Our Violet Cruise

Wachyudi
Chapter #7

My Heart Is Pertiwi, But My Nose From West.

Pagi hari yang hangat dengan matahari yang mulai bersinar cerah di Wisma Maharani. Awan berarak dengan tenang dan gembira, menyambut para makhluk yang hendak memulai hari. Tetesan air membentuk pelangi kecil kala Daniella dengan lihai menyirami kebun sayuran organiknya dengan spray hose. Wajahnya terlihat begitu menikmati saat-saat santai yang jarang ia dapatkan di tengah keseharian yang penuh urusan bisnis.

​Daniella bersenandung. Suaranya merdu, berpadu dengan cerahnya sinar mentari dan sejuknya udara di daerah Pesawahan ini. Lagu yang ia nyanyikan berjudul Indonesia Jaya, ciptaan komposer pop asal Maluku, Chaken Matulatuwa, yang dipopulerkan oleh Harvey Malaiholo.

​Lagu itu dimulai dengan narasi tentang hari-hari yang penuh tantangan. Namun, rintangan demi rintangan bukanlah penghalang bagi jiwa yang berpegang teguh pada nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dalam semangat mewujudkan kerukunan berbangsa dan bernegara.

​Daniella memiliki pemikiran tersendiri mengenai pengejawantahan Pancasila sebagai dasar negara. Baginya, hal itu adalah langkah-langkah dari visi besar bangsa, di mana titik awalnya adalah masyarakat yang berketuhanan. Masyarakat yang beriman dan bertakwa secara otomatis akan adil dan beradab karena berpegang teguh pada nilai-nilai luhur. Pada titik ini, persatuan dan kesatuan akan terbentuk dalam sinergi kebangsaan.

​Menghormati hak satu sama lain, tenggang rasa, dan menempatkan toleransi pada tempat yang tepat. Hal itu juga dihadirkan melalui sistem perwakilan di seantero negeri yang luas ini. Wakil-wakil yang terpilih dari sanubari masyarakatnya sendiri atas hikmah dan kebijaksanaan, sehingga apa yang diwakilkannya benar-benar demi kepentingan bersama tanpa ego pribadi maupun kelompok. Puncaknya adalah terciptanya keadilan sosial bagi seluruh masyarakat; bahkan lebih dari itu, keadilan yang turut dirasakan oleh tanah, air, dan langit negeri ini.

​Nyanyian Daniella membawa hatinya menerawang ke banyak tempat yang sudah ia kunjungi. Baginya, tidak ada surga seindah Indonesia. Dirinya memang berdarah campuran, dan beberapa orang mungkin menganggapnya hanya "setengah" nasionalis. Namun di hatinya, cinta itu sepenuhnya milik Indonesia.

​"Merdu banget... tumben lagunya nasionalis," Dirga rupanya sedari tadi memperhatikan istrinya bernyanyi.

​"Eh, Ayank sudah pulang? Datang barusan?" tanya Daniella sambil mengulurkan tangan, meminta kecupan.

​Dirga menghampiri lalu memberikan kecupan di bibir dan keningnya. Daniella memejamkan mata, meresapi kasih sayang suaminya.

​"Ella itu wajah saja yang hybrid, Yank. Hati sih Pertiwi tahu!" ujar Daniella.

​"Haha, iya ya... Dirga kadang sampai lupa kalau Ayank itu blasteran karena kita bertemu terus," ucap Dirga sambil mengelus lembut kepala Daniella.

​"Huuu, dalam hati sih senang, kan, punya istri begini?" Daniella meruncingkan bibirnya.

​"Senang, bahagia, bersyukur... mimpi apa Dirga bisa dapat yang seperti ini," jawab Dirga tersenyum manis.

​"Hehe, terima kasih. Judulnya dapat durian runtuh ya begitu," balas Daniella.

​Dirga mengangguk. "Oh iya, jadi ingat... sebentar!" Dirga lalu berjalan agak cepat masuk ke dalam rumah.

​Daniella memandang geli tingkah suaminya. Ia melanjutkan menyiram tanaman. Kebun seluas 10 \times 7 meter ini dikelola oleh Erik, di mana 30% areanya menerapkan sistem akuaponik dengan ikan koi jenis Kohaku. Daniella sering berkebun di sini sebagai sarana rekreasi.

Lihat selengkapnya