Kabut di lorong Verth Ruins menebal seperti tirai perang.
Di depan Eclipse Vanguard, puluhan Armored Imp berdiri dalam formasi sempurna. Shield di depan. Tombak di belakang. Mata merah mereka menyala seragam, bukan seperti kawanan monster, tapi seperti pasukan yang menunggu satu perintah.
Dan di tengah mereka, Melcoris berdiri.
Lebih kecil dari Grakthor.
Jauh lebih kecil.
Namun aura yang memancar darinya membuat seluruh lorong terasa menyempit.
Armor hitamnya berkilat dalam cahaya rune yang redup, bukan kasar seperti Armored Imp lain, melainkan tersusun rapi, hampir seperti armor ksatria yang ditempa dari tulang dan kutukan. Di punggungnya, sebilah pedang besar tergantung miring. Ukurannya terlalu besar untuk tubuhnya, tapi cara Melcoris berdiri membuat senjata itu tampak bukan beban.
Melainkan janji.
Panel identifikasi masih menggantung di udara.
[IDENTIFIED]
[ENTITY: Melcoris]
Class: Misha
Origin: Armored Imp Mutation
Threat Level: Critical
State: Forced Evolution
Exposure Trace: Misha Abnormal
Melcoris memiringkan kepala.
Suaranya keluar dari balik helm hitam, berat dan jelas.
“Kalian sudah kalah jumlah.”
Ia mengangkat satu tangan.
Barisan Armored Imp di belakangnya menurunkan tombak serentak.
“Kenapa tidak menyerah saja… dan menjadi santapanku?”
Tawa rendah menyebar dari pasukan imp.
Bukan tawa liar.
Bukan lengkingan Hollow Imp.
Tawa yang sudah belajar mengejek.
Sylphine mundur setengah langkah.
Kaelenya menarik busur lebih dalam.
“Dia bicara seperti player.”
Shion menggenggam scythe.
“Dan itu membuatku jauh lebih tidak suka.”
Kaelenya membuka panel analisis, datanya berkedip cepat.
“Misha tidak bekerja seperti mob biasa. Kalau Big Jack benar, mereka punya growth system sendiri. EXP, level, skill, bahkan equipment adaptation.”
Grakthor menatap Melcoris.
“Jadi dia membunuh, tumbuh, lalu memakai hasilnya.”
Kaelenya mengangguk pelan.
“Seperti kita.”
Hening kecil turun.
Kalimat itu terlalu tidak nyaman untuk langsung dijawab.
Melcoris tertawa.
“Memahami mangsa tidak membuat kalian lebih aman.”
Ia mengangkat pedangnya dari punggung.
Bilah besar itu memancarkan cahaya emas kusam, kontras dengan armor hitamnya. Rune merah di lorong bergetar saat pedang itu menyentuh udara.
Shion menyipitkan mata.
Emas.
Bukan merah.
Bukan warna Verth.
Bukan warna Armored Imp.
Kaelenya melihatnya juga.
“Aura itu…”
Tidak ada waktu untuk menyelesaikan kalimat.
Melcoris menurunkan pedang.
“Majulah.”
Armored Imp menyerbu.
Benturan pertama menghantam seperti gelombang.
Grakthor menahan garis depan dengan shield, tapi kali ini bukan hanya satu atau dua imp. Barisan shield musuh mendorong bersamaan, sementara tombak dari belakang menusuk lewat celah.
CLANG.
CLANG.
CLANG.
Setiap serangan membuat Grakthor mundur setengah langkah.
Shion bergerak di sisi kanan.
“Echo Bind!”
Tether biru melilit satu Armored Imp yang mencoba flank. Kaelenya langsung menembak celah helmnya.
Target pecah.
Tapi musuh berikutnya sudah menggantikan posisinya.
Sylphine membuat barrier pendek di belakang Grakthor, mencegah tombak menembus garis pertahanan. Cahaya barrier-nya stabil, lebih baik dari sebelumnya, tapi retak setiap kali dihantam.
