ORPHEUS: Cathedra Verum Saga Vol. 1

Jourdan Jonathan
Chapter #21

CHAPTER 20: Dance Under the MoonLight

Cahaya astral turun seperti salju bintang.


Ia tidak menyentuh lantai dengan suara. Tidak meledak. Tidak membakar. Ia hanya jatuh perlahan dari lingkaran putih-keperakan di atas aula, menutup retakan mosaik, pilar hitam, dan sisa debu undead dengan kilau yang terlalu lembut untuk tempat sekejam ini.


Di tengah cahaya itu, Sylphine terus bernyanyi.


Suaranya tidak keras.


Namun seluruh aula mendengarnya.


Setiap nada memantul pada rantai data, pada patung tanpa wajah, pada pilar-pilar hitam yang semula hanya mengenal gema kematian. Lagu itu tidak menghapus kegelapan Morveth sepenuhnya, tapi memaksanya mundur selangkah demi selangkah.


Portal Dragonkind dan Beastman sudah padam.


Rantai astral melilit tongkat Morveth, menahan aliran dark magic yang sebelumnya memberi perintah kepada mayat. Rune putih-keperakan menjalar di sepanjang batang tongkatnya, menekan aura ungu yang mencoba keluar.


Untuk pertama kalinya, aula ini tidak sepenuhnya milik Morveth.


Namun Morveth tidak terlihat takut.


Ia berdiri di depan takhtanya, satu tangan menggenggam tongkat yang tersegel, tangan lainnya memegang pedang hitam panjang yang baru saja ia tarik dari bayangan.


Pedang itu tidak tampak seperti senjata yang ditempa.


Ia tampak seperti sesuatu yang dikubur hidup-hidup, lalu dipaksa menjadi bilah.


Permukaannya hitam pekat, tetapi di dalamnya ribuan garis ungu bergerak seperti tulisan di bawah air. Dari bilah itu terdengar bisikan tumpang tindih: doa yang patah, kutukan yang tidak selesai, nama-nama yang dipanggil terlalu terlambat.


Kaelenya menahan napas.


“Pedang itu…”


Morveth mengangkatnya sedikit.


“Artifact dari perang lama,” katanya. “Tiga ribu jiwa ditanam di dalamnya agar satu raja bisa bertahan satu malam lebih lama.”


Ia tertawa pelan.


“Manusia menyebutnya pengorbanan. Aku menyebutnya kebiasaan buruk makhluk hidup: selalu membeli waktu dengan sesuatu yang tidak bisa mereka kembalikan.”


Shion menggenggam scythe.


Di belakangnya, lagu Sylphine menahan aura kematian di aula, tapi suara fairy itu mulai terdengar lebih tipis.


Bukan melemah.


Lebih seperti menjauh.


Shion tidak menoleh.


Kalau ia menoleh terlalu lama, mungkin ia tidak akan sanggup maju.


“Kaelenya,” katanya pelan.


“Aku tahu.”


Kaelenya menarik busurnya.


Cahaya ungu terbentuk di jarinya, lalu dilapisi kilau putih dari Astral Convergence. Panahnya lebih terang, lebih stabil, dan lebih tajam dari sebelumnya.


Morveth menurunkan pedangnya.


“Baiklah,” katanya. “Jika lagu kalian ingin menahan kematian…”


Ia melangkah maju.


“…maka aku akan menari.”


Langkah pertamanya hampir tidak terdengar.


Langkah keduanya memecahkan lantai.


Morveth menghilang.


Bukan teleportasi.


Bukan blink.


Gerakannya terlalu cepat untuk mata normal, tapi masih cukup nyata untuk meninggalkan garis ungu tipis di udara.


Shion merasakan sakit menusuk di belakang matanya.


Neural Sync bergetar.


Bukan aktif penuh.


Hanya pecahan.


Satu kemungkinan kematian muncul: pedang Morveth membelah dadanya dari kanan.


Shion melompat ke kiri.


Terlambat setengah detik, tapi buff Sylphine membuat tubuhnya cukup ringan untuk menghindar.


Pedang Morveth menyapu ruang yang baru saja ia tempati.


Angin tebasannya memotong pilar di belakang Shion menjadi dua.


Pilar itu runtuh tanpa suara sesaat, lalu baru pecah dengan dentuman besar.


Kaelenya menembak.


Tiga panah ungu-putih melesat ke punggung Morveth.


Morveth memutar pedangnya tanpa menoleh.


CLANG.


CLANG.


CLANG.


Ketiga panah terbelah di udara.


Kaelenya mendarat di atas pecahan pilar.


“Dia tidak hanya cepat.”


“Dia membaca tempo,” kata Shion.


Morveth menoleh, mata putih keunguannya menyala.


“Benar.”


Ia mengangkat pedang dengan satu tangan.


“Semua pertarungan adalah musik. Langkah. Napas. Ketakutan. Keputusan. Bahkan kesalahan kalian memiliki ritme.”


Aura ungu mengalir dari tubuhnya ke pedang.


“Dan aku…”


Pedangnya berdengung.


“…adalah maestro.”


Panel sistem bergetar di depan Shion dan Kaelenya.


[Boss Skill Activated]

The Maestro


Cahaya di sekitar Morveth berubah.


Bukan bertambah besar.


Bertambah presisi.


Setiap gerakan pedangnya meninggalkan garis ungu yang bertahan sepersekian detik di udara, seperti notasi musik yang ditulis dengan luka. Jangkauan bilahnya meluas tanpa memperpanjang fisik pedang. Tebasannya mencapai tempat yang seharusnya tidak bisa disentuh.


Morveth maju lagi.


Shion menangkis dengan gagang scythe.


Benturan pertama hampir membuat tangannya terlepas.


Kaelenya menembak dari sisi kanan.


Morveth menggeser bahu, membiarkan panah melewati tulang rusuknya tanpa menyentuh core. Lalu pedangnya menyapu horizontal.


Shion melihat death-line muncul.


Bukan satu.


Tiga.


Ia berteriak.


“Kaelenya, turun!”


Kaelenya langsung menjatuhkan tubuhnya dari pilar.


Tebasan ungu lewat di atasnya dan memotong tempat ia berdiri tadi menjadi serpihan.


Shion memutar scythe.


“Phantom Arc!”


Riak biru kehijauan melesat, dilapisi cahaya astral dari lagu Sylphine. Untuk pertama kalinya, serangan itu tidak langsung pecah saat menyentuh aura Morveth.


Morveth menangkis.


Namun kali ini, bilah pedangnya bergeser sedikit.


Sedikit saja.


Kaelenya melihatnya.


“Serangan kita bisa mendorongnya sekarang.”


“Bisa menyentuh, belum bisa melukai.”


“Itu awal.”


Morveth tersenyum.


“Harapan kecil. Bahan bakar paling kejam.”


Ia menghilang lagi.


Shion berputar, mengikuti kilatan ungu di sisi kiri.


Terlambat.


Pedang Morveth menggores armor bahunya. Darah digital memercik, tapi sebelum rasa sakit menyebar penuh, cahaya putih dari lagu Sylphine membungkus lukanya.


Luka itu menutup sebagian.


Tidak sempurna.


Tapi cukup untuk membuat Shion tetap berdiri.

Lihat selengkapnya