Aku dan Dirga sedang workout bersama di Gym milik Bang Djuriat. Bang Djuriat membebaskan aku untuk datang kapan pun, 'servis ala para Mahalini', katanya. Namun, meski begitu, aku datang dua kali dalam seminggu di jadwal rutin atau mengabari kalau ada perubahan. It's manner make it different. Bersaudara tetap harus menerapkan sopan santun. Bang Djuriat memang selalu bisa diandalkan dan care pada keluargaku. Ya, walaupun kata Angrea dia orangnya ogah-ogahan kalau Angrea atau Bian yang minta tolong. Haha, sepertinya kakak adik memang serunya seperti itu.
Aku dan Ina pun entah bagaimana seperti menikmati pertengkaran ala kakak adik. Aku sih yang waktu kecil jahil. Setiap Ina punya sesuatu rasanya tidak lengkap kalau belum berebut dengannya dan melihatnya menangis. Padahal, setelah rebutan itu selesai, aku memang tidak tertarik dengan barangnya; yang seru itu rebutannya. Regi paling putus asa ketika ia, semisal, pernah menyuruhku untuk melepaskan gunting yang kupegang dan tidak memotong rambutku. Tetapi aku justru menempelkannya pada rambutku, mengancamnya. Regi pasti menggaruk-garuk kepalanya sampai rambutnya acak-acakan kalau sudah begitu. Endingnya, aku memotong sedikit rambutku dan Regi panik takut guntingnya mengenai bagian tubuhku yang lain. Haha, maaf Papa, kebandelan anakmu dulu, atau ya kalau sekarang masih ada.
"... 298, 299, 300 ..." ujar Dirga menghitung sit up-nya lalu menyelesaikannya dengan berbaring mengatur napas.
"300 push up, 300 pull up, 300 skuad, 300 crunch ... nice ..." ujarku.
"Crunch?" tanya Dirga.
"Oh iya, Ella salah, sit up maksudnya ..." ralatku.
"Senang punya suami bugar ... prajurit memang harus perkasa ya, Yank?" ucapku sambil memberikannya handuk.
"Ah ya, sejujurnya Dirga amat rutin ngegym tuh pas habis nikah kok," ia menjawab seraya mengelap keringat di tubuhnya.
"Oh, memang sebelumnya tidak? kan tentara, masa tidak?" tanyaku agak heran.
"Latihan fisik, cuma tipenya bukan fokus membentuk otot ala binaragawan ... tetapi daya tahan, ya membentuk otot juga, cuma apa ya, bukan untuk keindahan ... lebih kejam, haha," jawabnya sambil tersenyum lebar.
"Oh, memang kalau ngegym gini beda rasanya?" tanyaku sambil memasang wajah penasaran.
Kami sudah sedang duduk beristirahat setelah 98 menit melatih tubuh.
"Beda ... lebih mewah, lebih adem, haha," jawabnya benar-benar tertawa. Sepertinya endorfin dalam tubuhnya mulai berefek. My Hubbie tertawa saja sih.
"Terus kenapa rutin ngegym-nya setelah nikah?" tanyaku lagi.
Ada rasa nikmat mengetahui tentangnya lebih dalam. Mengenalnya lebih dekat, karena ya aku mencintainya. Aku ingin jadi yang paling tahu tentangnya hingga hanya Tuhanlah yang lebih unggul dariku.
"Hmm, mau tahu?" tanyanya duduk lebih dekat.
"Eum hmmm ..." jawabku mungkin sudah memasang wajah polos.
"Pas malam pertama, eh subuh pertama ...'Wow, istri saya atletis sekali tubuhnya,' jadi merasa tersaingi. Jadi Dirga tambahin ngegym biar kelihatan kekar juga," jawabnya, imut sekali.
"Hahaha, jadi senang tahu alasannya tuh karena Ella, merasa bangga," ujarku yang tertawa setelah mendengar alasannya.
"Iya kan ... Dirga mau tetap awet muda dan perkasa sampai tua buat Ayank, biar bisa sampai 100 tahunan ... hehe," ucapnya sambil tertawa kecil.
"Mau 5000 tahun juga Ella temani, Ella akan suka Ayank bagaimana pun ... tapi eum yang gini seksi sih ..." ucapku sambil berbisik di telinganya.
Aku lalu menciumnya. Ia agak terkejut menerima ciuman dariku.
"Ini memang tidak ada orang lain, Yank? ya ... Dirga masih malu kalau di ruang publik," ujarnya, uh, tambah imut My Hubbie.
"It's a bit private for us Sayang. Masa enggak pernah sadar? Bang Djuriat memang nutup gym-nya kalau lagi dipakai sama kita ... paling keluarganya aja kayak Angrea, Bian atau Bang Djuriatnya," jawabku.