Pagi tidak benar-benar datang di bawah Verth Ruins.
Tidak ada matahari yang menyelinap masuk melalui jendela. Tidak ada langit biru. Tidak ada suara kota yang perlahan bangun. Hanya rune biru pucat di dinding yang sedikit lebih terang daripada malam sebelumnya, seolah dungeon ini meniru konsep pagi tanpa mengerti maknanya.
Shion membuka mata lebih dulu.
Ia duduk dekat sisa api holografik yang sudah mengecil menjadi bara cahaya. Scythe-nya masih berada dalam jangkauan sayap. Di seberang api, Grakthor tidur bersandar pada dinding, shield retak di sampingnya. Sylphine meringkuk dengan Moonlight Staff dipeluk erat, wajahnya masih pucat tapi lebih tenang daripada malam sebelumnya.
Kaelenya berdiri di mulut lorong.
Masih berjaga.
Shion menatapnya lama.
“Kau tidur?”
“Sedikit.”
“Definisi sedikit?”
Kaelenya menoleh, senyum tipis muncul.
“Cukup untuk berbohong bahwa aku sudah tidur.”
“Jujur sekali.”
“Aku sedang malas membuat kebohongan yang bagus.”
Shion berdiri pelan, tubuhnya masih terasa berat. Efek lelah dari battle sebelumnya belum hilang sepenuhnya. Bukan damage besar, tapi rasa aus, seolah setiap serangan Wave 6 meninggalkan retakan kecil pada stamina mereka.
Panel status muncul.
[STATUS BOARD]
Time: 05:58 AM
Zone Integrity: 90%
Ruins Exit Gate: LOCKED
Anomaly Scan: Pending
Shion menatap angka itu.
Masih 90%.
Tidak membaik.
Tidak memburuk.
Terlalu stabil untuk terasa menenangkan.
“Gate masih terkunci,” katanya.
Kaelenya mengangguk.
“Berarti core chamber masih menunggu.”
Di dekat api, Grakthor menggeliat lalu membuka mata.
“Core chamber boleh menunggu sebentar lagi. Aku lapar.”
Shion menoleh.
“Selamat pagi juga.”
Grakthor duduk tegak, memutar bahu. Suara tulang dan armor terdengar bersamaan.
Ia membuka panel statusnya.
Beberapa detik kemudian, wajahnya langsung cerah.
“HAHA!”
Sylphine tersentak bangun.
“A-apa?! Musuh?!”
Grakthor mengangkat kedua tangan.
“Bukan! Skill gue balik!”
Panel kecil terbuka di depan mereka.
[STATUS RECOVERY]
Mana Lock: Released
Skill Access: Restored
Sylphine menatap panel itu, lalu menghela napas panjang. Bahunya yang tegang akhirnya turun.
“Syukurlah…”
Grakthor menyeringai.
“Lihat? Delapan jam bukan apa-apa.”
Kaelenya meliriknya.
“Kau tidur hampir tujuh jam dari delapan jam itu.”
“Itu strategi recovery.”
Shion mengambil scythe-nya.
“Untuk sekali ini, strateginya masuk akal.”
Grakthor berdiri, mengambil shield retaknya. Ia memutar bahu sekali lagi, lalu menepuk dadanya.
“Sekarang waktunya pesta.”
Sylphine menatapnya dengan ekspresi khawatir.
“Jangan terlalu memaksakan diri.”
Grakthor berhenti.
Biasanya ia akan tertawa dan mengatakan sesuatu yang terlalu keras.
Kali ini, ia hanya mengangguk.
“Aku tahu.”
Sylphine tampak sedikit terkejut.
Grakthor tersenyum lebar.
“Aku akan berdiri di depan, tapi aku akan menoleh ke belakang. Janji.”
Kalimat itu membuat Shion mengingat Big Jack.
Jangan lupa menoleh ke belakang.
Sylphine tersenyum kecil.
“Baik.”
Kaelenya menutup panel peta.
“Kita bergerak. Formasi sama, tapi lebih konservatif. Grakthor tetap menjadi anchor di garis depan. Jangan terlalu jauh maju. Sylphine, pertahankan jalur glyph-mu dan lakukan scan pendek setiap dua menit. Shion, simpan Echo Bind untuk target yang mencoba flank atau menunjukkan pola berbeda.”
