Our Violet Cruise

Wachyudi
Chapter #8

It's Fun!

"Teteh ikut lomba ya!" ujar Atiya dan Bani padaku yang tengah duduk sambil membaca buku di kursi gantung rotan.

​"Eh, lomba apa?" tanyaku, menutup bukuku lalu melepaskan kacamata bacaku.

​"Lomba-lomba hari kemerdekaan lah," jawab Atiya dengan agak bersemangat.

​"Iya, mumpung di sini, kayak waktu kecil tuh," timpal Bani yang juga tertular semangat Atiya.

​Aku menaikkan bahuku sambil memasang wajah tidak paham.

​"Lha, lomba kelereng, makan kerupuk, masukin pensil dalam botol, tahu kan?" tanya Bani lagi.

​Kugelengkan kepalaku agak banyak-banyak.

​"Dih, Teteh tidak pernah ikut lomba hari kemerdekaan?" tanya Atiya.

​Kuanggukkan kepalaku banyak-banyak pula.

​"Lhaaa ..." Bani dan Atiya tersenyum geli.

---

​"Iya, jadi Ella tuh cuma pernah ikut voli antar kelas aja waktu SMA ... eh SMK ya berarti kalau sekolah umum," ujarku kala kami berjalan bertiga.

​"Teteh sekolahnya seenggak umum gimana sih?" tanya Bani disertai raut wajah penasaran.

​"Beda Ban, di TJ tuh kita dari SMP sudah belajar basic, ketika masuk SMA sudah focusing purpose. Jadi ya gabung mungkin ya kayak SMA tapi ada unsur SMK-nya juga," kucoba menjelaskan sesimpel mungkin.

​Perbedaan kurikulum di TJ memang berbeda jauh kalau dibandingkan dengan sekolah negeri. Tidak bisa disamakan karena sistem belajar yang beda.

​"Ouuuhh ..." Bani mengangguk-angguk.

​Aku, Atiya, dan Bani sedang berjalan ke lapangan komplek. Aku tengah menemani Bu Hesty yang sedang ada perlu dengan Pak Muslihat. Memang kebetulan aku juga ada perlu di Bandung ini untuk keperluan mengisi tiga acara kepelatihan di Dinas Sosial.

​"Vera! aing rek miluan lomba," ucap Bani yang sepertinya pakai bahasa Sunda slang.

​Seorang anak cewek berkacamata menoleh.

​"Lomba naon we Ban?" tanyanya sambil mengangkat sebuah buku dan pulpen bersiap menulis.

​Sepertinya dia adalah salah satu panitia lombanya.

​"Mau ikut apa aja Teh?" tanya Atiya padaku.

​Tapi ketika aku tengah berpikir, si anak cewek yang dipanggil Vera tadi menyapa.

​"Ini tuh yang istrinya Kang Dirga ya? cantik banget ya," tanyanya, sekaligus menyapaku.

​"Iya Neng makasih. Kamu juga cantik lho, ya kan Ban?" kumenoleh menatap Bani.

​Ya, ini kalau feeling-ku tidak salah ya, Bani sedikit curi pandang sama si Vera ini.

​"Wah, nanti kalau Bani jawab Vera-nya ge-er," ujar Bani agak jaim.

​"Eehh, tidak rugi Ban, muji cewek cantik mah. Siapa tahu jodoh," coba kugoda sedikit.

​Dan yep, seperti yang diprediksi, si Bani tersipu malu disertai salah tingkah.

​"Wah, ada turis dari luar juga ya, mau ikut lomba?" tiba-tiba seorang anak remaja cowok berambut rapi alias klimis menghampiri kami dan berdiri di sebelah si Vera.

​Aku celingukan melihat ke sekitar, terjadi secara refleks saja.

​"Turis dari mana?" gumamku menyapu pandangan ke beberapa kumpulan orang yang hendak ikut lomba juga.

​"Lha ... sebentar, oh istrinya Kang Dirga ya?" ucap si remaja cowok.

​Oh shit, jadi maksud dia aku ya?!

​"Haha iya, saya bukan turis, laaah," ujarku merasa lucu sendiri dengan situasinya.

​"Maaf, maaf, haha, ya gimana ya," ucapnya agak salah tingkah.

Lihat selengkapnya