"Ayank jadi harus balik kapan?" tanyaku pada Dirgaku.
"Jumat malam, Sabtu paginya sudah harus masuk," jawab bapak Hankam ini.
"Yaaah, cuma tiga hari ya. Keburu-buru banget nih kita ke kampungnya," balasku.
"Ya gimana ya, maaf ya ... Dirga kan aparat," jawabnya. Uh, jangan bermuram durja dong.
"C'est bon, mon amour, je comprends," balasku lagi sambil mengelus tangannya.
"Apa tuh artinya? Dirga kan belum hafal semua bahasa Prancis," ucap si Ayank, huuuhuuu.
"Tidak apa-apa, Cintaku," jawabku memberi tahu arti kalimatku barusan.
"Hmm ... terus artinya apa?" tanya Dirga lagi. Wah, misinterpretasi.
"Ya itu, Ayank, tadi artinya adalah 'tidak mengapa Cintaku' gitu," balasku jadi gemas terus cubit pipinya.
"Oh kitu, abdi teurang lamun kitu mah ..." balas Dirga sambil tersenyum lebar. Ih sebel, pakai bahasa Sunda, Ella enggak biasa.
Kucubit lagi Dirgaku tapi di perut, uh, sebel sih Ellanya.
"Aaawww, haha ... ini tuh kita akan ketemu sama keluarga semua di kampung ya?" tanya Dirga sambil memegangi tanganku yang dipakai buat mencubitnya.
"Cuma ke rumah keluarga Ama saja, sama ke Mahalinggu," jawabku.
"Mahalinggu? nama desa?" tanya Dirga.
"Kampungnya Maripona. Ella mau berziarah ke makamnya," jawabku seraya tersenyum menatap Dirga.
"Oh ... iya oke," jawab Dirga mungkin agak merasa simpati.
Beberapa jam kedepan pesawat jet pribadi Bu Arunika pun terbang mulus mengantarkan kami berdua ke kampung halaman para Maharani. Pona, ini Ella datang, Ella datang bersama suami Ella, sambut kami ya.
---
Delapan orang pemuda mengenakan baju Teluk Belanga lengkap dengan Saluak di kepala mereka masing-masing. Dan bersamaan dengan itu pula, enam orang gadis muda mengenakan pakaian adat baju kurung lengkap dengan segala aksesorisnya. Mereka semua menampilkan tarian yang dinamis namun sopan dan teratur seakan sebuah gelombang di lautan. Suara dari alat musik talempong, gendang, saluang, bahkan lengkap dengan pupui sarunai terdengar meriah mengiringi tarian yang ditampilkan.
"Wow, sampai disambut gini?" tanya Dirga agak terkejut, karena begitu sampai kami disambut dengan meriah.
"Ella juga tidak tahu Ayank ... hehe, tapi ini bagus dan kayaknya Ella paham maksudnya para Mamak dan Etek," ucapku mengangguk-angguk menikmati tarian ini.
"Memang tarian apa?" tanya Dirga.
"Tari Galombang. Ini biasanya ditampilkan untuk menyambut pengantin pria di kediaman pengantin wanita. Paham kan kenapa kita disambut tarian ini? Ella senang banget, ini kehormatan," jawabku sungguh benar-benar senang.
Dirga mengangguk-angguk. Seorang penari wanita mengajakku untuk ikut bergabung dan menari bersama.
"Ayank, Ella kayaknya bisa nih tariannya ... boleh tidak Ella gabung? Biar makin meriah," ujarku menatap Dirga sambil tersenyum lebar.