Shion mengangkat scythe.
“Dan kau?”
Kaelenya menarik busurnya.
“Aku akan menjaga jarak tembak dan menembak apa pun yang terlihat terlalu pintar.”
“Standar bagus.”
Mereka meninggalkan titik istirahat.
Api holografik padam di belakang mereka.
Dan begitu cahaya itu hilang, sudut kecil yang semalam terasa hampir aman kembali menjadi bagian dari Verth Ruins.
Dingin.
Retak.
Menunggu.
Lorong menuju bagian bawah reruntuhan tampak berbeda dari malam sebelumnya.
Tidak secara drastis.
Itulah yang membuatnya lebih mengganggu.
Akar digital yang kemarin menjalar di sisi kanan kini melengkung dari langit-langit. Rune yang sebelumnya pecah kini menyala utuh, tapi dengan pola berbeda. Di beberapa tempat, dinding tampak seperti diganti oleh layer data baru yang belum sepenuhnya cocok dengan batu di sekitarnya.
Shion menatap salah satu ukiran.
Lingkaran gelap.
Garis gerhana.
Sama seperti sebelumnya.
Tapi retaknya berbeda.
“Dungeon ini menyusun ulang dirinya,” katanya.
Kaelenya mengangguk.
“Tidak banyak. Tapi cukup.”
Sylphine mengangkat Moonlight Staff.
“Mana Scan.”
Lingkaran biru tipis menyebar.
Panel muncul.
[AREA SCAN]
Mana Flow: Unstable
Residual Noise: 24%
Anomaly Trace: Confirmed
Zone Integrity: 89%
Shion menatap angka itu.
“Turun lagi.”
“Perlahan,” kata Kaelenya. “Tapi konsisten.”
Sylphine belum menurunkan tongkatnya.
Cahaya pada ujung Moonlight Staff bergetar.
Sangat kecil.
Hampir tidak terlihat.
Sylphine mengerutkan kening.
“Tunggu.”
Kaelenya menoleh.
“Apa?”
Sylphine menggerakkan tongkatnya ke arah dinding.
Lingkaran Mana Scan menyapu akar digital, rune yang berubah, lalu menghilang ke dalam kabut lorong.
Panel yang tadi terbuka berkedip sekali.
[TRACE ANALYSIS]
Foreign Energy Residue: Detected
Source Classification: Unresolved
Behavioral Contamination: Possible
Shion menatap panel itu.
“Behavioral contamination?”
“Entahlah,” jawab Sylphine. “Energinya sudah bercampur dengan struktur dungeon. Aku tidak bisa membaca sumbernya.”
“Bisa berasal dari Misha?” tanya Kaelenya.
Sylphine menggigit bibir bawahnya.
“Mungkin.”
Grakthor mengangkat shield.
“Kalau zone ini mau runtuh, sebaiknya tunggu kita keluar dulu.”
“Coba negosiasikan dengan dinding,” kata Shion.
Grakthor menoleh ke dinding.
“Hei, dinding. Tahan dulu.”
Hening.
Tidak ada respons.
Grakthor mengangguk serius.
“Dia setuju.”
Kaelenya menutup mata sebentar.
“Aku tidak tahu kenapa itu hampir membuatku tertawa.”
Sylphine benar-benar tertawa kecil.
Shion menatap Grakthor.
“Kalau dinding mulai bicara balik, aku menyalahkanmu.”
Mereka terus berjalan.
Humor kecil itu membantu.
Sedikit.
Tapi tidak cukup untuk menghapus rasa bahwa lorong di depan mereka semakin sempit, semakin panjang, dan semakin tidak ingin membiarkan mereka lewat.
Wave berikutnya muncul tanpa warning besar.
Hanya suara denting armor.
Lalu mata merah.
Armored Imp keluar dari kabut di ujung lorong, lebih sedikit daripada Wave 6, tapi lebih teratur. Mereka membawa shield kecil di depan, sementara beberapa di belakang memegang tombak tulang yang lebih panjang.
Kaelenya langsung mengangkat busur.
“Formasi?”