Namaku Tonah, aku adalah ibu-ibu paling kece di kompleks ini. Gelar yang kupertahankan selama enam tahun semenjak pindah. Dan selama eta teh Tonah selalu jadi ibu-ibu paling gaul dan paling geulis se-antero komplek. Tapi, sebelnya gelar itu langsung anjlok semenjak kedatangan keluarga baru di kompleks Pasteur Indah Residence ini. Orang Minang, suami istri, pasangan muda, Mbak Angrea dan Abang Razi. Keduanya baru pindah dua tahun yang lalu, membeli rumah di sini, cash. Heuh, pamer! Kenapa datangnya pasangan suami istri itu membuat gelarku anjlok? Ya apa lagi, karena istrinya Abang Razi itu, si Mbak Angrea, yang, ya, okelah, cantik banget. Langsung jadi topik perbincangan utama di sini. Dari mulai ceu Sarah, Bu RT Kima, Om Romi, sampai Abang sayur mayur suka ngomongin dia dengan sumringah. Tapi, enggak jauh, ah. Inner beauty-ku lebih terlihat. Aku, kan, ramah, suka bersosialisasi, dan gemar kumpul sama ibu-ibu di kompleks. Enggak kayak dia, lebih banyak di rumah, jarang kelihatan, sekalinya kelihatan mukanya galak. Ya, cantik, kan, bukan wajah aja, kan, ya?
Dari omong punya omong, Mbak Angrea ini kerjanya di dunia hiburan malam. Kalau pagi berangkat pakai busana ganti-ganti tapi pasti dibarengi blazer hitam arau putih yang ada lambang harimau bersayapnya. Kerjaan apa, ya? Kayak pakaian dugem, kadang pulang malam atau beberapa kali enggak pulang; ya, dua hari tiga hari gitu. Ya, wajar, kan, jarang kelihatan? Apalagi kalau bukan dunia esek-esek?
Ya, wajahnya ada, sih, di iklan-iklan, medsos. Katanya mantan artis yang pensiun muda. Sudah pasti cari sumber cuan lain yang lebih instan, ya kan?! Misalnya melayani oknum pejabat berduit gitu.
Dia juga anak orang kaya raya, ibunya sesekali datang menjenguk pakai mobil mewah plus perhiasan yang kayaknya supermewah. Haaah, paling Mbak Angrea disuplai dana dari ortunya itu. Uangnya kerja hiburan malam paling habis buat hura-hura.
Kabarnya juga dia menjalani pesugihan di gunung Lalakon, ceunah. Pasti sering mandi air bunga tujuh rupa di tempat kramat kayak gitu. Bisa jadi cantiknya itu karena pasang susuk sebadan-badan. Kan aneh kan gimana bisa ada perempuan sempurna pisan. Belum lagi kalau kebetulan papasan, kayak di belakangnya ada kodam penjaganya yang bentuknya macan emas, hiiiihhh.
Berbanding terbalik sama istrinya, si Abang Razi baik banget. Orangnya ramah dan sereseh, mana tampan lagi, khususnya kalau lagi senyum, terus lesung pipitnya kelihatan. Euh, gemas! Sholeh, gemar beribadah di masjid komplek. Menyapa tetangga meski jarang pulang karena kerjanya luar kota. Kalau Bang Razi sih fix jarang pulang karena pekerjaan. Kelihatan dari wajahnya yang jujur dan bertanggung jawab.
Pernah sekali ketemu Abang Razi yang lagi mampir ke warung beli rokok sama kapas. Obrol punya obrol, si Abang Razi kerjanya di Sumatra. Dianya, sih, kampung halamannya ada dua: Bireun, Nanggroe Aceh Darussalam, dan Sawahlunto. Yang Aceh itu Ibunya, yang Minang itu bapaknya. Abang Razi dan keluarganya banyak yang bekerja di pertambangan batu bara. Eh, panjang umur Bang Razi. Pas lagi mikirin dia, orangnya datang. Apakah ini yang dinamakan berjodoh, hohoho.
"Selamat datang, Bang. Mau belanja apa, nih?" tanyaku sambil memberikan senyum terindah. Wajib begini kalau sama konsumen favorit.
"Biasa, Tante, mild-nya sebungkus, terus sama ini, nih, Sabai nitip belanjaan," ucap si Abang tersenyum manis lalu memberikan secarik kertas catatan belanjaan.
"Oh... Sabai tuh maksudnya Mbak Angrea, ya? Betewe, jangan tante dong panggilnya... Teteh Onah aja," balasku.
"Iya, Nte, eh, Teh... Sabai tuh panggilan sayang Razi buat Angrea," jawab si Abang lagi.
Aku pun mulai mengambil barang-barang yang tertera di catatan si Abang. Agak lambat tentunya cari-cari barangnya, biar si Abang agak lebih lama di sininya.
"Kalau istrinya tuh kerja apa, Bang?" tanyaku mencoba selidik.
"Sabai manajer penerbangan, Nte, eh, Teh..." jawab si Abang.
Haaah, manajer penerbangan? Maksudnya kerja di pesawat? Pramugari tah? Muka sama body-nya, sih, masuk. Kan, pramugari juga suka ada isu esek-eseknya, kan?