Minggu demi minggu berlalu. Penderitaan abadi ini tetap aku jalani sebagai perempuan kecil, namun berjiwa ksatria.
Kala itu sudah akhir Juni, mendekati Juli. Aku masih terus mengingat tawaran dari tanteku hingga saat ini, dan selalu menanti kedatangannya untuk menjemputku. Aku tidak mau jika tanteku batal membawaku pergi. Aku harus didaftarkan oleh orang tuaku ke SMA yang jaraknya sangat jauh dari rumah ini. Sungguh, aku sudah terlalu lelah… dan tidak sanggup lagi.
Sambil terus berdoa dan diliputi harap-harap cemas, aku selalu menunggu di depan pintu, menanti kedatangan mobil Alphard tanteku.
Namun seperti yang kita semua tahu, Tuhan itu baik. Dia selalu mendengar seruan dan doa umat-Nya.
Wanita tinggi yang sejak lama aku nanti dan aku harapkan kini benar-benar muncul di hadapanku. Ia mengenakan setelan kerja yang rapi, dan wanginya seolah menandakan bahwa kehidupannya berada di dunia yang sama sekali berbeda dariku.
Carly. Tanteku. Tinggi, cantik, dan kaya. Wanita yang selalu kusebut dalam doa—bahkan lebih sering daripada nama ibuku sendiri. Wanita yang selalu hadir dalam mimpiku di atas kasur jerami, dan yang wajahnya selalu kubayangkan di sela-sela lelahku memotong daging sapi. Dan kini… wanita itu benar-benar ada di hadapanku.
Tanpa bisa menahan diri, aku langsung melompat dan memeluknya erat sambil menangis.
“Tante… Tante… aku sangat menantikan kedatanganmu. Tolong… tolong bawa aku pergi dari sini.”
Di tengah pelukan hangat itu, saat aku larut dalam kebahagiaan yang nyaris tak percaya, ibuku tiba-tiba datang.
Di tangannya tergenggam pisau pemotong daging yang masih berlumuran darah. Tatapannya tajam, penuh benci, namun entah mengapa dibungkus dengan senyum yang terasa dipaksakan.
“Eh, ngapain di situ?” tanyanya kaku.
Karena takut melihat sosok yang selalu terasa seperti “nenek sihir” dalam hidupku, aku segera melepaskan pelukanku dan berlari ke dalam rumah untuk membereskan barang-barangku.
Aku tahu belum tentu aku akan diizinkan pergi bersama Tante Carly. Tetapi kali ini, aku tetap bergerak cepat. Aku mengemasi pakaian dan alat tulisku dengan tangan yang sedikit gemetar.
Setelah selesai berkemas, aku berjalan menuju kamar mandi di belakang rumah, yang letaknya cukup jauh dari bangunan utama. Aku mandi dengan air sumur yang dinginnya seperti menusuk kulit.
Setelah itu, aku merapikan diri. Rambutku kujepit dengan jepitan lama yang warnanya telah menghitam—aku bahkan tidak ingat sejak kapan benda itu menjadi milikku. Rasanya seperti peninggalan dari masa yang lebih tua dari hidupku sendiri.
Aku menatap diriku di cermin retak itu. Wajahku tampak tenang… bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang hendak meninggalkan seluruh hidupnya.