Untuk beberapa detik, Shion tidak mendengar apa pun.
Bukan denting senjata.
Bukan napas Sylphine yang tercekat.
Bukan suara Kaelenya yang berteriak dari kejauhan.
Bukan bahkan sistem.
Hanya hening.
Hening yang datang terlalu cepat setelah sesuatu yang tidak boleh terjadi.
Di depan Shion, Grakthor berlutut dengan tombak merah menembus dadanya.
Shield-nya pecah di lantai.
Aura crimson dari Evolution State: Ravager Orc sudah padam sepenuhnya.
Tanduk raksasa yang tadi membuatnya tampak seperti legenda perang kini hanya tersisa sebagai serpihan cahaya merah yang memudar di udara.
Dan senyum Grakthor, senyum bodoh, besar, hangat itu, masih ada.
“Temanku…”
Suaranya pecah.
“Aku tepat waktu.”
Lalu tubuh besarnya mulai jatuh.
“Grakthor!”
Shion bergerak terlambat.
Terlalu terlambat.
Ia menangkap tubuh orc itu sebelum kepalanya menghantam lantai, tapi beban Grakthor membuat lutut kecil Shion hampir menyerah. Tubuh pinguinnya tidak dirancang untuk memeluk seseorang sebesar itu. Tidak dirancang untuk menopang teman yang sekarat.
Tidak dirancang untuk apa pun selain terlihat lucu di dunia yang terlalu kejam.
Darah digital mengalir dari luka di dada Grakthor, memantulkan cahaya biru dari rune yang retak di dinding.
Merah.
Biru.
Crimson.
Cyan.
Warna-warna itu bercampur di lantai Verth seperti lukisan yang salah.
Shion menatap tombak yang masih menembus dada Grakthor.
Tangannya bergetar.
Jangan cabut.
Itu satu-satunya pikiran yang masih bisa ia pegang.
Jangan cabut. Kalau dicabut, pendarahan akan lebih parah.
Lucu.
Di dunia digital, naluri tubuh nyata masih mencoba memberi aturan.
“Bertahan,” kata Shion.
Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.
“Grakthor, bertahan.”
Armored Imp yang menusuknya masih berdiri beberapa langkah di depan.
Matanya merah.
Tombaknya patah separuh.
Ia bergerak lagi.
Menuju Shion.
Sesuatu dalam diri Shion pecah.
Bukan keras.
Bukan besar.
Hanya satu retakan kecil yang cukup untuk membuat dunia menyempit menjadi satu target.
Scythe-nya berpendar biru kehijauan.
Shion meletakkan kepala Grakthor perlahan di pangkuannya, lalu meluncur ke depan.
“Phantom Arc.”
Tidak ada teriakan.
Tidak ada amarah yang indah.
Hanya suara dingin yang nyaris kosong.
Bilah scythe memotong udara.
Riak biru kehijauan menebas leher Armored Imp itu.
Kepalanya terlepas.
Tubuh kecil berarmor hitam itu pecah menjadi partikel cahaya sebelum sempat menyentuh lantai.
Shion tidak merasa lega.
Tidak merasa puas.
Ia hanya kembali ke sisi Grakthor.
Karena tidak ada kemenangan dalam membunuh sesuatu yang sudah terlambat dihentikan.
“Shion!”
Suara Kaelenya akhirnya menembus hening.
Shion menoleh.
Kaelenya dan Sylphine berusaha mendekat, tapi wave belum selesai. Beberapa Armored Imp tersisa masih menghalangi jalan mereka.
Panel sistem berkedip merah.
[Wave Remaining: 10%]
Sepuluh persen.
Angka yang seharusnya terdengar kecil.
Tapi malam itu, sepuluh persen terasa seperti dunia yang tidak tahu kapan harus berhenti menyiksa.
Kaelenya menggertakkan gigi.
Busurnya menyala ungu pekat.
“Jangan sentuh mereka.”
Panah pertama melesat.
Menembus celah helm Armored Imp.
Panah kedua mengikuti sebelum tubuh target pertama sempat pecah.
Lalu ketiga.
Keempat.
Setiap tarikan busur lebih cepat daripada sebelumnya. Tidak ada lagi elegansi tenang. Tidak ada lagi senyum miring. Kaelenya menembak seperti seseorang yang mencoba membunuh waktu itu sendiri.
Sylphine berada di belakangnya.
Air mata mengalir di wajahnya, tapi tangannya tetap mengangkat Moonlight Staff.
“Acceleration…”
Cahaya biru pucat membungkus tubuh Kaelenya, mempercepat gerakannya. Barrier kecil terbentuk di sisi kiri, menahan tombak yang hampir mengenai bahu elf itu. Sylphine tersedu, tapi mantranya tidak runtuh.
“Aku… aku masih bisa…”
Suaranya pecah.
“Aku masih bisa bantu…”
Kaelenya tidak menoleh.
“Bagus. Tetap bersamaku.”
Sylphine mengangguk sambil menangis.
Di sisi lain lorong, Shion tetap berlutut di samping Grakthor.
Ia bisa membantu menyelesaikan wave.
Ia tahu itu.
Tapi jika ia melepaskan Grakthor sekarang, jika ia berdiri dan meninggalkan tubuh besar itu di lantai dingin Verth—
Tidak.
Tidak kali ini.
Grakthor sudah berdiri di depan terlalu lama.
Sekarang giliran seseorang tetap berada di sisinya.
Grakthor batuk.
Darah digital keluar dari sudut mulutnya, pecah menjadi partikel merah sebelum jatuh.
Shion menunduk cepat.
“Jangan bicara.”
Grakthor tersenyum lemah.
“Kau… memberi perintah… pada orang sekarat?”
“Ya.”
“Ketua kecil.”
“Diam.”
Grakthor tertawa.
Atau mencoba tertawa.
Suara itu berubah menjadi napas berat yang membuat tubuhnya gemetar.
Shion menggenggam tangan besarnya dengan kedua sayap.
Ukuran mereka tidak sebanding.
Tangan Grakthor terlalu besar.