“Hatur nuhun nya, A!” ucap Tante Carly ketika ia diberi tahu alamat tempat tujuan kami nanti.
Akhirnya kami menaiki taksi BlueBird dan segera bergegas menuju tempat tujuan. Hari sudah malam, dan kami semua mulai lelah.
Kota Bandung malam itu terasa begitu hidup dan romantis. Aku melihat ke sekeliling, dan di sana banyak sekali anak muda yang sedang berpacaran, saling bermesraan di bawah sorot lampu jalan, ditemani suasana Bandung yang terasa hangat dan menenangkan.
Belum genap sehari aku menginjakkan kaki di kota ini, aku sudah terpesona. Aku merasa seperti terikat dengan Bandung, seolah kota ini memang menungguku sejak lama. Dan untuk sesaat… aku sama sekali tidak memikirkan rumahku, keluargaku, apalagi untuk pulang.
Aku mencintai kota ini. Bandung berhasil membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Beberapa tempat kami lewati dari balik jendela taksi: Gedung Sate, Alun-alun, Jalan Asia Afrika… semuanya tampak indah dalam balutan cahaya malam.
Sekitar dua puluh lima menit kemudian, kami akhirnya tiba di tempat tujuan.
Sebuah perumahan sederhana di pinggiran Kota Bandung.
Kami segera turun, membawa seluruh barang bawaan agar tidak ada yang tertinggal, lalu berjalan menuju rumah itu.
Namun, rumah Tante Carly yang ada di dalam bayanganku selama ini sangat berbeda dengan kenyataan di hadapanku.
Rumah itu kecil. Terlalu kecil untuk seseorang yang selama ini kupikir adalah wanita sukses dan berpendidikan tinggi.
Saat kami memasuki rumah tersebut, tidak ada kemewahan. Tidak ada barang-barang branded, tidak ada kesan megah seperti yang kubayangkan.
Semua terasa sangat sederhana… bahkan terlalu sederhana.
Saat aku masih memperhatikan setiap sudut rumah itu, Tante Carly berkata dengan nada agak ketus,
“Cepat! Jangan diam saja kalian berdua. Sana mandi, habis itu langsung tidur. Besok kita keliling Bandung.”
“Asyik,” ujarku pelan dengan gembira.
“Cih, kampung,” gumam Marianne sinis.
“Aku mandi dulu ya,” ucap Marianne dengan jutek, lalu pergi begitu saja.
Sikapnya membuat kekesalanku padanya semakin bertambah.
“Hei, Marianne! Sana mandi! Jangan membuang waktu!” tegur Tante Carly tegas, mengakhiri ketegangan itu.
Lalu ia menoleh kepadaku.