OUR ORDINARY CHAOS

Reagen Rafael
Chapter #3

Masa Depan?

“HIDUP KAMU TUH GA JELAS, GA ADA MASA DEPAN!” ucap wanita itu ketika aku sedang duduk selama dua menit setelah memerah dua puluh sapi dalam waktu dua jam.

Em… satu-satunya yang jelas terlihat dari diriku adalah bekas luka, memar, dan sayatan yang diakibatkan oleh pekerjaanku ini, dan sesekali juga karena pria besar yang sering kami sebut sebagai ayah.

Ngomong-ngomong soal masa depan, alasan paling utama aku tetap bertahan sampai detik ini adalah karena tawaran menggiurkan yang diberikan oleh tanteku.

Pada saat Tahun Baru kemarin, tanteku berkunjung ke rumah kami di pedalaman Sumatra Utara yang sangat jauh dari kata “modern”.

Dia datang bersama anaknya yang sangat cantik. Tapi ya… tetap cantikan aku sih, hehe.

Dia datang sambil membawa seribu satu makanan yang entah apa namanya, aku pun tidak pernah melihatnya sebelumnya.

Hehe, maaf. Soalnya aku sehari-hari hanya makan bayam, nasi, dan kadang ikan asin sebulan sekali. Jadi melihat makanan yang sangat berlimpah itu, aku menjadi sangat bersemangat dan langsung melahap semuanya tanpa ampun.

Aku sampai menangis karena bisa merasakan makanan enak sebanyak itu secara gratis, tanpa perlu berjalan delapan kilometer ke pasar tradisional terdekat sambil menjual daganganku. Rasanya aku tidak percaya ada makanan seenak itu di bumi yang bagiku terasa seperti tempat paling suram dan mengerikan.

Di saat aku sudah terjatuh dalam dunia surga sementaraku, tiba-tiba tanteku mengeluarkan sebuah kalimat yang menarik perhatian anak gadis yang sangat prihatin ini.

“Kalau kupikir-pikir, kasihan juga Grizellda. Selama hidupnya begini terus. Apalagi dia sudah mulai bertambah usia dan sudah saatnya sebagai remaja menemukan jati diri dan mengeksplor dunia bersama teman sebayanya.”

Lihat selengkapnya