Our Violet Cruise

Wachyudi
Chapter #3

Because Of You

Aku dan Dirga sedang workout bersama di gym milik Bang Djuriat. Bang Djuriat membebaskan aku untuk datang kapan pun. "Servis ala para Mahalini," katanya. Namun, meski begitu, aku tetap datang dua kali dalam seminggu sesuai jadwal rutin atau mengabari jika ada perubahan. Manners make it different. Bersaudara pun tetap harus menerapkan sopan santun. Bang Djuriat memang selalu bisa diandalkan dan peduli pada keluargaku. Ya, walaupun kata Angrea, dia orangnya ogah-ogahan jika Angrea atau Bian yang meminta tolong. Haha, sepertinya hubungan kakak-adik memang serunya seperti itu.

​Aku dan Ina pun entah bagaimana sangat menikmati pertengkaran ala kakak-adik. Aku, sih, yang waktu kecil sangat jahil. Setiap Ina punya sesuatu, rasanya tidak lengkap kalau belum berebut dengannya dan melihatnya menangis. Padahal, setelah rebutan itu selesai, aku memang tidak tertarik dengan barangnya; yang seru itu proses rebutannya. Regi paling putus asa jika ia, misalnya, menyuruhku untuk melepaskan gunting yang kupegang agar tidak memotong rambutku sendiri. Namun, aku justru menempelkannya pada rambutku, mengancamnya. Regi pasti menggaruk-garuk kepala sampai rambutnya acak-acakan jika sudah begitu. Akhirnya, aku memotong sedikit rambutku dan Regi panik setengah mati takut guntingnya mengenai bagian tubuhku yang lain. Haha, maaf Papa, itu kebandelan anakmu dulu—atau ya, mungkin sekarang pun masih ada.

​"... 298, 299, 300 ..." ujar Dirga menghitung sit-up-nya, lalu menyelesaikannya dengan berbaring mengatur napas.

​"300 push-up, 300 pull-up, 300 squat, 300 crunch... nice..." ujarku.

​"Crunch?" tanya Dirga.

​"Oh iya, Ella salah. Sit-up maksudnya," ralatku.

​"Senang punya suami bugar. Prajurit memang harus perkasa ya, Yank?" ucapku sambil memberikan handuk.

​"Ah ya, sejujurnya Dirga amat rutin nge-gym itu pas setelah nikah, kok," jawabnya seraya mengelap keringat di tubuhnya.

​"Oh, memang sebelumnya tidak? Kan tentara, masa tidak?" tanyaku agak heran.

​"Latihan fisik, cuma tipenya bukan fokus membentuk otot ala binaragawan. Lebih ke daya tahan. Ya membentuk otot juga, cuma apa ya, bukan untuk keindahan... lebih kejam, haha," jawabnya sambil tersenyum lebar.

​"Oh, memang kalau nge-gym begini beda rasanya?" tanyaku dengan wajah penasaran.

​Kami sedang duduk beristirahat setelah 98 menit melatih tubuh.

​"Beda... lebih mewah, lebih adem, haha," jawabnya benar-benar tertawa. Sepertinya endorfin dalam tubuhnya mulai berefek. My Hubbie tertawa saja, sih.

​"Terus kenapa rutin nge-gym-nya setelah nikah?" tanyaku lagi.

​Ada rasa nikmat mengetahui tentangnya lebih dalam. Mengenalnya lebih dekat, karena ya, aku mencintainya. Aku ingin jadi orang yang paling tahu tentangnya hingga hanya Tuhanlah yang lebih unggul dariku.

​"Hmm, mau tahu?" tanyanya duduk lebih dekat.

​"Eum hmmm..." jawabku, mungkin sudah memasang wajah polos.

​"Pas malam pertama, eh, subuh pertama... 'Wow, istri saya atletis sekali tubuhnya,' jadi merasa tersaingi. Jadi Dirga tambahkan nge-gym biar kelihatan kekar juga," jawabnya. Imut sekali.

​"Hahaha! Jadi senang tahu alasannya karena Ella. Merasa bangga," ujarku tertawa setelah mendengar pengakuannya.

​"Iya, kan... Dirga mau tetap awet muda dan perkasa sampai tua buat Ayank, biar bisa sampai 100 tahunan, hehe," ucapnya sambil tertawa kecil.

​"Mau 5.000 tahun juga Ella temani. Ella akan suka Ayank bagaimanapun... tapi eum, yang begini seksi, sih..." ucapku sambil berbisik di telinganya.

​Aku lalu menciumnya. Ia agak terkejut menerima ciuman dariku.

Lihat selengkapnya