Our Golden Blanket

Wachyudi
Chapter #6

Our Golden Blanket

​Aku dan Sabaiku sedang berjalan di taman dekat kompleks perumahan kami. Kami berdua tengah mengajak jalan-jalan sore Zamaruda yang kini berusia dua tahun. Kudorong perlahan stroller tempat baby Zama duduk tenang menikmati jalan-jalan kami sore itu. Sabaiku berjalan di sebelahku sembari membawa belanjaan jajanan yang tadi kami beli, seraya menggigiti dua batang sosis panggangnya.

​"Uda kemarin alah tengok Mahalik di kampuang?" tanyanya.

​"Sudah, Sabai. Benar-benar tangguh anak sulung kita itu, patuh pada gurunya pula," jawabku, mengingat kunjunganku terakhir ke Pondok Pesantren Al-Azimatu di Kampuang Mahalintang.

​Ponpes tersebut memang didirikan khusus oleh tetua Mahalini. Kata Abak Rama, pesantren tersebut memang tempat penggemblengan dasar anak-anak Mahalini. Bundo Arunika menyebutnya wajib didik Inyak Balang, di mana para keturunan Mahalini memperoleh pendidikan dasar khusus khas keluarga besar Mahalini. Semua anak dengan garis keturunan Mahalini wajib memenuhi enam tahun pendidikan ini. Pesantren itu sendiri terbagi menjadi dua kompleks, Al-Ikhwan dan Al-Akhwat, yang seperti namanya memisahkan antara pondok untuk santri pria dan santri wanita.

​"Tentu saja, garis keturunan kami adalah Mahalini terkuat," ujarnya penuh kebanggaan.

​"Razi yakin akan hal itu, Sabai... yo terlihatlah dari bundo mereka yang tangguh," balasku.

​Wajah Sabai merona. Aku tahu ia suka kupuji meski biasanya ia akan agak enggan menunjukkan perasaannya itu. Rasa malu-malunya itu biasanya dia lampiaskan lewat sentuhan lembut padaku.

​"Aduuuh!" latahku ketika Sabai mencubitku karena malu dipuji. Ya sentuhan lembut seperti itu.

​Tiba-tiba ada empat orang remaja wanita menghampiri kami. Mungkin seusia anak sekolah SMA.

​"Permisi, Mbak, boleh foto bareng?" ucap salah satunya yang berkerudung merah.

​"Kalian minta tolong difotokan?" tanyaku.

​"Bukan, Om, mau minta foto bareng sama Mbak Angreanya... bener, kan, Mbak tuh Angrea Pink Velvet? Kami fans The Goldennya Mbak," Kali ini temannya yang berkerudung hitam bicara.

​Keempatnya mengangguk-angguk. Sabaiku lalu beralih menoleh padaku.

​"Bolehkah, Razi?" tanyanya meminta izinku.

​"Oh... ah, iya, boleh saja, Sabai. Ini penggemar Sabai, kan? Dan lagi bukan laki-laki," jawabku.

​Sabaiku mengangguk, lalu lanjut meladeni permintaan foto bareng keempat remaja wanita tersebut. Ia begitu piawai bersikap dengan para penggemarnya. Tetap ramah, namun bisa menjaga jarak dan tegas soal privasi.

Aku cukup dibuat terkejut ternyata meski Sabai sudah tidak berkarir di dunia menyanyi, namun popularitasnya masih cukup kuat hingga saat ini. Ini bukan pertama kalinya kami didatangi para "peminta foto bersama" dengan tiba-tiba.

​"Makasih ya, Mbak. Hmm Mbak Angrea, Pink Velvet udah nggak manggung lagi, kah, sekarang?" tanya seorang yang berkerudung putih.

Lihat selengkapnya