Osz Budapesten - Musim Gugur di Budapest

Avelia G
Chapter #3

Bab 2

Musim dingin di Melbourne terasa asing bagi Tanty. Angin dingin menusuk hingga ke tulang ketika pesawat yang membawanya mendarat di Bandara Tullamarine pada suatu pagi yang kelabu di bulan Juli 1998. Ia berdiri di antara empat perempuan keturunan Tionghoa lainnya, masing-masing membawa koper seadanya dan beban kenangan yang jauh lebih berat daripada barang bawaan mereka.

Tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar ingin meninggalkan Indonesia. Namun kerusuhan rasial yang meledak pada Mei 1998 telah mengubah segalanya.

Di ruang kedatangan, mereka saling bertukar pandang. Tidak ada yang banyak bicara.

"Akhirnya... kita benar-benar sampai di sini," gumam seorang perempuan bernama Susan sambil memeluk jaket tipisnya.

Tanty mengangguk pelan. "Ya."

Hanya satu kata itu yang keluar. Tenggorokannya terasa sesak. Yang tertinggal di belakang bukan hanya rumah, melainkan seluruh kehidupannya. Dia bahkan tak sempat pulang ke rumahnya di Singkawang, sekedar melepas rindu kepada papa dan mama serta adik-adiknya. Karena harus menghemat setiap rupiah. Hidup keluarganya boleh lah dibilang miskin. Ayahnya hanya buruh di sebuah percetakan batako dan ibunya menjual beberapa jenis makanan dari warung kecil di samping rumah mereka.

Mereka menyewa sebuah apartemen sederhana dengan tiga kamar tidur di kawasan pinggiran Melbourne. Lima perempuan dewasa harus berbagi ruang sempit, bergantian menggunakan kamar mandi, dan belajar hidup dari nol di negeri yang nyaris tidak mereka kenal.

Pada malam-malam pertama, suara kereta yang melintas di kejauhan sering membangunkan Tanty. Ia akan terjaga dalam gelap, menatap langit-langit apartemen. Lalu kenangan itu datang lagi.

Asap.

Jeritan.

Kerumunan yang berlari.

Telepon yang tak terjawab.

Dan wajah Lina-Karlina Setyorini. Wajah yang selalu muncul paling jelas.

***

Beberapa minggu kemudian, Tanty mendapatkan pekerjaan pertamanya. Sebuah lapak daging babi di Prahran Market.

Pukul lima pagi ia sudah harus bangun. Udara musim dingin membuat jemarinya kaku saat menunggu tram menuju pasar. Prahran Market selalu sibuk. Aroma kopi yang baru diseduh bercampur dengan bau ikan segar, rempah-rempah, dan daging yang memenuhi lorong-lorong pasar.

Awalnya Tanty kesulitan memahami aksen pelanggan Australia. Ia sering meminta mereka mengulang pertanyaan.

"Sorry?"

"Can you repeat that?"

Hari demi hari berlalu.

Ia belajar lebih banyak bahasa Inggris dari pelanggan dibandingkan dari buku mahir berbahasa inggris yang dibawanya dari Jakarta. Suatu siang seorang pelanggan tetap tersenyum kepadanya.

"You're getting better every week."

Tanty tertawa kecil.

"I have to. Otherwise I won't survive."

Kalimat itu terdengar seperti lelucon. Padahal sebenarnya tidak.

***

Bulan-bulan berikutnya berjalan lebih cepat. Australia perlahan berubah dari tempat pelarian menjadi rumah. Di sebuah acara komunitas Asia di Melbourne, ia bertemu Daniel Phan. Pemuda Vietnam itu memiliki senyum hangat dan kebiasaan mendengarkan sampai lawan bicaranya selesai berbicara. Sesuatu yang jarang ditemui. Malam itu mereka duduk di sudut aula sambil menikmati semangkuk pho hangat.

"Aku dengar kamu dari Jakarta?" tanya Daniel.

Tanty mengangguk.

"Kamu?"

"Orang tuaku pengungsi Vietnam. Aku lahir di sini."

Untuk beberapa saat mereka terdiam. Lalu Daniel berkata pelan,

"Kadang orang-orang seperti kita punya dua rumah, tapi juga merasa tidak benar-benar memiliki keduanya."

Tanty menoleh. Kalimat itu terasa sangat dekat. Mungkin karena hanya orang yang pernah kehilangan rumah yang bisa memahami perasaan itu.

***

Mereka menikah dua tahun kemudian. Setelah itu pindah ke Queensland dan memulai hidup baru di Brisbane.

Awalnya mereka hanya memiliki satu toko kecil yang menjual makanan segar. Daniel mengurus pemasok. Tanty melayani pelanggan dan mengatur pembukuan. Hari-hari mereka panjang dan melelahkan. Banyak malam dihabiskan untuk menghitung pengeluaran sambil duduk di lantai dapur.

"Kita akan berhasil," kata Daniel suatu malam.

"Kamu yakin?"

Daniel tersenyum.

"Tidak."

Tanty tertawa.

"Setidaknya kamu jujur."

"Tapi aku percaya pada kita."

Dan ternyata Daniel benar. Tahun demi tahun usaha mereka berkembang. Satu toko menjadi dua. Dua menjadi tiga. Lalu bertambah lagi.

Secara materi, mereka telah mencapai sesuatu yang dulu hanya bisa dibayangkan. Namun ada satu bagian hidup Tanty yang tidak pernah benar-benar bergerak maju.

***

Masa lalu. Terutama hari-hari pada Mei 1998. Luka itu tidak pernah hilang. Hanya belajar bersembunyi.

Setiap kali membaca berita tentang Indonesia, setiap kali mendengar kata "Jakarta", setiap kali mencium bau asap yang terbawa angin dari kebakaran semak saat musim panas Australia, kenangan itu kembali muncul.

Dan bersama kenangan itu, muncul wajah dua orang.

Karlina. Dan Airin. Orang-orang yang telah membantunya melewati hari paling mengerikan dalam hidupnya. Terutama Lina.

"Dia mempertaruhkan nyawanya untukku," kata Tanty suatu malam kepada Daniel.

Mereka sedang duduk di teras rumah sambil menikmati teh hangat.

"Apakah dia tahu kamu masih mengingatnya?"

Tanty menatap langit malam Brisbane.

"Aku harap begitu."

***

Ketika usianya semakin bertambah, keinginan untuk bertemu kembali justru semakin kuat. Tanty mulai mencari. Melalui media sosial. Melalui teman-teman lama.

Pencarian itu berlangsung bertahun-tahun. Kadang ia menemukan petunjuk. Kadang jalan buntu. Namun ia tidak menyerah.

Akhirnya, lewat postingan di Facebook Group ia mulai berhubungan dengan beberapa teman dahulu di Jakarta. Ia ingat impian mereka dulu.

Lihat selengkapnya