Anggara tersenyum, Radit juga tersenyum, Ucok juga ikut senyum-senyum. Para bawahan di skuadku semuanya tersenyum tidak biasa ketika berpapasan denganku.
Ah ya, senyum itu tidak salah, malah bernilai ibadah, dan hal yang lumrah jika dilakukan bawahan pada atasan. Hanya saja, apa ya, sangat aneh. Biasanya bertemu hanya menyapa formal saja, sesuai kode etik keprajuritan berdasarkan pangkat. Hari ini juga sama, hanya ada yang beda. Seperti ada sesuatu yang spesial begitu ketika berpapasan denganku. Hari ulang tahunku? padahal masih jauh.
Aku tengah memberikan pengarahan pada beberapa anggota muda Skuad Rider dari Jakarta. Para anggota muda ini akan mengikuti pelatihan Kopassus dan tentunya membutuhkan arahan dari yang berpangkat lebih senior. Mereka nantinya akan mengikuti pelatihan khusus selama 15 minggu. Dan selama itu mereka akan dikarantina demi tujuan pembentukan standar prajurit yang andal.
Aku sendiri sudah melewati berbagai macam pelatihan semenjak mendaftarkan diri menjadi seorang prajurit. Dan pengalaman-pengalaman itu membentuk fisik dan mental serta kapabilitas sebagai seorang individu yang bertanggung jawab pada negara ini. Maka dari itu, saat ini aku dengan sukarela dan penuh semangat memberikan materi terbaikku agar para anggota muda yang akan mengikuti pelatihan ini bisa siap menjadi seorang ksatria muda kelak.
Selama sekitar tiga jam, aku memberikan materi yang ditutup dengan tanya jawab singkat. Bisa kulihat semangat juang dari para anggota muda ini yang begitu menyala, hal yang memang diharapkan dari seorang calon pasukan khusus. Setelah acara ini selesai, aku bisa kembali ke ruanganku sampai jam kerjaku selesai.
"Anggota muda sekarang bervariasi ya, Nan," ujar Satya membuka obrolan santai.
"Bervariasi bagaimana?" Aku meminta penjelasan lebih dari pernyataannya.
"Latar belakang, tempat kelahiran, asal suku, sampai tingkat ekonomi keluarga juga," jawab Satya lugas.
"Oh iya, saya sudah lihat beberapa profilnya. Ya, itu berarti minat untuk masuk ke dalam keprajuritan di lulusan angkatan yang ini semakin tinggi," jawabku menarik kesimpulan sementara.
Satya mengangguk-angguk. Kami berdua sedang berjalan di koridor menuju ruanganku kala berbincang-bincang ini. Sudah jadi kebiasaan dan kebutuhanku, jika dalam suasana santai, mengobrol dengan Satya meski hanya membahas hal remeh.
Beberapa prajurit berpapasan dengan kami, semuanya terlihat cukup kondusif dan terkendali.
"Menurut kamu kenapa ya Sat, hari ini orang-orang pada tersenyum sama saya?" kutanyakan hal yang sendari tadi menggangguku.
"Senyum? bagus kan," balas Satya.