Osz Budapesten - Musim Gugur di Budapest

Avelia G
Chapter #2

Chapter tanpa judul #1

Jakarta, 13 Mei 1998,

 Di sebuah indekost wanita di kawasan Jakarta Pusat, seorang gadis muda duduk membeku di depan televisi. Cahaya layar yang berkedip-kedip memantul di wajahnya yang pucat. Sejak pagi ia nyaris tidak beranjak dari tempat duduknya, seolah setiap berita yang muncul di layar menjadi pertanda buruk yang semakin mendekat.

 Semua teman seindekosnya sedang pergi bekerja dan ia sendirian.

 Jakarta sedang runtuh di depan matanya.

 Beberapa bulan lalu ia kehilangan pekerjaannya sebagai teller setelah bank tempatnya bekerja dilikuidasi. Kini tabungannya yang tak seberapa menjadi satu-satunya penyangga hidup. Bahkan ia berpikir untuk menggadaikan beberapa perhiasannya. Setiap rupiah terasa seperti butiran pasir yang perlahan habis jatuh dari genggaman.

 Aku harus bertahan sehemat mungkin.

Pikiran itu berulang kali muncul di kepalanya.

 Ia masih harus mengirim uang untuk ibu dan adiknya di Purwokerto. Namun keadaan di luar membuat masa depan terasa seperti lorong gelap yang tak memiliki ujung.

 Tiba-tiba telepon berdering.

Suara nyaring itu membuat gadis itu tersentak.

Ia segera mengangkat gagang telepon, mengira ibunya kembali menelepon karena khawatir.

“Lina... kamu di mana?”

Itu Tanty. Teman sekostnya

Suaranya bergetar. Tipis. Hampir seperti bisikan seseorang yang sedang bersembunyi dari maut.

“Aku di kost,” jawab Lina cepat. “Kamu di mana, Tan?”

“Aku masih di kantor.”

Suaranya bergetar takut dan panik.

“Massa sudah masuk ke daerah Glodok. Mereka menjarah toko dan ruko. Kamu lihat kan di TV.”

 Keringat dingin merayap di tengkuk Lina.

 Jantungnya berdetak semakin keras.

 Ia membayangkan Tanty sendirian di tengah kota yang sedang kehilangan kewarasannya. Sebagai perempuan keturunan Tionghoa, Tanty berada dalam bahaya yang jauh lebih besar daripada yang ingin diakui siapa pun.

 “Lina...” Suara Tanty pecah oleh tangis yang tertahan. “Aku takut. Aku sendirian di sini, bersembunyi di gudang lantai 3”

 Kalimat sederhana itu terasa jauh lebih menakutkan daripada seluruh berita yang ditayangkan televisi.

 “Dengarkan aku baik-baik,” kata Lina tegas. “Jangan menangis. Kamu harus kuat dan tenang. Aku akan menjemputmu. Sekarang!”

“Jangan!” seru Tanty. “Aku nggak mau kamu kenapa-napa!”

“Tan, aku gak apa-apa, tapi kamu. Kamu dan warga keturunan lain sekarang menjadi sasaran amukan massa...”

 “Tenangkan dirimu! Tunggu aku,” tegas Lina sebelum menutup telepon.

 Ia membuka lemari dan mengeluarkan sebuah gamis cokelat tua serta mukena dengan warna senada. Tangannya gemetar saat memasukkan keduanya ke dalam ransel. Ia juga segera memakai hijabnya, yang entah sudah berapa lama tak ia pakai setelah pindah ke Jakarta.

“Semoga aku belum terlambat.”

Kalimat itu terdengar lebih seperti doa daripada harapan.

________________________________________________

“BAKAR!”

Teriakan itu menggema di antara jalan-jalan yang dipenuhi asap.

Langit Jakarta berubah kelabu.

Api menjilat bangunan-bangunan seperti binatang buas yang lapar. Kaca-kaca pecah. Asap hitam membubung ke udara. Orang-orang berlarian tanpa tujuan pasti, hanya mengikuti naluri untuk bertahan hidup.

 Entah komando dari mana, tiba-tiba bermunculan gerombolan massa ke kawasan-kawasan bisnis di Glodok dan sekitarnya. Berbaur dengan penduduk dari pemukiman-pemukiman padat yang seperti kesetanan menjarah pertokoan dan kantor-kantor.

 Seorang anak laki-laki usia sekitar sepuluh tahun tampak gembira membawa sekardus mie instan ke rumahnya. Ia bersua ibunya di mulut gang,yang rupanya hendak menjarah lagi.

“Dasar goblog, ngapain ambil indomie doang,” bentak sang Ibu kesal.

Anak itu nyengir dan berlari ke dalam gang.

 Tak jauh dari situ, beberapa laki-laki sedang berusaha membongkar ATM. Dan akhirnya uang-uang dari ATM tersebut berhamburan. Laki-laki, perempuan, anak-anak berebutan sambil berdesak-desakan berjuang memungut lembaran-lembaran rupiah yang bertebaran di sekitar tempat itu

 Hari itu, Jakarta terasa seperti neraka yang terbuka.

Lihat selengkapnya