Sebuah rumah gadang di atas bukit Kampuang Mahalintang. Rumah paling besar yang difungsikan sebagai balai pertemuan kampung. Para hadirin tengah duduk melingkar dalam prosesi ijab kabul yang akan dilaksanakan hari ini. Semuanya berada pada barisan masing-masing. Keluarga besar Maharani, keluarga besar Mahalini, keluarga besar Mahandaru, keluarga besar Nurhamzah, serta sanak saudara dan juga kenalan pun kolega-kolega dari keempat keluarga besar tersebut.
Pernikahan ini digelar dengan amat mewah dan besar-besaran. Tidak tanggung-tanggung karena akan dilaksanakan selama tiga hari tiga malam. Pernikahan istimewa karena mempelai wanitanya adalah seorang gadis yang menyandang gelar penting dalam keluarga Mahalini. Sang Ameh Balang, atau loreng emas. Gelar yang konon hanya ada seribu tahun sekali dan hanya dimiliki satu orang setiap periodenya. Maka semua anggota keluarga wajib hadir untuk menghormati pernikahan ini, tak terkecuali mereka yang tengah merantau untuk sejenak pulang.
Kedua sejoli yang kini didudukkan di tengah lingkaran tersebut tampak malu-malu dalam menahan diri.
Sang mempelai pria adalah Ar-Razi Banta Nurhamzah, putra sulung dari Bapak Al-Muzakkir Harun Nurhamzah. Ia berwajah rupawan serupa namanya, rambutnya yang hitam legam memberikan pesona bak pangeran terhormat. Ia mengenakan baju adat penghulu berwarna putih bersih, lengkap serasi memancarkan wibawa yang memang melekat dalam dirinya.
Dan duduk di kirinya agak ke belakang, sang mempelai wanita. Angrea Mahalini, anak ketiga dari Bapak Ar-Rhama Iskandar Nurhamzah yang mana merupakan sepupu jauh dari Bapak Al-Muzakkir sendiri. Siapa pun di dalam prosesi ini tidak bisa memungkiri bahwa sang mempelai wanita adalah perwujudan dewi dari kahyangan. Wajahnya elok memesona sempurna dari segala sisi. Rambutnya adalah air terjun hitam dari nirwana. Kulitnya bagai sutera dan jeli matanya adalah permata dari taman Firdaus. Hampir tak ada yang bisa disetarakan dengan keelokannya. Angrea Mahalini adalah wujud golden ratio bagi kecantikan khas Nusantara. Dan hari ini, gaun Tingkuluak Balapaknya laksana pakaian para permaisuri dari negeri dongeng.
Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an mengalun sebagai pembuka pernikahan ini. Lantunan dari seorang yang juga istimewa, Humaira Khairunisa, sang Mutiara dari serambi Mekkah yang merupakan kakak ipar dari mempelai wanita itu sendiri. Suasana khidmat meliputi seluruh hadirin, seakan ayat-ayat tersebut dilantunkan langsung dari langit.
Prosesi pun berlanjut pada pembacaan sajak nasihat pernikahan oleh pelantun sajak terbaik keluarga Mahandaru, Datuk Ilyash Mahandaru. Sajak yang berima sempurna, seakan sebentuk dengan ayat suci itu sendiri.
Sakapua Siriah: Iko curito urang daulu, dapek dari kitab Irsaat al-ghafirin. Kitabnyo rang tuo-tuo kito. Ditulih dek tuangku Labai Sidi Rajo mamakai bahaso lamo. Arab melayu namo bahasonyo.
Judul kitab ko Pancadiakan Urang nan Lalai aratinyo palajaran tuak maharagoi wakatu nan ado. Dek kuaano kini banyak nan indak bisa marawikannyo, mako kami ulang bacarito tuak sudaro ka sadonyo. Kitab ko ditulih di tahun 1346 Hijriah atau sambilan puluah ampek taun nan lampau. Tuak palajaran murik-murik daulu.
Urang cadiak baso batuah, dijadian tuak palajaran malah. Bacolah supayo bafaedah, agar salamaik dunia jo akhiraik. Kok baguno, amal ibadah pulo nan di dapek tuak Tuanku Labai Sidi Rajo, samoga ditarimo dek Tuhan yang Maha Kuaso.
Banda urang kami banda kan, banda nak urang palambaiyan. Kaba urang kami kabakan, kok ado kaba nan salah mohonlah dimaafkan... 🎶
Sajak terus berlanjut, terdengar indah nan mengalun khidmat. Ilyash menutup sajak yang dilantunkan selama 17 menit tersebut dengan menciptakan suasana yang terasa mistis nan magis.
Acara pun berlanjut pada prosesi utama dari semua ini. Ijab kabul. Namun, sebelum ijab kabul berlangsung, kedua mempelai memperoleh nasihat-nasihat dari kedua orang tua dan tetua keluarga besar.
Dari keluarga Mahandaru diwakilkan oleh Zainudin Mahandaru sebagai tetua. Ia memberikan nasihat kepada keduanya agar saling menjaga, saling mendukung, lagi saling mengasihi. Secara khusus Zainudin berpesan agar Angrea, sebagai kelak seorang istri dari Razi, hendaknya selalu patuh pada suami. Dan kepada Razi, ia menyampaikan nasihat agar menjadi suami yang mengayomi dan menyayangi istrinya, menjadi teladan bagi keluarganya kelak.
Dari keluarga Mahalini, nasihat diwakilkan oleh Delilah Mahalini. Ia berpesan singkat pada Angrea agar selalu menjadi wanita yang kuat, sabai nan aluih bagi keluarganya. Dan kepada Razi, ia berharap agar pria tersebut mencintai istrinya sepenuhnya, baik kelebihannya maupun kekurangannya.
Dari keluarga Maharani diwakilkan oleh Galamonang selaku tetua keluarga. Mak Gala memberikan petuah agar keduanya senantiasa menjaga kepercayaan, kesetiaan, dan permakluman agar kelak rumah tangga yang dibangun benar-benar sakinah, mawaddah, warahmah.
Dari keluarga Nurhamzah, diwakilkan oleh Iskandar Nurhamzah selaku anggota keluarga Nurhamzah sekaligus ayah dari Angrea Mahalini. Di hadapan calon menantu yang juga merupakan kerabat jauhnya dari garis Nurhamzah, Pak Iskandar berpesan agar keduanya saling menyayangi, mengasihi, dan mencintai hingga anak cucu kelak. Pak Iskandar juga secara pribadi menitipkan anaknya pada Razi. Ia meyakini bahwa pernikahan adalah sebuah peralihan tanggung jawab dari seorang ayah kepada suami dari anaknya.
Setelah keempat tetua keluarga memberikan nasihat-nasihatnya, acara pun dilanjutkan pada kata-kata dari penghulu sebagai pembukaan sebelum ijab kabul.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah puji syukur ke hadirat Allah Swt. atas segala berkah karunia-Nya serta nikmat iman Islam pada kita semua. Selawat serta salam tidak lupa terus-menerus kita ucapkan pada Nabi Besar Muhammad saw., keluarganya, sahabat-sahabatnya, tabi'it tabi'in hingga sampai pada kita selaku umatnya. Tentunya salam hormat kepada para tetua keluarga besar Mahaseroja dan juga pada keluarga besar Nurhamzah. Serta seluruh hadirin yang kami hormati. Nah, Bapak mau menyapa dulu ini pada mempelainya. Nak Razi, Nak Razi," ucap si penghulu.
"Iya, Pak," balas Razi.
"Sudah siapkah kau menjadi seorang suami?" tanya penghulu.