Osz Budapesten - Musim Gugur di Budapest

Avelia G
Chapter #2

Bab 1

Airin melangkah keluar dari pesawat yang baru saja membawanya ke Bandara Internasional Ferenc Liszt Budapest. Begitu telapak sepatunya menyentuh lantai terminal, sekilas gelombang keraguan berpendar dalam benaknya.

Apa ini keputusan yang tepat? Ia berhenti sepersekian detik. Namun segera mengembuskan napas pelan dan menepis pikiran itu. Terlambat untuk mundur.

Bandara tampak hidup dan berkilau di bawah cahaya sore yang lembut. Para pelancong berlalu-lalang sambil menyeret koper, roda-roda bagasi berdecit di atas lantai mengilap. Suara pengumuman penerbangan bergema dari langit-langit tinggi, bercampur percakapan dalam berbagai bahasa yang asing di telinganya. Dari deretan kafe dekat area kedatangan menguar aroma kopi hangat dan roti panggang yang baru keluar dari oven.

Di balik dinding kaca raksasa, langit Budapest berwarna keemasan pucat. Angin musim gugur sesekali menerobos saat pintu otomatis terbuka, membawa udara sejuk yang membuat Airin tanpa sadar tersenyum. Sudah lama ia tidak merasakan ketenangan seperti ini.

Ia mengeluarkan ponsel dan membuka grup WhatsApp reuni. Jempolnya menari cepat di layar.

Haiii... aku sudah tiba di Budapest. Tak sabar ketemu kalian ❤️

Tak sampai semenit, balasan mulai berdatangan.

Akhirnyaaa!

Jangan berubah jadi orang Hungaria dulu sebelum reuni!

Kirim foto sekarang juga!

Airin terkekeh sendiri.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dadanya terasa sedikit lebih ringan. Ada rasa rindu pada masa-masa muda dulu.

Ia berjalan menuju sebuah kedai kopi di sudut terminal dan memilih meja dekat jendela. Dari sana ia bisa melihat lalu lintas kendaraan yang keluar masuk area bandara.

"One latte, please."

"Large or medium?" tanya barista.

"Large. I think I deserve it after eight hours in the air."

Barista tertawa kecil.

"I agree."

Beberapa menit kemudian secangkir latte hangat tersaji di hadapannya. Airin memeluk cangkir itu dengan kedua tangan, menikmati sensasi panas yang merambat ke jemarinya.

Tanty sudah memberitahunya bahwa pemilik rumah tempat mereka menginap akan menjemputnya. Seorang wanita Indonesia. Hal itu masih terasa aneh sekaligus menarik baginya. Bagaimana bisa seseorang dari Indonesia memiliki rumah pertanian di pinggiran Budapest?

Saat sedang membayangkan berbagai kemungkinan, ponselnya berdering. Nomor tak dikenal.

"Halo?"

"Halo, Airin? Saya Evelin. Saya sudah sampai di area parkir."

"Oh, baik. Saya segera ke sana."

Airin menghabiskan sisa lattenya, meraih koper, lalu bergegas menuju lobi kedatangan.

Di luar terminal, udara musim gugur terasa jauh lebih dingin.

Langit perlahan berubah jingga tua ketika Airin melihat seorang wanita melambaikan tangan dari dekat area parkir.

"Halo, Airin ya?"

Wanita itu tersenyum hangat. Matanya berbinar, seolah selalu menyimpan energi positif yang sulit dijelaskan.

"Iya, saya Airin."

Mereka berjabat tangan.

"Wah, akhirnya ketemu orang Indonesia," kata Airin spontan.

Evelin tertawa.

"Nah, itu juga yang saya rasakan setiap kali ada tamu dari Indonesia."

Tawa kecil mereka memecahkan kecanggungan pertemuan pertama.

"Saya Evelin."

"Senang bertemu denganmu."

"Bagaimana penerbangannya?"

"Capek. Apalagi transit dan antre imigrasi."

"Tapi kamu masih kelihatan segar."

"Itu karena aku belum lihat wajah sendiri di cermin."

Keduanya kembali tertawa.

"Ayo, mobil saya di sana."

Mereka berjalan menuju sebuah Peugeot abu-abu metalik yang terparkir tidak jauh dari terminal.

Lihat selengkapnya