ORPHEUS: Cathedra Verum Saga Vol. 1

Jourdan Jonathan
Chapter #18

CHAPTER 17: Prelude to Oblivion

Nama Grakthor Brune menghilang dari party list.


Tidak meledak.


Tidak pecah dengan suara dramatis.



Tidak meninggalkan pesan terakhir dari sistem.

Hanya memudar.


Pelan.


Seolah dunia sedang menghapus tulisan di kaca yang basah oleh hujan.


[Eclipse Vanguard]

Shion

Kaelenya Veyra

Sylphine Aria


Tiga nama.


Bukan empat.


Shion menatap panel itu sampai matanya terasa sakit.


Lalu panel menghilang.


Dan setelah itu, tidak ada apa-apa yang berubah.


Verth Ruins tetap berdiri.


Rune biru tetap berdenyut di dinding yang retak.


Kabut tetap merayap di lantai.


Sistem tetap diam.


Itulah bagian paling kejam.


Dunia tidak runtuh ketika seseorang seperti Grakthor mati.


Ia hanya memberi ruang kosong, lalu meminta mereka melangkah melewatinya.


Di depan Shion, sisa tubuh Grakthor mulai pecah.


Retakan cahaya merambat dari luka di dadanya, menjalar ke armor, lengan, wajah, dan tangan besar yang beberapa detik lalu masih ia genggam. Cahaya biru neon bercampur dengan merah crimson yang redup, seperti bara terakhir dari bentuk Ravager Orc yang pernah membakar lorong ini.


Setiap retakan melebar.


Setiap serpihan naik ke udara.


Tubuh besar yang selalu berdiri paling depan itu kini menjadi partikel cahaya, melayang tanpa berat, terlalu indah untuk sesuatu yang begitu menyakitkan.


Shion tidak bergerak.


Kaelenya berdiri beberapa langkah di sampingnya, busur menggantung di tangan. Wajahnya tenang, tapi bukan tenang yang utuh. Lebih seperti topeng yang retak dari dalam dan dipaksa tetap menempel.


Sylphine berlutut di lantai.


Tangannya masih terulur ke ruang kosong tempat tangan Grakthor tadi berada.


Ia tidak menangis keras lagi.


Justru itu yang membuatnya lebih menyakitkan.


Tangis yang terlalu besar kadang tidak punya suara.


Satu partikel cahaya terakhir melayang di depan Shion.


Merah redup.


Hangat.


Seperti sisa tawa yang tidak sempat selesai.


Lalu hilang.


Lorong kembali sunyi.


Jika dunia ini punya musik, Shion merasa saat itu seharusnya bukan fanfare kemenangan. Bukan lagu heroik. Bukan denting level up.


Mungkin hanya sebuah himne pelan.


Nada minor yang terdengar seperti doa retak.


Seperti seseorang bernyanyi di reruntuhan gereja kosong, bukan untuk memanggil dewa, tapi untuk meminta maaf kepada orang yang sudah tidak bisa mendengar.


Shion menunduk.


Di lantai, pecahan shield Grakthor masih tertinggal.


Retak.


Hangus.


Tidak lagi berguna sebagai equipment.


Tapi Shion mengambil satu pecahan kecilnya.


Tidak ada panel item.


Tidak ada notifikasi.


Ia hanya mengambilnya.


Karena tidak semua hal yang penting perlu diakui sistem.


Kaelenya melihat gerakan itu.


Tidak berkata apa-apa.


Sylphine perlahan mengangkat wajah.


Matanya merah.


“Dia…”


Suaranya pecah sebelum kalimat selesai.


Shion menggenggam pecahan shield itu.


Kecil.


Terlalu kecil dibandingkan tubuh Grakthor.


Tapi cukup untuk melukai sayapnya jika ia menggenggam terlalu kuat.


“Ya,” kata Shion pelan.


Hanya itu.


Tidak ada kata yang lebih baik.


Tidak ada kalimat yang bisa memperbaiki kehilangan.


Panel sistem berkedip di sudut pandangnya.


[Zone Integrity: 82%]

[Ruins Exit Gate: LOCKED]

[Core Chamber Access: Pending]


Kaelenya menarik napas.


“Exit gate masih terkunci.”


Shion menutup mata sebentar.


Kalimat itu seharusnya terdengar dingin.


Mungkin memang dingin.


Tapi mereka semua tahu Kaelenya tidak sedang mengabaikan duka. Ia hanya menyebut kenyataan paling kejam: Verth tidak memberi mereka pilihan.


Sylphine menunduk lagi.


“Kita harus lanjut…”


Tidak ada yang menjawab.


Karena jika mereka menjawab terlalu cepat, itu terasa seperti meninggalkan Grakthor.


Jika mereka terlalu lama diam, mereka mungkin tidak akan pernah bisa bergerak.


Shion berdiri.


Tubuh pinguinnya kecil di lorong besar itu.


Scythe-nya terasa lebih berat daripada sebelumnya.


Ia memasukkan pecahan shield Grakthor ke dalam inventory manual, bukan melalui prompt sistem, melainkan dengan gerakan hati-hati seolah benda itu bisa pecah lagi.


Lalu ia mengangkat scythe ke bahunya.


“Kita lanjut.”


Suaranya pelan.


Tidak heroik.


Tidak penuh semangat.


Hanya suara seseorang yang terlalu terluka untuk berhenti.


Sylphine menatapnya.


Kaelenya menatap lorong depan.


Tidak ada yang berkata “baik”.


Tidak ada yang memberi pidato.


Mereka hanya mulai berjalan.


Karena kadang, melanjutkan langkah bukan tanda kuat.


Kadang itu hanya satu-satunya cara agar kehilangan tidak menjadi tempat terakhir seseorang berhenti.


Lorong Verth Ruins menurun semakin dalam.


Tangga melingkar muncul di balik pintu batu yang setengah runtuh. Anak tangganya sempit, retak, dan dipenuhi akar digital yang menjalar seperti urat mati. Rune di dinding tidak lagi berwarna biru cerah; warnanya berubah menjadi biru tua dengan pinggir ungu, seperti memar di bawah kulit dunia.


Lihat selengkapnya