Tak terasa, sudah begitu banyak tempat yang aku dan Tante Carly kunjungi selama berjalan-jalan di Braga. Mulai dari mencoba photobox, masuk ke rumah hantu, sampai mencicipi berbagai makanan terkenal yang bahkan tidak pernah kubayangkan bisa kumakan seumur hidupku.
Jujur saja, selama lima belas tahun hidup di dunia ini, aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di pusat perbelanjaan. Membeli baju baru di toko loak saja aku tidak pernah. Setiap kali menginginkan pakaian baru, ibuku selalu memberikan baju bekas miliknya yang sudah lusuh dan kebesaran. Kadang aku berpikir, kalau baju-baju itu diberikan kepada sapi di kandang pun mungkin mereka akan menolaknya.
Namun hari ini berbeda.
Aku berjalan menyusuri Braga dengan tangan penuh kantong belanja dan perut kenyang. Rasanya seperti sedang menjalani kehidupan orang lain. Kehidupan yang selama ini hanya bisa kubayangkan saat sedang membersihkan kandang sapi atau berjalan kaki menuju sekolah.
Saat aku dan Tante Carly sedang asyik mengobrol dan tertawa, ia tiba-tiba melirik jam tangannya.
"Astaga! Sudah jam sepuluh malam?"
Aku langsung menoleh kaget. Rasanya baru beberapa saat yang lalu kami tiba di Braga, padahal ternyata waktu sudah melesat begitu cepat.
"Yuk, Anne, Griz. Bereskan barang-barang kalian. Kita pulang sekarang. Sudah malam."
Aku mengangguk dan segera mengumpulkan semua barang belanjaanku sebelum berlari menyusul mereka menuju mobil yang sudah menunggu.
Begitu masuk ke mobil, suasana langsung berubah hening. Mungkin karena kami semua kelelahan setelah berjalan hampir seharian. Aku sendiri masih sibuk memandangi kantong-kantong belanjaanku, memastikan semuanya nyata dan bukan mimpi.
Di tengah perjalanan, Tante Carly tiba-tiba berkata, "Grizel sayang, nanti kamu akan Mama sekolahkan di sekolah yang sama dengan Marianne, ya."
Aku langsung menoleh. Dalam hati, aku sudah bersiap mendengar protes, teriakan, atau paling tidak sindiran pedas dari Marianne.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
"Oh, ya sudah. Nggak apa-apa."
Aku mengernyit. Aneh sekali. Seharian ini dia tidak berhenti menyindirku, tetapi sekarang malah setuju begitu saja. Namun sebelum aku sempat bertanya, suara dengkuran pelan terdengar dari sampingku.
Tante Carly tertidur.
Beberapa detik kemudian, Marianne juga ikut tertidur.
Aku terkekeh kecil lalu menyandarkan tubuh ke kursi dan menatap keluar jendela. Langit Bandung malam itu tampak cerah. Bintang-bintang bertebaran seperti taburan berlian. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa seperti menemukan cahayaku sendiri.
Mungkin Tuhan benar-benar mendengar doaku.
Mungkin selama ini jawaban dari semua tangisku adalah Tante Carly.
Bahkan malam itu aku sempat berharap, andaikan saja aku bisa menjadi anaknya. Andaikan saja wanita itu adalah ibuku.
Tanpa terasa mobil berhenti di depan rumah. Saat aku turun, Tante Carly dan Marianne ternyata sudah berjalan lebih dulu. Aku segera menyusul setelah mengucapkan terima kasih kepada sopir.
Begitu masuk ke dalam rumah, Tante Carly langsung berkata, "Bereskan barang kalian, cuci tangan, kaki, dan muka. Setelah itu langsung tidur."
Aku mengangguk. Namun saat aku dan Marianne hendak naik tangga, suaranya kembali terdengar.