Our Golden Blanket

Wachyudi
Chapter #5

The Golden Armored Heart

Jangan tanya aku soal siapa yang bilang karena malas aku mengingatnya. Tapi, pernah ada yang berkata padaku bahwa musuh terbesar bagi seorang wanita adalah ibu mertuanya sendiri. Dan dalam kasus ini, ibunda dari Razi, Mak Malahayati, adalah wanita yang paling bisa membuat urat kepalaku berkedut.

Aku dan Mak Malahayati itu sebenarnya, mungkin saja, adalah spesies wanita yang serupa. Ada satu karakter yang mirip dan khas yang sayangnya akan lebih baik bila tidak sering dipertemukan. Kami sama-sama keras kepala dan berpikiran tegas!

Satu hal yang sepertinya kami berdua sadari memiliki kesamaan adalah kemampuan kami dalam membagi wajah. Maksudnya bagaimana? Begini, kau pernah, kan, ada dalam situasi yang berbeda meski rentang waktunya dekat? Saat formal khususnya di depan kamera kamu harus pasang wajah serius bersahabat, namun saat santai kamu bisalah menjadi dirimu apa adanya. Mak Malahayati adalah wanita dengan kepribadian seperti itu.

Saat ada Abak dan Bundo, ia akan tersenyum manis begitu ramah dan akrab. Begitu pula di hadapan sanak saudara lain. Namun saat hanya ada aku dan dirinya, senyum itu masih bertahan sekaligus bertransformasi menjadi senyum dewi julid.

"Sudah kau bersihkan ikannya, Angrea? Tidak lupa diberi air perasan jeruk nipis, kan?" tanya Mak Mala.

"Iyo," balasku agak malas.

"Oma a! Apa ini ... kenapa pakai lemon?" tanya Mak Mala sembari menunjuk-nunjuk ikan yang sudah kutiriskan di baskom.

"Ado lemon di kulkas, lagipula lebih segar dan tidak terlalu asam rasanya," jawabku.

"Anak muda ... resep itu jangan diubah, seakan tidak paham saja kau, Angrea," balas Mak Mala.

Aku lebih memilih diam sambil terus mengiris bumbu-bumbunya. Kami ceritanya sedang memasak pepes ikan mas yang merupakan masakan rumahan kesukaan Razi dan ayahandanya.

"Bagaimana ini ... sudah terlanjur dibaluri," keluh Mak Mala lagi.

"Rea beli lagi sajakah ikan dan jeruk nipisnya?" tawarku yang jengah mendengar kritiknya dari tadi.

"Tidak usahlah, berpikirlah, Rea, cuma buang-buang waktu ... ini juga tidak apa-apa," balas Mak Mala.

Kanciang! Lalu kenapa kau meributkan soal itu? Bikin sebal saja!

"Iyo," jawabku.

Beberapa jam ke depan dan aku harus bersamanya. Apa juga berlebaran ke Sawahlunto segala, sudah jauh-jauh dan malah begini. Tapi, sudah janji dengan Ajo Dzul dan Uni Humaira mau sekalian mengunjungi mereka di Bireuen. Aku dan Razi jadi tidur di rumah pusaka Mak Malahayati dan tentunya bertemu dia terus-terusan.

"Ngomong-ngomong, apa kau masih bekerja jadi penari panggung?" tanyanya entah basa-basi atau apa.

"Girlband ... sudah pensiun, Mak, awak indak lanjut," jawabku.

"Oh, syukurlah ... malu Mak kalau bertemu teman-teman di pengajian. Mereka bergunjing soal Mak punya menantu yang suka membuka aurat dan bergoyang di televisi," ujarnya.

Kupotong satu ruas besar jahe dan berhenti sejenak saat pisaunya menyentuh talenan kayu.

"Indak seperti itu, kami mengasah kemampuan bernyanyi juga," balasku.

"Ah, ya ... pokoknya dilihatnya kurang elok. Untung kau sudah pensiun ... kasihan Razi, punya istri cantik tapi bagi-bagi dengan mata pria lain," ucapnya dengan angkuh.

Uuhhh, tajam-tajam pisau, lebih tajam lidah Mak Mala.

"Kan, awak sudah bilang tidak begitu."

"Tapi, kenapa berhenti? Kata Arunika kau dibayar tinggi untuk sekali manggung ... yang membayar begitu pasti punya maksud lain."

"Soal honor manggung itu urusan manajer kami. Kami tegas menjaga diri selama berkarier ... lagipula Daniella anti dengan permintaan yang aneh-aneh."

"Baguslah kalau begitu ... tadi belum kau jawab, kenapa kau berhenti, Angrea?"

"Awak cuma berhasrat untuk mendampingi Daniella. Karena Daniella tidak melanjutkan karier Pink Velvet, ya, awak juga berhenti."

"Haaah, syukurlah ... kasihan anak semata Mak kalau istrinya terus jadi penghibur panggung. Masih ingat Mak dulu Razi termenung kosong sendiri waktu kau pergi ke Eropa berbulan-bulan. Mak restui kalian ... hanya sudah Mak bilang lebih baik beristri pekerja kantor atau guru dan bidan. Tapi, ya ... Razi itu mirip Abaknya, mudah memaklumi," ujarnya lagi.

Lihat selengkapnya