Dengan kehidupan yang kujalani sekarang, rasanya aku tidak berbeda jauh dari budak pada masa penjajahan. Bahkan budak masih menerima upah atas kerja keras mereka, meskipun hanya sedikit.
Satu-satunya hal yang sering membuat orang terkejut adalah penampilanku.
Ya, aku mengakui bahwa ini merupakan salah satu kelebihan yang diam-diam kubanggakan. Ke mana pun aku pergi, selalu ada saja orang yang melontarkan pujian.
Orang-orang tua sering berkata, "Ih, tangannya putih dan halus sekali. Pasti di rumah tidak pernah membantu orang tua, ya?"
Setiap kali mendengarnya, aku hanya bisa tertawa dalam hati.
Andai mereka tahu.
Di balik tangan yang dianggap halus itu, tersimpan lelah yang tidak pernah benar-benar beristirahat. Di balik wajah yang katanya cantik, ada seorang gadis yang setiap hari bergulat dengan pekerjaan yang bahkan kerap dilakukan oleh laki-laki dewasa.
Lucu, bukan? dengan pekerjaan berat layaknya ahli besi yang kekar dan ganas, aku masih bisa berparas cantik dan anggun
Pujian demi pujian datang silih berganti, tetapi tidak satu pun mampu membuatku merasa bangga. Apalagi bersyukur.
Siapa yang bisa dengan mudah bersyukur ketika hidup sebagai perempuan yang dipuji karena kecantikannya, tetapi dipaksa menjalani hari-hari layaknya seorang pekerja yang tak pernah mengenal kata istirahat?
Namun, mungkin memang beginilah garis hidup yang telah dituliskan untukku.
Mungkin aku memang ditakdirkan untuk bangun sebelum matahari terbit, memikul beban yang terlalu berat untuk usiaku, lalu kembali tidur dengan tubuh yang nyaris tak memiliki tenaga tersisa.
Menyedihkan.
Sungguh menyedihkan.
"GRIZELLDA! GRIZELLDA! GRIZELLDA!"
Suara melengking itu menghantam lamunanku tanpa ampun.