Kabut tipis merayap di lorong reruntuhan.
Tidak sepekat saat Battle Wave 6 dimulai, tapi cukup untuk membuat dinding batu Verth tampak lebih jauh daripada seharusnya. Rune biru yang retak di sepanjang lorong berdenyut pelan, memantulkan cahaya lemah ke lantai mosaik yang pecah.
Di salah satu sudut yang tampak paling aman, Eclipse Vanguard akhirnya berhenti.
Tidak ada yang menyebutnya istirahat.
Kata itu terasa terlalu mewah.
Mereka hanya menemukan ruang kecil di antara dua pilar runtuh, cukup jauh dari jalur utama, cukup tertutup oleh akar digital, dan cukup hangat setelah Sylphine membuat api unggun holografik kecil di tengahnya.
Api itu bukan api sungguhan.
Tidak membakar kayu.
Tidak menghasilkan asap.
Tapi panasnya terasa nyata di kulit avatar mereka.
Dan malam itu, tidak ada yang memprotes keanehan tersebut.
Shion duduk di dekat api, scythe bersandar di bahunya. Armor tipisnya retak di beberapa bagian, garis neon biru di tubuh pinguinnya berkedip seperti napas yang belum stabil.
Di sudut pandangnya, panel status terbuka.
[STATUS BOARD]
Time: 11:47 PM
Zone Integrity: 92%
Ruins Exit Gate: LOCKED
Ia menatap baris terakhir cukup lama.
LOCKED.
Satu kata.
Sederhana.
Dingin.
Seperti cara sistem berkata bahwa mereka belum diizinkan pulang.
Shion menutup panel perlahan.
“Jadi benar,” gumamnya. “Satu-satunya jalan keluar adalah menyelesaikan dungeon ini.”
Kaelenya berdiri di dekat mulut lorong, busur holografiknya bersandar di bahu. Matanya menatap kegelapan di luar area api, tajam dan tidak sepenuhnya tenang.
“Aku ambil giliran jaga pertama,” katanya.
Grakthor, yang duduk bersila di dekat api, mengangkat kepala.
“Sendirian?”
Kaelenya menoleh sedikit.
“Kau baru saja keluar dari state evolusi Ravager Orc. Shion juga hampir kehabisan stamina. Sylphine hampir kosong mana-nya.”
“Aku masih bisa berdiri.”
“Dan itulah alasan kau harus duduk.”
Grakthor membuka mulut.
Lalu menutupnya.
“Argumen diterima.”
Kaelenya mengangguk, lalu berjalan beberapa langkah ke depan, berhenti di batas cahaya api. Siluetnya berdiri di antara hangatnya perapian dan gelapnya lorong, seperti garis tipis antara aman dan belum.
Untuk beberapa saat, hanya suara api holografik yang terdengar.
Lalu Grakthor tertawa pelan.
Tidak keras seperti biasa.
Lebih rendah.
Lebih lelah.
“HAHA… Ravager Orc.”
Ia menatap tangannya sendiri.
Kulitnya sudah kembali hijau gelap. Tanduk crimson besar yang muncul beberapa menit lalu telah hilang, menyisakan rasa kosong yang aneh di kepalanya. Armor lamanya kembali membungkus tubuhnya, tapi retakannya lebih banyak dari sebelumnya.
“Kedengarannya keren, kan?”
Shion meliriknya.
“Kedengarannya seperti state evolusi yang seharusnya tidak kau pakai di quest easy.”
Grakthor tertawa lagi.
“Benar juga.”
Ia menatap Sylphine.
Fairy kecil itu duduk di sisi lain api, Moonlight Staff terbaring di pangkuannya. Cahaya di ujung tongkatnya redup, hampir padam. Wajahnya pucat. Sayap transparannya tidak lagi berkilau secerah saat pagi.
Grakthor tersenyum lebar.
“Tapi semua itu gara-gara kamu, Glyphcaster kecil.”
Sylphine menunduk.
“Jangan bilang begitu…”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak tahu apakah itu hal baik.”
Hening turun.
Shion menoleh padanya.
Sylphine menggenggam tongkatnya lebih erat.
“Mana Covenant… mengunci mana dan skill-mu selama delapan jam. Kamu tidak bisa memakai skill apa pun. Kalau ada wave lain sebelum efeknya selesai, kamu hanya bisa basic attack.”
Grakthor mengangkat bahu.
“Aku masih punya tangan.”
“Itu bukan jawaban.”
“Aku juga punya kepala keras.”
“Itu juga bukan jawaban.”
Shion menghela napas.
“Sayangnya, itu jawaban Grakthor.”
Grakthor menunjuk Shion.
“Lihat? Dia mengerti.”
“Aku tidak bilang setuju.”
Sylphine tidak tertawa.
Ia menatap api holografik, matanya bergetar oleh cahaya biru.
“Aku takut tadi,” katanya pelan. “Bukan cuma takut gagal. Aku takut… skill-ku merusakmu.”
Grakthor tidak langsung menjawab.
Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya benar-benar serius.
Sylphine melanjutkan, suaranya hampir seperti bisikan.
“Aku tidak tahu kenapa aku punya skill seperti itu. Aku tidak tahu kenapa sistem memberiku sesuatu yang bisa membuka state evolusi rasial player lain. Aku bahkan tidak tahu batasnya.”
Shion menatapnya diam-diam.
Kalimat itu membuat rasa dingin menjalar di punggungnya.
Bukan karena Sylphine terdengar lemah.
Justru sebaliknya.
Skill yang tidak ia pahami sendiri—kemampuan yang bahkan membuat Kaelenya terkejut—berada di tangan seseorang yang masih takut menyakiti temannya.
Itu bukan kelemahan.
Itu sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Dan mungkin jauh lebih berharga.
Kaelenya, dari mulut lorong, berkata tanpa menoleh.
“Rasa takut itu wajar.”
Sylphine mengangkat wajah.
Kaelenya tetap menatap kegelapan.
“Skill yang bisa menyentuh evolusi rasial player lain bukan sesuatu yang umum. Kalau kamu tidak takut, justru itu lebih mengkhawatirkan.”
Sylphine terdiam.
Grakthor tersenyum kecil.
“Lihat? Bahkan Kaelenya bilang kau hebat.”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Kau bilang dengan cara yang rumit.”
Kaelenya menghela napas.
“Anggap saja begitu kalau membuatmu lebih mudah tidur.”
Shion menatap Sylphine.
“Kamu menyelamatkan kita.”
Sylphine menoleh padanya.
Shion melanjutkan, suaranya datar tapi tidak dingin.