Our Violet Cruise

Wachyudi
Chapter #2

No Facility, No Laifu

Karena menurut aturan kemiliteran, aku diharuskan tinggal sementara di rumah dinas yang Dirga tempati. Hanya formalitas, bukan sesuatu yang harus dilakukan dalam jangka waktu panjang, tetapi wajib dipenuhi selama tiga bulan. Sejujurnya, lingkungannya enak dan aman karena terletak di dalam markas besar. Hanya saja, hidup memang tidak pernah benar-benar semulus itu.

​"Habis joging ya, Mbak? Rajin sekali tiap hari," sapa seorang prajurit yang tampaknya kebagian piket jaga dari malam ke pagi.

​Sepertinya beliau cukup hafal rutinitasku. Wajar, karena sepertinya istri tentara yang subuh-subuh berjoging ria di sini hanya aku seorang. Bangun subuh lalu menuju jogging track, ya bagaimana, sudah jadi sebuah kebutuhan. Lagipula ini bagus kan sebagai contoh, apalagi ini markas tentara.

​"Iya, Pak, biar bugar, hehe," jawabku beramah-tamah.

​Ia pun mengangguk tersenyum sopan, lalu melanjutkan jalannya lagi.

​Sudah sekitar sebulan aku di sini. Ya, masih tetap dengan kegiatan harian rutinku, hanya saja bedanya sekarang harus tidur di rumah dinas.

​"Selamat pagi, Bu," sapaku pada seorang istri tentara lain yang sama-sama kena giliran wajib tinggal di rumah dinas.

​"Selamat pagi, Mbak Ella. Wah, rajin ya, pantas saja langsing terus," jawabnya ketika menyiram tanaman di pot.

​"Iya, ya. Ayo joging bareng, Bu, kalau mau," ajakku yang memang merasa agak kesepian selama sebulan ini.

​Kontras sekali sebenarnya perbedaan tinggal di sini dengan di rumah sendiri. Aku tidak bisa sembarangan menerima tamu, khususnya tamu yang ramai seperti Vero dan para Hypers. Aku juga tidak boleh hidup bermewah-mewah, oh my God!

​"Wah, haha, ya nanti kalau mood-nya ada, saya ikut joging," jawab si ibu yang bernama Alena sambil setengah tertawa.

​"Haha, Bu Lena nunggu mood terus keburu anak banyak lho," ujarku dengan membubuhi candaan.

​"Duh, Mbak Ella sih. Maunya rutin tapi malas tuh, belum ditambah mengurus pekerjaan rumah," jawabnya.

​"Padahal tidak rugi lho, Bu," ucapku sambil merogoh-rogoh kantong celana mencari kunci rumah.

​"Iya, gitu deh. Lena masuk dulu ya, Mbak Ella," ujarnya sambil masuk ke dalam rumah.

​Sebenarnya aku sudah sadar, sih, gaya bicaraku yang ceplas-ceplos bagi 'warga lokal' memang terlalu menohok. Ya gimana, kultur keluarga Mahaseroja seperti itu. Ditambah pengaruh Barat yang lebih suka lugas serta blak-blakan ketika menyampaikan sesuatu telah membentukku menjadi aku yang seperti sekarang.

​Aku pun masuk ke rumah dinasku. Gagang pintu plus pintunya sudah agak berumur, jadi ketika kubuka harus ada "teknik khusus" agar lancar. Untung aku masih boleh membawa penyedot debu dan cool blower. Pasalnya tidak ada AC. Hari pertama aku tidur di sini, aku kaget sampai membuat Dirga harus mengipasiku semalaman. Tetapi aku tidak boleh memasang AC sendiri, padahal rencananya itu akan kuhibahkan setelah selesai dari sini.

​Mobil pun harus pakai mobil dinas yang, eum, ya fasilitasnya amat sangat rendah banget. Bahkan Mercy-nya Dirga terasa mewah kalau dibandingkan dengan mobil dinas ini.

Lihat selengkapnya