Our Violet Cruise

Wachyudi
Chapter #10

Memory Of Teen And Moral Growing

Aku membuka buku yang kutemukan di lemari ruang rekreasi. Sebuah buku kenangan kelulusan SD dan SMP bertuliskan 'Noblefield Elementary School' dan 'Thomas Jefferson Junior High School'. Kedua buku ini milik Daniella. Rupanya SD dia bersekolah di Noblefield, memang putri keluarga berada. Sekilas yang kutahu Noblefield adalah sekolah SD paling bergengsi di provinsi Cirebon Raya. Berjejer bersama banyak sekolah bonafide lainnya yang kurikulumnya lebih maju bila dibandingkan dengan sekolah umum.

Junior TJ High School juga termasuk satu dari tiga SMP papan atas di Cirebon Raya, bersaing dengan Alexandria International School dan Shāng Rén International School. Jenis sekolah yang tidak kukenal karena dari mulai TK sampai Akmil aku mengenyam pendidikan di sekolah milik yayasan militer.

​Buku kelulusan SD Daniella berisi mukadimah, deskripsi sistem pembelajaran, dan foto-foto kegiatan serta foto-foto Daniella di sekolah dari mulai kelas satu sampai kelas enam. Aku cukup tertarik dengan deskripsi sistem pembelajarannya karena di sini dijelaskan siswa Noblefield hanya belajar di dalam kelas sebanyak dua jam sehari, meski dengan sistem full day school. Lebih banyak diisi kegiatan outdoor dan pendidikan karakter lewat praktik langsung. Makanya banyak sekali foto-foto kegiatan sekolah dan justru sedikit foto belajar di dalam ruang kelasnya. Sangat berbeda dengan sekolah umum maupun sekolahku dulu. Ah, ada harga ada rupa sih, benar.

​Daniella terlihat imut sekali di foto-fotonya waktu SD. Sosoknya yang terlihat imut dan cantik ketika anak-anak, ia ternyata memang sudah terlihat menyukai science. Banyak foto-foto Daniella yang tampak mengutak-atik dan membuat percobaan. Rambutnya lebih sering terlihat dikepang tengah rupanya.

​Di sini juga terlihat bahwa ia sepertinya lebih sering bermain sendiri daripada bermain bersama anak-anak lain. Apa ia waktu kecil kesepian ya? kalau iya, kasihan juga ya, mungkin anak-anak lain menjauhinya karena wajahnya yang berbeda dengan anak-anak pribumi.

​Tapi ia tampak menikmati kegiatannya bersama seorang ibu guru yang paling sering kulihat ada di foto bersamanya. Bahkan mereka punya tiga foto wefie yang salah satunya bersama Tuan Reginald.

​Aku lanjut melihat buku kenangan SMP-nya. Buku kenangan TJ High School juga tidak terlalu berbeda dengan sekolah SD-nya. Penjelasan sistem pembelajaran yang masih tetap berbeda dengan sekolah negeri. Ternyata di Junior TJ High School, siswa sudah menentukan jurusan ketika naik ke kelas dua. Mereka diberikan kelas tetap hanya saja ada beberapa mata pelajaran yang akan cross class bergantung jurusannya. Cuma ada tiga jurusan kalau dijelaskan di bab ini sih.

​Di buku kenangan, Daniella terlihat hmmm lebih badung. Dan di foto-fotonya ia masih tidak terlalu terlihat membaur dan lebih banyak berkutat pada belajar dan eksperimen science. Di sini bahkan ada catatan kenakalannya, tiga kali menjahili temannya. Ini benar Daniella ya? ia sepertinya anak yang suka memanfaatkan fasilitas sekolah terlihat dari banyaknya foto ia sedang mengutak-atik alat-alat di sekolahnya. Ia juga ternyata juara bertahan turnamen science nasional dan mencetak rekor sebagai murid pertama yang menjadi juara bertahan turnamen science nasional dari TJ High School. Bangga juga aku melihat foto-foto ini, padahal bukan aku yang menang lomba.

​Dan ternyata teman pertamanya memanglah Angrea. Aneh, foto Angrea dan Daniella cuma ada di kelas dua saja. Apa Angrea itu murid pindahan? mereka terlihat cukup akrab.

​Aku senyum-senyum sendiri melihat foto-fotonya. Tidak menyangka bisa juga dapat dia, atau lebih tepatnya ditakdirkan untuk bersanding dengannya. Buku kenangan sekolah bonafide bagus ya, jadi semacam rekam jejak sejarah selama si anak bersekolah.

​Dari buku ini aku bisa tahu kalau sepertinya memang ada fase perubahan dari Daniella kecil ke Daniella remaja hingga dewasa ... aku tidak menemukan buku kenangan SMA-nya sih, penasaran juga.

​"Tolong disimpan ke gudang dapur ya, Pak Diman, Pak Joko! maaf ngerepotin," terdengar suara Daniella dari arah ruang tengah.

​Ia lalu menuju ruang rekreasi.

​"Ayank lagi apa? Ella pulang ..." ujarnya menghampiriku.

​"Lagi lihat ini," jawabku sambil mengangkat buku kenangannya.

​"Eeeehhhh, huwaaaaa ..." ia tiba-tiba setengah berlari menghampiriku.

​Kutebak saja, sepertinya ia agak malu foto-foto masa kanak-kanak dan remajanya kulihat. Ku berdiri dan kuangkat buku kenangan tinggi-tinggi. Ia pun berusaha meraihnya, untung aku sedikit lebih tinggi darinya.

​"Ayank tuh ... sini! iiihhh malu Ella-nya," ujarnya sambil berusaha meraih buku kenangannya.

​"Ambil aja kalau bisa," jawabku seraya tersenyum menggodanya.

​"Pak Joko, sini ...!" ia tiba-tiba berteriak lalu menunduk dan menarik celana kolor-ku ke bawah.

​Aku lupa sedang berurusan dengan gadis ber-IQ tinggi. Mau tak mau aku pun menunduk dan menurunkan buku kenangan. Lumayan terbayang badungnya dia ketika remaja.

​"Yeaaaaayyy," ia memeluk kedua buku kenangannya.

​"Dasar ya ..." aku tersenyum sambil menggelengkan kepalaku ketika menaikkan kembali celanaku.

​"Ya, Non, gimana?" tanya Pak Joko yang sudah ada di hadapan kami.

​"Sudah disimpan berasnya semua?" tanya Daniella.

​"Belum semua atuh, Non, orangnya cuma empat, berasnya semobil truk," jawab Pak Joko.

​"Oh iya, tadinya mau bilang makasih kalau sudah selesai, ya sudah lanjut lagi. Minta ke Mbok Rum bikinkan kopi sekalian buat Pak Diman sama teman-temannya," ujarnya beralasan, padahal tadi memang memanggil Pak Joko karena mengakaliku.

​"Siap Non," balas Pak Joko, menunduk sekali lalu langsung beranjak lagi.

Lihat selengkapnya