?”
“Tidak terlalu.”
Dua Hollow Imp memanjat dinding.
Mereka bergerak melewati garis depan dari atas, kemudian melompat menuju Sylphine.
Sylphine mengangkat tongkatnya.
Tangannya bergetar.
Ujung glyph pertama hampir bergeser.
Ia menarik napas.
Mengingat latihan.
Menjaga pusat rune.
Menutup sudut ketiga.
Tidak mengikuti rasa panik.
“Barrier!”
Glyph biru terbentuk sempurna di hadapannya.