“Jumlah mereka terlalu banyak,” kata Sylphine, napasnya mulai berat.
Kaelenya menembak tiga panah berturut-turut.
“Mereka menjaga formasi. Kalau kita tidak memecah commander-nya, wave ini tidak akan selesai.”
Shion menatap Melcoris.
Misha itu belum bergerak.
Ia hanya berdiri di belakang pasukannya, pedang besar menempel di bahu, mengamati.
Seperti sedang membaca tempo mereka.
“Dia menunggu kita lelah,” kata Shion.
Grakthor menahan serangan lain, lalu menyeringai.
“Kalau begitu, kita kasih dia lawan yang tidak tahu cara menunggu.”
Kaelenya langsung menoleh.
“Grakthor.”
“Aku maju.”
Sylphine membeku.
“Tidak.”
Grakthor meliriknya.
“Sylphine…”
“Tidak.” Suaranya lebih keras kali ini. “Kamu baru saja memakai Ravager Orc semalam. Tubuhmu masih belum stabil. Kalau aku pakai Mana Covenant lagi, aku tidak tahu apa yang akan terjadi.”
Sebuah tombak hampir menembus celah shield.
Shion memotongnya dengan Phantom Arc.
“Bicara sambil bertahan,” katanya.
Kaelenya menatap Grakthor.
“Kalau kau berubah lagi, tubuhmu bisa pecah dari dalam.”
Grakthor tertawa.
Tidak keras.
Tidak ringan.
“Kalau aku tidak berubah, kita pecah dari luar.”
Sylphine menggenggam Moonlight Staff sampai jarinya memutih.
“Jangan bercanda…”
“Aku tidak bercanda.”
Grakthor menatap Melcoris.
“Commander itu harus ditahan. Kalau dia tetap mengatur wave, kita habis. Satu orang harus menariknya keluar dari formasi.”
Shion tahu Grakthor benar.
Itu yang membuatnya lebih buruk.
Kaelenya menggertakkan gigi.
“Kalau kau jatuh, garis depan runtuh.”
“Kalau aku tidak maju, garis depan juga runtuh.”
Melcoris seolah mendengar percakapan itu.
Ia tertawa pelan.
“Benar. Pilihlah siapa yang akan mati lebih dulu.”
Grakthor menatap Sylphine.
Senyumnya muncul.
Hangat.
Bodoh.
Terlalu berani.
“Caster kecil.”
Sylphine menggeleng.
“Jangan minta aku melakukan itu lagi…”
“Aku minta.”
Air mata mulai berkumpul di mata Sylphine.
“Kenapa selalu kamu yang harus berdiri di depan?”
Grakthor mengangkat shield retaknya.
“Karena aku bisa.”
“Bukan berarti kamu harus!”
Hening sejenak.
Bahkan di tengah benturan senjata, kata-kata Sylphine terasa memotong lebih dalam.
Grakthor menatapnya lama.
Lalu berkata pelan.
“Benar.”
Sylphine terdiam.
“Aku tidak harus,” lanjut Grakthor. “Aku memilih.”
Shion menatap Grakthor.
Ada sesuatu yang berubah di mata orc itu.
Bukan keberanian bodoh.
Bukan keinginan mati.
Keputusan.
“Shion,” kata Grakthor.
“Ya?”
“Kalau aku tarik Melcoris, kalian bersihkan wave.”
Shion menggenggam scythe lebih erat.
“Kau yakin bisa menahannya lima menit?”
Grakthor tertawa.
“Aku tidak yakin.”
“Jawaban buruk.”
“Tapi aku akan tetap coba.”
Kaelenya menutup mata sejenak.
Lalu menarik napas.
“Jika kita lakukan ini, kita harus membuatnya cepat. Sylphine, gunakan Mana Covenant hanya pada Grakthor. Jangan tahan lebih lama dari batas sistem.”