Panel sistem menggantung di tengah aula.
Huruf-hurufnya retak seperti kaca tipis yang hampir pecah.
[Final Movement Detected]
[The 9th Symphony]
Lalu seluruh aula menjadi sunyi.
Bukan sunyi damai.
Bukan sunyi setelah perang.
Ini sunyi sebelum sesuatu yang terlalu besar menelan suara.
Morveth berdiri di tengah cahaya astral yang mulai memudar. Pedang hitamnya terangkat seperti baton seorang konduktor. Di dalam bilah itu, ribuan jiwa yang tadi berbisik kini diam serempak.
Diam yang patuh.
Diam yang menunggu.
Di belakang Shion dan Kaelenya, Sylphine masih bernyanyi.
Suaranya semakin tipis.
Semakin jauh.
Seolah setiap nada harus menyeberangi ruang yang lebih panjang sebelum sampai ke dunia.
Cahaya putih-keperakan dari Astral Convergence masih turun dari atas aula, tapi kini tidak lagi seperti hujan bintang. Ia lebih mirip salju terakhir sebelum langit padam.
Shion menatap Morveth.
Di belakang matanya, Neural Sync berdenyut.
Sakit.
Lebih sakit dari sebelumnya.
Kemudian masa depan terbuka.
Bukan satu.
Bukan sepuluh detik yang jelas.
Melainkan pecahan kemungkinan yang berjatuhan seperti kaca.
Ia melihat dirinya terpotong dari bahu ke pinggang.
Ia melihat Kaelenya tertusuk di dada.
Ia melihat Sylphine berhenti bernyanyi sebelum lingkaran astral selesai.
Ia melihat pedang Morveth menembus keduanya.
Ia melihat core ungu itu tetap utuh.
Ia melihat ratusan jalur.
Dan hampir semuanya berakhir dengan kematian.
Shion menggertakkan gigi.
“Kaelenya.”
“Aku tahu.”
Kaelenya tidak bertanya apa yang ia lihat.
Mungkin karena ia sudah bisa menebaknya dari wajah Shion.
Atau mungkin karena dalam situasi seperti ini, pertanyaan hanya membuang satu detik yang tidak mereka punya.
Morveth tersenyum.
“Lihatlah baik-baik,” katanya. “Itulah kebaikan kematian. Ia memberi begitu banyak jalan, namun semuanya berakhir di tempat yang sama.”
Shion mengangkat scythe.
“Sayangnya, aku buruk mengikuti jalan yang disediakan orang lain.”
Kaelenya menarik busurnya.
“Dan aku benci musikmu.”
Morveth tertawa pelan.
“Kalau begitu, menarilah sampai akhir.”
Ia menurunkan pedangnya.
Aula pecah menjadi garis ungu.
The 9th Symphony bukan sekadar serangan cepat.
Itu badai.
Setiap tebasan Morveth meninggalkan jejak bilah baru di udara. Garis-garis ungu terbentuk, menggantung sepersekian detik, lalu bergerak sendiri seperti nada yang terus dimainkan setelah jari meninggalkan tuts.
Satu tebasan menjadi tiga.
Tiga menjadi sembilan.
Sembilan menjadi puluhan.
Bilah-bilah ungu memenuhi aula, memotong pilar, rantai data, lantai mosaik, bahkan cahaya astral yang turun dari atas. Setiap kali cahaya Sylphine mencoba menutup luka ruang, The 9th Symphony membukanya lagi.
Shion bergerak.
Bukan berdasarkan penglihatan.
Terlalu banyak bilah untuk dilihat.
Ia bergerak berdasarkan kematian yang baru saja ia lihat.
Langkah kecil ke kanan.
Satu bilah melewati sisi kepalanya.
Menunduk.
Dua bilah memotong udara tempat lehernya tadi berada.
Putar scythe.
Tangkis satu garis ungu yang menuju Kaelenya.
Kaelenya melompat di antara pilar-pilar retak, melepaskan panah setiap kali ada celah sekecil apa pun. Namun bahkan panahnya yang dilapisi cahaya astral pecah sebelum mencapai Morveth, dipotong oleh bilah-bilah simfoni yang berputar di sekelilingnya.
“Tidak ada sudut bersih!” teriak Kaelenya.
“Buat satu!”
“Dengan apa?!”
“Marahmu!”
Kaelenya mendesis.
“Pinguin menyebalkan.”
Namun tangannya bergerak.
