Our Golden Blanket

Wachyudi
Chapter #3

Kekasih Pertama

​Ini mimpi atau nyata, ya? Bertemu Rasulullah, wajahnya begitu bersinar cerah bagai matahari. Tempat ini begitu terang dan sejuk sekaligus hangat. Beliau memberikanku sesuatu dari tangannya. Sesuatu yang bercahaya begitu terang.

​Aku menerimanya dengan lapang dada, apa pun ini pasti adalah hal yang baik, apalagi dari Rasul. Abak, Mak, Razi diberikan karamah oleh Rasul, apakah Razi akan memegang sebuah amanah besar?

​Aku terima cahaya dari tangan Rasul, rasanya hangat dan indah. Kucoba melihatnya, apa sebenarnya benda ini. Namun, semakin lama semakin terasa berat hingga rasanya meski kukerahkan seluruh tenagaku, tidak cukup untuk memegangnya. Masyaallah, apa ini... aahh berat sekali, begitu berat sampai-sampai aku dibuat hampir terjatuh olehnya.

​Kucoba menatap sosok Rasul di hadapanku, namun ia sudah tak ada di sana. Ke mana engkau wahai kekasih Allah? Umatmu ini sedang menahan beratnya pemberianmu, hampir-hampir tak sanggup ambo membawanya.

​Apa ini...? Ah, rupanya cuma mimpi tadi itu. Lelap juga tidurku... sudah jam berapa?

"Hayya 'alash-shalaah...

Hayya 'alash-shalaah..."

​Ah, azan sudah berkumandang rupanya. Pertanda hari sudah subuh. Aku pun membuka mataku lalu bangun dari posisi berbaring. Namun, aku sedikit terkejut dengan keberadaan sebuah benda yang bergelinding jatuh dari dadaku. Apa gerangan itu? Sebuah amplop putih. Surat dari Sabai kah? Tapi kenapa agak berat, seperti ada sesuatu di dalamnya.

Kubuka amplop itu, lalu mengambil benda di dalamnya. Tunggu, sepertinya aku kenal benda ini. Benda berbentuk seperti termometer, sama-sama peralatan kesehatan namun memiliki fungsi lain.

Ya Karim, jangan-jangan...

​Apa benar ini adalah...

​Kuangkat benda itu, kudekatkan seraya memandangnya. Terlihat dengan begitu jelas, dua garis merah tertera di layarnya. Subhanallah, Ya Karim... benarkah...

​Apakah ini arti mimpi tadi???

​Sabai...

---

​"Sabai tahu semenjak kapan? Kenapa baru memberitahu Razi sekarang?"

​Ia terus bertanya dengan antusias seakan aku baru saja memberitahunya hal paling penting di dunia. Yaaa buliah lah, memang ini hal paling penting bagi kami berdua. Kabar yang sudah pasti amat ia idam-idamkan.

"Iyo, awak juga baru tahu pasti tadi malam," balasku.

​"Terkejut Razi, terbangun dari mimpi indah lalu menemukan hal indah pula... Ya Karim, elok bana hidup ini," ujarnya diiringi senyum bahagia yang sepertinya tidak akan hilang dari wajahnya seharian ini dan hari-hari selanjutnya.

​"Lebih lengkap nanti di rumah Abak, ada kopi baru kiriman Mak Rajabara," ucapku seperti latah saja ingin melayani suamiku ini.

"Amboii, rancak bana rasanya... memang Sabai pengertian," balasnya dengan sumringah.

​Kami berdua sedang berkendara menuju rumah Bundo dan Abak. Ingin rasanya segera memberitahukan kabar bahagia mengenai kehamilanku ini pada kedua orang tuaku. Rencananya setibanya kami di sana, kami juga akan bersama-sama menghubungi Ajo Dzul, Ajo Djuriat, dan Bian untuk mengabari mereka.

​"Ngomong-ngomong, Uda mimpi apa yang Uda bilang begitu indah?" tanyaku yang mendadak penasaran soal mimpinya.

​"Oh, itu.... Razi bermimpi bertemu dengan Rasulullah, dan Rasul memberikan Razi sesuatu yang bersinar ke tangan Razi. Rasul sendiri yang memberikannya, Sabai," jawabnya, kali ini dengan intonasi yang lebih lambat, mirip narator di cerita-cerita horor.

​"Hmm, baitu yo, sarupo superstition," balasku yang agak bingung mau memberikan respons apa.

​"Ini karamah, Sabai. Coba hmm... Razi mendapat mimpi itu dan subuh harinya ada kabar baik yang rancak bana buat Razi. Barangkali ini artinya anak pertama kita akan jadi orang besar," ujarnya.

​"Amin, tentu saja dia akan jadi orang besar. Dia adalah seorang Mahalini dan juga seorang Nurhamzah... bagaimana bisa ia tidak jadi orang besar?" jawabku sesuai isi hatiku saja.

​"Iya, benar kau, Sabai. Ah, pokoknya Razi bahagia rasanya... tadi saja menelepon Abak dan Mak mereka sampai meneteskan air mata."

​Razi memang kalau sudah bicara hal yang macam ini terasa seperti dalam film drama.

"Baitu yo, ya sudah syukur," balasku.

​"Iya, Sabai, sangat bersyukur Razi atas kabar ini. Bagai kejatuhan durian runtuh."

​"Uda..."

Lihat selengkapnya