OUR ORDINARY CHAOS

Reagen Rafael
Chapter #7

Grizellda dan Tante Carly

“Ih, apa ini… silau,” batinku.

Sinar matahari langsung menyinari mataku dan membuatku terbangun seketika. Aku langsung tersentak ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul 12 siang.

“ASTAGA!” Aku segera bangun, merapikan tempat tidurku dengan cepat, lalu berlari ke bawah untuk menemui Tante Carly. Di kepalaku hanya satu pikiran: apakah dia akan marah karena aku bangun selarut ini?

Namun sesampainya di bawah…

“Oh, lihat Mah. Si pemalas. Anak gadis kok bangun jam segini,” ujar Marianne dengan nada penuh sindiran.

“Ma-ma… maafkan aku, Tan—” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Tante Carly tiba-tiba mengusap rambutku dengan lembut.

“Oh tidak apa-apa, sayang. Kamu pasti sangat lelah, kan? Makan dulu saja.”

Seketika suasana berubah.

Ucapan lembut itu membuat Marianne langsung memanas. Wajahnya tampak menahan emosi.

“Mah, kok gitu?! Aku kalau bangun jam tujuh saja Mama pasti siram pakai air dan dimarahi seharian!”

“Diam, Anne! Jangan meninggikan suara seperti itu. Aku ini ibumu!” bentak Tante Carly tegas.

Marianne terdiam sesaat, tetapi emosinya belum mereda.

“Dengar, Anne,” lanjut Tante Carly. “Setiap hari Grizel bangun pukul empat pagi dan bekerja. Pekerjaan yang mungkin tidak akan sanggup kamu lakukan.”

“Dia juga tidak tidur di kasur empuk seperti kita. Dia tidur di atas tumpukan jerami.”

Aku sedikit tersinggung mendengar itu, meskipun… itu benar.

“Jadi tidak salah kalau Grizel akhirnya tidur sangat pulas di kamar berbusa,” lanjut Tante Carly.

Setelah itu, aku diminta makan dan bersiap mandi karena kami akan berjalan-jalan ke Bandung.

Setelah makan dan mandi, aku segera merapikan diri. Hari ini aku ingin terlihat lebih rapi dari biasanya.

Tak lama kemudian kami bersiap keluar.

Namun saat aku hendak masuk mobil—

“OH, jadi ini saja baju yang kamu punya?” sindir Marianne. “Ini baju kampung banget.”

Aku menggigit bibir, menahan kesal.

Namun lagi-lagi Tante Carly membelaku.

“Anne, kamu tahu dia tidak punya baju sebagus milikmu. Hormati dia.”

Lihat selengkapnya