OUR ORDINARY CHAOS

Reagen Rafael
Chapter #10

Teman Baru? Keluarga Baru?

"MANUK DADALI, MANUK PANGGAGAHNA..."

Lagu itu kembali menggema di seluruh ruangan sekolah. Tak lama kemudian, Bu Moerani muncul di depan kantin sambil bertepuk tangan keras.

"AYO, AYO! BERESKAN MAKANAN KALIAN DAN SEGERA KEMBALI KE AULA!"

Mendengar teriakannya, aku, Marieanne, dan Hordbel segera meneguk minuman terakhir kami sebelum berlari menuju aula sambil membawa bekal masing-masing.

Di tengah perjalanan, Hordbel yang berjalan terburu-buru tak sengaja menyenggol seorang gadis.

Dan gadis itu... astaga.

Cantik sekali.

Sampai-sampai aku curiga ada artis yang sedang menyamar menjadi murid SMA di sekolah ini.

"Hei! Perhatikan langkahmu!" bentaknya sambil mendorong Hordbel.

Hordbel hanya menunduk dan bergumam pelan.

Aku langsung merasa kasihan.

Hari pertama sekolah memang selalu membuat orang gugup.

Saat kami tiba di aula, Bu Moerani sudah berdiri di depan panggung dengan mikrofon di tangan.

"Pukul sepuluh tepat!" serunya bangga. "Ibu senang karena kalian semua disiplin waktu."

Di belakang beliau terdapat beberapa papan pengumuman besar.

"Di belakang kalian ada daftar kelas beserta wali kelas masing-masing. Ibu harap tidak ada yang saling dorong saat melihat nama."

Tentu saja harapan itu langsung hancur dalam hitungan detik.

Begitu Bu Moerani selesai berbicara, seluruh murid baru berhamburan menuju papan pengumuman seperti sedang berburu diskon besar-besaran.

Aku memilih tetap duduk.

Malas berdesakan.

Berbeda dengan Marieanne yang sudah melesat lebih dulu dan ikut berebut tempat.

"Jika kalian sudah menemukan kelas masing-masing, segera menuju kelas!" suara Bu Moerani kembali menggema dari pengeras suara.

Namun suasana aula justru semakin ricuh.

Butuh hampir tiga puluh menit sampai kerumunan itu benar-benar bubar.

Saat aula mulai sepi, hanya tersisa aku dan Hordbel.

Seperti biasa, dia diam.

"Hei," kataku sambil berdiri. "Mau lihat daftar kelas bareng?"

Anehnya, kali ini dia mengangguk.

"Tentu."

Aku sampai hampir mengira pendengaranku bermasalah.

Saat kami hendak berjalan, tiba-tiba seseorang menepuk bahuku dari belakang.

Aku refleks menjerit kecil.

Ternyata Marieanne.

"Hei, kalian kok masih di sini?" tanyanya.

"Kami belum lihat kelas. Tadi terlalu ramai."

"Oh."

Lalu matanya beralih ke Hordbel.

"Halo."

Nada suaranya masih terdengar agak sinis.

Hordbel tidak menjawab.

Marieanne memutar mata.

"Ya sudah, ayo lihat sama-sama."

Kami bertiga berjalan menuju papan pengumuman.

Tak butuh waktu lama sampai aku menemukan namaku.

Lihat selengkapnya