Gadis itu duduk dengan kaku di kursi depan, di samping Tante Carly. Dengan postur tubuh tegak dan rambut panjang hingga pinggang, Marianne tampak seperti kuntilanak jika dilihat sekilas.
Awalnya, selama dua puluh menit perjalanan menuju bandara, suasana di dalam mobil terasa canggung dan dingin. Tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut kami bertiga.
Namun akhirnya, dengan suara yang dingin dan jutek, Marianne memecahkan keheningan itu.
Saat pertama kali bertemu Marianne di tahun baru, dia adalah gadis yang sangat tinggi dengan rambut hitam tebal panjang hingga pinggang. Ia memiliki hidung mancung, gaya bicara yang elegan dan dewasa, serta aura wanita berkelas yang sangat terasa. Gerak-gerik tubuhnya menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang tenang, terdidik, dan sangat menjaga sikap.
Di tengah keheningan itu, tiba-tiba terdengar suaranya yang datar.
“Senang ya bisa ikut ke Bandung. Jaga sikap ya, jangan kampung!”
“Apa-apaan?” batinku.
Aku bahkan belum pernah berbicara dengannya sama sekali. Bahkan sejak pertama kali masuk ke mobil, aku sudah berusaha bersikap ramah, meski tidak ada yang benar-benar memperhatikan.
“Buset, ini orang lancang banget. Padahal kukira dia mau mengajak ngobrol dengan ramah,” batinku kesal.
“Hei, Marianne! Tidak baik berbicara seperti itu kepada saudaramu! Jangan kau ulangi lagi! Bicara yang benar!” tegur Tante Carly dengan tegas.
Namun tidak ada jawaban dari Marianne. Setelah itu, suasana kembali hening.
Keheningan itu terasa berat, dingin, dan canggung. Ditambah hujan deras yang mengguyur kawasan Deli Serdang sore itu, suasana terasa semakin kelabu dan mencekam.
Jujur saja, aku mulai merasa tidak nyaman. Aku hanya berharap kami segera sampai di bandara.
Tak lama kemudian, kami akhirnya tiba di Bandara Kualanamu tepat pukul lima sore. Tante Carly segera memarkirkan mobil, lalu kami turun bersama. Kami berjalan menuju bandara sambil menenteng barang bawaan di satu tangan dan payung di tangan lainnya.
Sesampainya di dalam, kami duduk dan meletakkan barang di dekat kami masing-masing. Saat kami sibuk dengan pikiran masing-masing, Tante Carly berkata,
“Eh, aku ke toilet dulu ya. Kalian jangan ke mana-mana!”