ORPHEUS: Cathedra Verum Saga Vol. 1

Jourdan Jonathan
Chapter #19

CHAPTER 18: Elegy of the Death

Morveth berdiri di depan takhta hitamnya.


Aura ungu berpendar di sekeliling tubuhnya, merayap seperti kabut yang terlalu tua untuk disebut sihir. Pilar-pilar hitam di aula takhta memantulkan cahaya itu dalam garis-garis tipis, membuat seluruh ruangan tampak seperti makam yang masih bernapas.


Shion berdiri paling depan.


Bukan karena ia ingin.


Bukan karena ia paling kuat.


Tapi karena Grakthor sudah tidak ada.


Scythe di kedua sayapnya terasa lebih berat daripada sebelumnya. Di inventory-nya, pecahan shield Grakthor tidak memberi stat, tidak memberi buff, tidak memberi perlindungan apa pun.


Namun benda kecil itu terasa seperti sesuatu yang harus ia bawa.


Kaelenya berdiri di sisi kirinya, busur ditarik setengah. Wajahnya tenang, tapi ketenangan itu terlalu tajam, seperti kaca yang dipoles untuk menutupi retak.


Sylphine berdiri di belakang mereka, Moonlight Staff digenggam dengan kedua tangan. Cahaya biru di ujung tongkatnya bergetar kecil.


Morveth menatap mereka bertiga.


“Atas nama kehidupan,” katanya pelan, “kalian terus berjalan bahkan setelah salah satu dari kalian tertinggal di lorong.”


Tidak ada yang menjawab.


Morveth melangkah turun dari takhta.


Gerakannya anggun, hampir lembut, seolah ia bukan Lich Sovereign yang menunggu di inti dungeon, melainkan seorang bangsawan tua yang menyambut tamu di aula pemakaman.


“Apa menariknya menjadi hidup?” tanyanya. “Hidup terlalu banyak dibebani batasan. Moral. Perasaan. Tubuh yang menua. Ingatan yang membusuk. Hubungan yang mengikat kaki kalian tepat ketika kalian seharusnya berlari.”


Ia mengangkat satu tangan.


Partikel ungu berputar di antara jari-jari tulangnya.


“Kalian menyebutnya ikatan. Aku menyebutnya rantai.”


Sylphine menunduk.


Kata itu menyentuh sesuatu yang masih berdarah.


Morveth melihatnya.


“Peri kecil,” katanya. “Kau memeluk rasa bersalah seperti anak yang takut memecahkan sesuatu lagi.”


Sylphine membeku.


Shion melangkah setengah tubuh ke depan.


“Jangan bicara padanya.”


Morveth menoleh.


Mata putih keunguannya berhenti pada tubuh kecil Shion.


“Pelindung kecil yang kehilangan pelindungnya.”


Kata-kata itu tidak diteriakkan.


Tidak perlu.


Ia masuk seperti jarum.


Kaelenya menarik busurnya penuh.


“Cukup.”


Cahaya ungu berkumpul di anak panahnya, lalu berputar membentuk pusaran gelap. Udara di sekitar panah itu terbelah, menciptakan suara rendah seperti kain robek.


“Shadow Cyclone.”


Panah itu melesat.


Pusaran ungu membelah kabut, menghantam langsung ke kepala Morveth.


Tepat.


Sempurna.


Anak panah itu menancap di helm tengkoraknya.


Untuk satu detik, aula diam.


Lalu Morveth mengangkat tangan dan mencabut panah itu perlahan.


Tidak ada retakan.


Tidak ada luka.


Tidak ada damage number.


Ia memutar panah itu di antara jari tulangnya, seolah sedang menilai benda seni yang gagal membuatnya terkesan.


“Bidikan sempurna.”


Jarinya menekan shaft panah.


Cahaya ungu Kaelenya pecah menjadi debu.


“Jika aku masih hidup, mungkin itu akan berarti sesuatu.”


Kaelenya tidak bergerak.


Tapi rahangnya mengeras.


Shion melihatnya.


“State difference,” gumam Kaelenya.


Shion menatap Morveth.


“Bukan armor?”


“Bukan.”


“Bukan barrier?”


“Bukan.”


Morveth tersenyum.


“Hidup menyerang kematian seperti anak kecil memukul bayangan. Bentuknya benar. Arahnya benar. Namun tidak pernah cukup dalam.”


Shion bergerak sebelum Morveth menyelesaikan kalimat.


“Echo Bind.”


Garis data biru melesat dari scythe-nya, melilit jubah Morveth.


Atau seharusnya begitu.


Tether itu menyentuh aura ungu di sekitar tubuh Lich Sovereign, lalu bergetar seperti benang yang dicelupkan ke racun. Warna birunya berubah kusam dari ujung ke pangkal.


Lalu pecah.


Shion tidak berhenti.


“Phantom Arc.”


Bilah scythe berpendar biru kehijauan. Riak energi menyapu udara, melesat ke arah dada Morveth.


Morveth mengangkat satu jari.


Satu.


Riak Phantom Arc berhenti beberapa sentimeter dari ujung jarinya.


Denting kecil terdengar.


Seperti kaca tipis diketuk kuku.


Morveth memiringkan kepala.


“Seekor avatar kecil dengan scythe.”


Ia menatap Shion dari atas ke bawah.


“Simbol kematian dalam tubuh yang tidak mengundang takut. Ironis. Hampir indah.”


“Terima kasih,” kata Shion dingin. “Aku akan masukkan ke bio profil.”


Morveth menggerakkan jarinya.


Phantom Arc pecah.


Gelombang balik menghantam Shion, melempar tubuh kecilnya ke belakang. Ia berguling di lantai mosaik dan menancapkan ujung scythe untuk menghentikan laju.


“Shion!” teriak Sylphine.


“Aku baik.”


Bohong.


Dada avatarnya terasa seperti dipukul dari dalam.


Sylphine mengangkat Moonlight Staff.


“Barrier!”


Lingkaran cahaya biru terbentuk di depan Shion.


Namun sebelum barrier itu sempurna, aura ungu dari tongkat Morveth merambat di udara. Cahaya biru Sylphine retak, lalu pecah menjadi serpihan kecil.


Sylphine membelalak.


“Tidak…”


Ia mencoba lagi.


“Heal.”


Cahaya biru pucat keluar dari ujung staff menuju Shion. Kali ini cahaya itu mencapai armor Shion, tetapi efeknya lemah. Retakan kecil di armornya menutup sedikit, lalu berhenti.


Seolah magic Sylphine dipaksa bernapas di dalam air.


Morveth berjalan pelan.


Tidak terburu-buru.


Tidak panik.


Tidak terganggu.


“Kehidupan selalu ingin memperbaiki,” katanya. “Menambal. Menghibur. Mengikat kembali sesuatu yang sudah patah.”


Ia mengetukkan tongkatnya ke lantai.


TUK.


“Padahal, patah adalah bentuk paling jujur dari segala hal.”


Lihat selengkapnya