Our Violet Cruise

Wachyudi
Chapter #4

My Amazing Maharani

​Siang hari di hari Sabtu yang tenang, matahari tampak bersahabat. Awan berarak putih sebersih salju, seakan memperlihatkan bahwa langit siang itu adalah mahakarya terbaik dari Sang Pemilik Kehidupan.

​Seakan tidak ingin kalah bersaing dalam keindahan, di atas tanah, berbagai kehidupan kecil mengintip dari balik hamparan rerumputan yang terawat rapi. Beberapa kumbang beterbangan dengan jenaka bagai anak-anak kecil dalam bentuk serangga. Hewan-hewan kecil lain saling menyapa dan berinteraksi, seolah-olah ada sebuah pasar nan ramai yang terletak di bawah rumput-rumputan tersebut.

​Melengkapi semua itu, angin bertiup sepoi-sepoi menyanyikan lagu bersama barisan dedaunan rimbun. Beberapa pohon bambu tampak unjuk gigi, melantunkan melodi yang syahdu. Dan puncaknya, burung-burung bertengger di pepohonan, tengah menyanyikan sopranonya sendiri.

​Sementara itu, meluncur dari jalanan mulus, sebuah mobil Range Rover berwarna hitam memasuki gerbang Wisma Maharani. Kendaraan itu bergerak tanpa halangan, disertai sambutan hangat oleh Pak Joko.

​"Selamat datang, Non," pria berkulit sawo matang dengan kumis hitam itu mengangguk sopan ala bawahan pada majikannya.

​Dari dalam mobil, Daniella tersenyum membalas keramah-tamahan salah satu sekuriti-nya tersebut. Sebuah ritual yang selama ini tidak pernah ia lewatkan.

​Mobil bertipe 4WD itu menuju area parkir dan bertengger mulus pada tempat yang tersedia. Daniella keluar sambil menenteng tas dan beberapa berkas pekerjaan. Ia mengenakan setelan belt herringbone trousers berwarna putih dengan atasan blouse oversize hitam berpadu corak batik di bagian kanannya. Penampilannya berkesan semiformal, gaya khasnya saat mengurus urusan pekerjaan.

​Ia berjalan agak cepat seperti biasanya, namun berhenti sejenak ketika melihat suaminya. Dirga tengah berdiri di depan sebuah Kijang tua berwarna hijau tua khas militer—mobil inventaris dari kantornya. Daniella memasang wajah jenaka lalu menghampiri Dirga.

​"Datang kapan? Baru, Yank?" tanyanya, lalu mencium suaminya dengan mesra.

​"Ah, iya... tadi jam delapan pagi," jawab Dirga agak terkejut karena sedari tadi pikirannya terfokus pada kendaraan di hadapannya.

​"Terus kenapa ini? Mogok?" tanya Daniella.

​"Iya, tadi coba dipanaskan tapi tidak mau 'mengangkat'. Sudah Dirga cek, tapi belum ketemu masalahnya," jawab Dirga.

​"Hmm, ya sudah. Ella mandi dan salin dulu, ya," ujar Daniella.

​"Eh, maksudnya mau ikut membereskan? Tidak usah, Ayank baru pulang kerja, kan?" ujar Dirga keberatan. Ia tidak tega meminta tolong pada istrinya.

​"De rien, mon amour," jawab Daniella sambil mengibaskan tangan, lalu beranjak masuk.

​"Ya sudah, bawa ke basement saja. Ini harus bongkar sedikit," ucap Daniella setelah sekitar 20 menit mengutak-atik komponen pada mesin Kijang tua itu.

​Ia meminta Pak Joko untuk membantu Dirga mendorong mobil masuk ke basement.

​"Yank, minta kunci shock 17 mm," ucap Daniella.

​Dirga bergegas mengambil perkakas yang dimaksud dan memberikannya kepada istrinya.

Lihat selengkapnya