"Selamat datang, para peserta didik baru di sekolah kami. Silakan membuat diri kalian nyaman dan menunggu di dalam aula untuk diarahkan oleh pendamping OSIS."
Kurang lebih seperti itulah yang dikatakan guru yang berjaga di depan gerbang sekolah pagi itu.
Tak terasa, Juli kembali datang. Hari pertama tahun ajaran baru akhirnya tiba. Dan hari ini juga menandai satu bulan penuh sejak aku resmi menjadi anak Bandung.
Banyak hal berubah selama sebulan terakhir.
Aku mulai terbiasa menggunakan bahasa Sunda dalam percakapan sehari-hari. Nada bicaraku yang dulu keras dan meledak-ledak khas keluarga Batak perlahan menjadi lebih halus. Sekarang aku sudah terbiasa memanggil perempuan muda dengan sebutan "teh" atau "neng".
Dan yang paling mengejutkan, hubunganku dengan Marieanne juga jauh lebih baik.
Kami sudah mulai sering mengobrol, bercanda, bahkan sesekali saling mengejek tanpa berakhir dengan perang dunia ketiga.
Mungkin karena selama ini Marieanne adalah anak tunggal yang sering ditinggal ibunya bekerja. Jadi ketika tiba-tiba ada seseorang yang tinggal serumah dengannya, lama-kelamaan ia juga membutuhkan teman bicara.
Meski begitu, ada satu hal yang sama-sama tidak kami sukai.
Sekolah ini.
Ukurannya kecil. Jauh dari bayanganku tentang sekolah impian di Bandung.
Tapi kalau dibandingkan dengan SMP lamaku di desa, sekolah ini masih terasa seperti istana.
Di sekolah lama, kami pernah belajar di kelas yang kebanjiran lumpur. Beberapa kursinya keropos dimakan rayap. Lapangan upacara pun tidak ada, sehingga kami harus berbaris di tanah kosong yang bahkan aku sendiri tidak tahu itu milik siapa.
BRUK!
Suara benturan keras memecahkan lamunanku.
Aku menoleh dan mendapati seorang anak laki-laki terjatuh tepat di depan kami.
Kurasa dia tertabrak olehku.
"Jwdjfbecworver..."
"Hah?" Marieanne mengernyit. "Apa?"
"Jkwdkjxdwekjkxn..."
"Bisakah kau membesarkan suaramu sedikit, Bung?"
Anak laki-laki itu menunduk makin dalam.
"Ma-ma-maaf..."
Aku dan Marieanne saling berpandangan.
"Tahu apa?" kata Marieanne akhirnya. "Lupakan saja. Cepat masuk ke aula sebelum telat."
Kami pun bergegas menuju aula yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempat kami berdiri.
Sebenarnya aku sempat menoleh ke belakang.
Anak laki-laki itu sedang membereskan dirinya dan berusaha berdiri.
Aku merasa tidak enak.
Tapi sungguh, aku tidak mengerti satu kata pun yang tadi ia ucapkan.
Sesampainya di aula, kami segera mencari kursi sesuai nama yang tertera.
Aku dan Marieanne tidak duduk berdampingan. Ia berada beberapa baris di depanku, sedangkan aku mendapat kursi paling belakang.