Aku membuka buku yang kutemukan di lemari ruang rekreasi. Dua buah buku kenangan kelulusan bertuliskan Noblefield Elementary School dan Thomas Jefferson Junior High School. Keduanya milik Daniella. Rupanya masa SD-nya dihabiskan di Noblefield, sekolah paling bergengsi di Cirebon Raya. Pantas saja, kurikulumnya terasa jauh lebih maju dibanding sekolah umum.
Noblefield dan TJ High School adalah ekosistem yang berbeda dari duniaku. Sejak TK hingga Akmil, aku mengenyam pendidikan di lingkungan yayasan militer yang disiplin dan kaku. Sementara di sini, aku membaca bahwa siswa Noblefield hanya belajar di kelas selama dua jam sehari, sisanya diisi kegiatan outdoor dan pendidikan karakter. Ada harga, ada rupa, batinku.
Daniella terlihat sangat imut di foto-foto SD-nya. Rambutnya sering dikepang tengah, dan di hampir setiap foto kegiatan, ia tampak sedang mengutak-atik alat percobaan. Namun, ada satu hal yang menyentuh hatiku: ia lebih sering terlihat sendiri. Apa ia merasa kesepian karena wajah hybrid-nya berbeda dengan anak-anak lain? Beruntung, ada sosok guru yang sering menemaninya di banyak foto.
Lanjut ke buku SMP, Daniella terlihat... sedikit lebih badung. Ada catatan kenakalan yang menyebutnya tiga kali menjahili teman. Namun, prestasi sainsnya tak tertandingi; ia mencetak rekor sebagai murid pertama yang menjadi juara bertahan turnamen sains nasional dari TJ High School. Bangga juga aku melihatnya, padahal bukan aku yang menang lomba.
Aku tersenyum sendiri melihat foto-fotonya. Tidak menyangka takdir akan menyandingkanku dengan gadis luar biasa ini.
"Tolong disimpan ke gudang dapur ya, Pak Diman, Pak Joko! Maaf merepotkan," terdengar suara Daniella dari arah ruang tengah. Ia lalu masuk ke ruang rekreasi.
"Ayank lagi apa? Ella pulaaa—eeehhh, huwaaaaa!" Ia tiba-tiba setengah berlari menghampiriku.
Sepertinya dia malu. Aku berdiri dan mengangkat buku itu tinggi-tinggi. Untung aku sedikit lebih tinggi darinya.
"Ayank, ih... sini! Malu Ella-nya!" ujarnya berusaha meraih buku itu.
"Ambil kalau bisa," godaku.
"Pak Joko, sini...!" teriaknya tiba-tiba. Saat aku terdistraksi, ia menunduk dan menarik celana kolorku ke bawah dengan sigap.
Sial, aku lupa sedang berhadapan dengan gadis ber-IQ tinggi. Mau tak mau aku menunduk untuk menaikkan celana, dan buku itu pun berpindah tangan.
"Yeaaaayyy!" Ia memeluk bukunya dengan penuh kemenangan.
"Dasar ya..." aku menggelengkan kepala sambil merapikan celana.
"Ya, Non, gimana?" tanya Pak Joko yang baru sampai.
"Sudah disimpan berasnya?" tanya Daniella cepat.