Ia menarik tiga panah sekaligus, lalu menembakkannya bukan ke Morveth, melainkan ke lantai di sekitar kaki Lich Sovereign.
Panah pertama meledak menjadi pusaran bayangan.
Panah kedua menciptakan kabut ungu gelap.
Panah ketiga memantul di pecahan pilar, mengubah arah di udara.
Morveth memutar pedangnya.
Tiga panah itu terpotong.
Tapi selama sepersekian detik, bilah-bilah The 9th Symphony di sisi kirinya menyesuaikan arah.
Ada kekosongan kecil.
Shion melihatnya.
“Sekarang.”
Ia meluncur.
Tubuh pinguinnya rendah, hampir menyentuh lantai. Bilah-bilah ungu menyapu di atasnya, memotong beberapa helai cahaya dari armor kecilnya. Scythe-nya berpendar biru kehijauan, dibalut cahaya putih Sylphine yang semakin rapuh.
Morveth menoleh.
Terlalu cepat.
Pedang hitamnya turun ke arah Shion.
Neural Sync menjerit.
Shion melihat kematiannya lagi.
Tebasan vertikal.
Tubuhnya terbelah.
Kaelenya berteriak.
Sylphine berhenti bernyanyi.
Tidak.
Shion menghentakkan gagang scythe ke lantai.
“Grim Pulse!”
Gelombang pendek meledak dari bawah, bukan untuk melukai Morveth, tapi untuk memecah pijakan Shion sendiri. Lantai di bawahnya retak dan tubuh kecilnya terpental sedikit ke samping.
Pedang Morveth turun.
Meleset beberapa sentimeter.
Cukup.
Shion mengayunkan scythe dari bawah.
“Phantom Arc!”
Riak biru kehijauan melesat.
Bukan ke core.
Ke pedang Morveth.
CLANG.
Benturan itu tidak kuat cukup untuk menghancurkan artifact sword.
Tapi cukup untuk menggeser satu nada dalam simfoni.
Bilah-bilah ungu di udara bergetar.
Kaelenya melihat core Morveth terbuka.
Satu detik.
Mungkin kurang.
Ia menarik busurnya sampai jari-jarinya gemetar.
“Shadow Cyclone.”
Panah ungu-putih terbentuk.
Lebih kecil dari sebelumnya.
Lebih padat.
Lebih marah.
Ia melepaskannya.
Morveth memutar pedang untuk menangkis.
Shion sudah tahu.
Ia melihatnya dalam salah satu kemungkinan.
Ia tidak menyerang Morveth.
Ia menyerang lintasan pedangnya.
Scythe Shion menghantam sisi bilah hitam, memaksa arah parry Morveth bergeser sepersekian derajat.
Shadow Cyclone lewat.
Tidak penuh.
Tidak sempurna.
Tapi cukup untuk menggores core ungu di balik jubah Morveth.
CRACK.
Retakan pertama muncul.
Aula bergetar.
Morveth mundur satu langkah.
The 9th Symphony tidak berhenti.
Tapi nadanya berubah.
Untuk pertama kalinya, simfoni itu terdengar tidak sempurna.
Morveth menatap retakan di core-nya.
Lalu menatap mereka.
“Jadi kalian memilih merusak instrumenku.”
Shion terengah.
“Kau terlalu berisik.”
Kaelenya mendarat di sisi lain aula, lututnya hampir menyerah.
“Sekali lagi.”
Shion mengangguk.
Ia ingin menoleh ke Sylphine.
Tapi ia tidak berani.
Karena lagu itu masih ada.
Dan selama lagu itu masih ada, mereka harus menggunakannya.
Bukan karena mereka ingin.
Karena Sylphine memilih membayar harga itu.
Morveth mengangkat pedangnya lebih tinggi.
“Kalau begitu, mari kita akhiri.”
The 9th Symphony berubah menjadi badai penuh.
Tidak ada lagi ruang aman.
Bilah-bilah ungu turun dari atas, naik dari lantai, memotong dari samping, dan melengkung seperti nada yang menolak hukum fisika. Pilar-pilar hitam runtuh satu per satu. Rantai data pecah. Patung tanpa wajah hancur menjadi serpihan.
Aula takhta Verth berubah menjadi orkestra keruntuhan.
Shion bergerak sambil menghitung kematian.
Satu garis di kiri: mati.
Lompat kanan: Kaelenya mati.
Menunduk: Sylphine terkena shockwave.
Maju: core terbuka.
Maju berarti mati.
Tapi mundur berarti semua mati.