Our Golden Blanket

Wachyudi
Chapter #4

Our Golden Heritage

Razi dan Angrea mendapat kunjungan dari Pak Iskandar, Bu Arunika, Dzulfikar, Humaira, dan kedua anak mereka, Salim Alfarizi Mahalini dan Salman Alfarizi Mahalini. Di pagi yang cerah itu, para kepala keluarga tengah duduk menikmati segelas kopi dan camilan ubi rebus hangat sambil berbincang-bincang. Ketiganya juga ditemani Pak Ganang, sopir pribadi Pak Iskandar.

"Biji Gayo iko... tapi beda karena dipetik dari kebun ayah meutuha langsung. Teman-teman Dzul sajo terpikat sama aroma dan rasanyo," ujar Dzulfikar seraya mengangkat gelas kopinya tinggi-tinggi.

Razi menyeruput kopinya menggunakan sedotan. Ia meminumnya dengan cara membalikkan gelas kopinya di atas sebuah cawan dan menyedot air kopi melalui sedotan tersebut. Razi mengangguk-angguk setelahnya, menanggapi perkataan Dzulfikar.

"Rancak bana ini. Betul, Dzul, memang beda... ado aroma khusus," timpal Pak Iskandar.

"Betul, Bang. Apo beda bijinya?" tanya Razi dan sekali lagi menyeruput kopinya.

"Kon, tapi meubeda nibak cara cok, biji kupi nyoe dicok khusus," ujar Dzulfikar, menjelaskan bahwa biji kopi yang ia bawa dipetik dengan cara khusus.

"Owh meunan, pakriban Bang?" tanya Razi soal penjelasan tadi.

"Wah, Bang, abdi teu ngarti euy... pakai bahasa Indonesia saja dong... biar saya juga paham," ucap Pak Ganang nyeletuk.

"Hahaha..." Pak Iskandar, Dzulfikar, dan Razi tertawa kecil.

"Oke, oke... jadi kenapa biji kopi ini punya aroma khusus adalah karena cara memetiknya berbeda. Ayah mertua menyuruh semua tukang petik untuk memetik biji kopinya di pagi buta sebelum salat subuh dan harus berhenti sebelum matahari muncul. Ya, kira-kira jam 3 sudah mulai," ujar Dzulfikar bercerita.

"Unik sekali, Bang... Itu semua di sana begitu?" tanya Razi.

"Enggak, cuma di tempat ayah mertua saja," balas Dzulfikar.

"Masa tidak salat subuh, Bang Dzul?" tanya Pak Ganang penasaran.

"Itulah justru yang menariknya lagi. Dzul beberapa kali ikut kalau sedang mampir di kebun... dan kami semua salat bersama-sama di kebun. Ada pelataran rumput yang bersih beratapkan daun kelapa tempat pekerja beristirahat. Salat bersama di kebun sambil memetik kopi bersama itu rasanya luar biasa," ujar Dzulfikar bercerita.

Razi dan Pak Ganang mengangguk-angguk menyimak cerita Dzulfikar sambil sesekali menyeruput kopi mereka. Lalu Risa, ART di rumah Angrea, datang.

"Abak, Bang Dzul, Bang Razi, dipanggil Bundo Arunika... makan dulu katanya," ucap Risa.

"Oh, iyo... nanti nyusul, gitu," jawab Pak Iskandar diiringi anggukan yang lain.

"Razi, tahukah kau kenapa keluarga Mahalini dan keluarga Nurhamzah serta sanak saudara di Aceh bersahabat dekat?" tanya Pak Iskandar melemparkan pertanyaan.

Lihat selengkapnya