Sylphine mendengar satu nada.
Kecil.
Jauh.
Seperti cahaya bintang yang jatuh ke dasar air, lalu memanggilnya dari tempat yang seharusnya tidak bisa dijangkau oleh suara.
Di depannya, aula takhta Morveth berubah menjadi kekacauan ungu.
Zombie Beastman menerjang Shion lagi, cakarnya menghantam gagang scythe dengan kekuatan yang membuat lantai mosaik retak. Tubuh kecil Shion terdorong mundur, kakinya menggores batu, sayapnya gemetar menahan tekanan.
Di udara, zombie Dragonkind menukik ke arah Kaelenya.
Sayap robeknya menciptakan pusaran glitch yang menyayat pilar-pilar hitam. Kaelenya melompat dari reruntuhan pilar ke sisi lain aula, melepaskan dua panah ungu berturut-turut, tetapi Dragonkind tetap bergerak meski lehernya tertembus dan sayapnya hampir hancur.
Di belakang mereka, dua portal ungu terus berdenyut.
Selama portal itu terbuka, undead tidak benar-benar berhenti.
Selama tongkat Morveth tetap menyentuh aliran kematian di lantai, setiap luka hanya menjadi detail kecil dalam tubuh yang sudah tidak takut mati.
Morveth duduk di dekat takhtanya.
Tenang.
Nyaris puas.
Seperti maestro yang mendengarkan orkestra kacau mencoba mengikuti tempo yang ia tentukan sendiri.
“Indah,” katanya. “Betapa kerasnya kehidupan menolak diam.”
Sylphine menggenggam Moonlight Staff.
Tangannya gemetar.
Barrier-nya pecah.
Heal-nya melemah.
Setiap mantra yang ia keluarkan ditelan aura ungu aula, seperti suara kecil yang tenggelam di dalam makam terlalu besar.
Ia melihat Shion berdarah.
Ia melihat Kaelenya memaksakan tubuhnya tetap bergerak meski napasnya mulai berat.
Ia melihat ruang kosong di depan mereka.
Ruang yang seharusnya diisi Grakthor.
Grakthor yang selalu tertawa.
Grakthor yang selalu berdiri di depan.
Grakthor yang berkata bahwa takut tapi tetap berdiri sudah cukup kuat.
Sylphine menutup mata.
“Grakthor…”
Suaranya hampir hilang.
Zombie Beastman mendorong Shion ke belakang.
“Shion!” Kaelenya berteriak dari sisi atas aula.
“Aku masih…”
Cakar Beastman menghantam.
Shion menahan, tapi tubuhnya terpental beberapa langkah dan menghantam pecahan pilar. Scythe-nya menancap ke lantai untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
Kaelenya mencoba menembak portal kiri, tetapi Dragonkind menukik dan memaksanya menghindar. Ekor glitch makhluk itu menyapu bahunya, membuat armor Kaelenya retak dan darah digital memercik di udara.
Sylphine membuka mata.
Tidak.
Ia tidak mau hanya menonton lagi.
Ia tidak mau berdiri di belakang dan menghitung berapa kali barrier-nya gagal.
Ia tidak mau membiarkan rasa takut menentukan siapa yang boleh hidup lebih lama.
Moonlight Staff di tangannya berdenyut.
Biru.
Lalu putih.
Satu lingkaran rune muncul di bawah kaki Sylphine.
Kecil.
Tipis.
Seperti garis bulan yang digambar di lantai makam.
Morveth berhenti tersenyum.
Matanya yang putih keunguan menyipit.
“Oh?”
Sylphine menarik napas.
Bukan napas panjang.
Bukan napas yang kuat.
Napas seseorang yang tahu ia takut, dan tetap memilih berdiri.
“Astral…”
Cahaya putih menyala di ujung staff.
“…Convergence.”
Aula berubah.
Bukan meledak.
Bukan hancur.
Melainkan terbuka.
Seolah langit malam yang jauh di luar dungeon tiba-tiba mengingat bahwa tempat ini pernah memiliki bintang.
Lingkaran rune putih-keperakan menyebar dari bawah kaki Sylphine. Garis-garisnya berputar perlahan, membentuk pola astral yang tidak mirip sihir biasa. Rune itu tidak memerintah. Tidak memaksa. Ia bernyanyi.
Dan Sylphine ikut bernyanyi.
Suaranya kecil pada awalnya.
Hampir pecah.
Namun nada itu naik perlahan, membawa sesuatu yang berbeda dari semua magic yang pernah ia gunakan.
Bukan barrier.
Bukan heal.
Bukan bunga yang muncul karena panik.
Ini adalah lagu.
Lagu yang membawa rasa takutnya.
Rasa bersalahnya.
Duka yang belum selesai.
Dan janji yang tidak sempat ia ucapkan pada Grakthor.
Cahaya turun dari lingkaran astral di atas aula, seperti hujan bintang yang bergerak lambat.
Panel sistem muncul di depan Shion dan Kaelenya.
[Astral Convergence Field Established]
[HP Recovery: +30%]
[Critical Rate: +25%]
[Movement Speed: +20%]
Luka di bahu Shion menutup sebagian.
Retakan armor Kaelenya berhenti menyebar.
Napas mereka menjadi lebih ringan, bukan karena rasa sakit hilang seluruhnya, tapi karena tubuh mereka diberi ruang untuk bergerak lagi.
Shion menatap Sylphine.
Fairy kecil itu berdiri di tengah cahaya, rambut peraknya terangkat pelan oleh arus mana, sayap transparannya terbuka penuh. Moonlight Staff bersinar putih-keperakan, jauh lebih terang dari cahaya biru lembut biasanya.