"Hei, cowok-cowok ganteng ... kalian mau minum apa?" tanya Daniella pada kami berdua.
"Burgundy, Ma Belle. Aku mau segelas saja dengan zaitun," jawab Tuan Reginald.
"Ouais non, Papa! Smoothies à la banane et yaourt," ujar Daniella dengan tegas.
"Dirga apa, Yank?" tanya Daniella padaku.
"Mau cola pakai es, segar kayaknya," jawabku.
"Ini lagi! kelapa muda dan susu almond ya!" ralat Daniella lalu berbalik badan dan pergi ke kafe.
Ia tampak cantik dan hmmm seksi mengenakan pakaian golfnya. Polo shirt putih dengan golf skirt putih pula lengkap dengan topi khas bermain golf berwarna violet. Ia melengkapi penampilannya dengan sepasang gloves dan sneakers putih. Rambutnya diikat high ponytail membuat pesonanya semakin terlihat. Agak risih sebenarnya melihatnya dilirik banyak mata, tapi sejauh ini hanya berupa lirikan. Haaah, risiko punya istri cantik. Untungnya lingkungan di sini adalah lingkungan beradab.
"Terus kenapa juga dia tanya mau minum apa? dasar wanita!" ucap Tuan Reginald berwajah heran.
"Haha, dia ketat garis keras kalau soal asupan sehat," jawabku.
Tuan Reginald mengambil posisi untuk memukul bolanya. Lalu, sebuah tee shot yang cantik oleh Pak Reginald cukup membuatku berdecak kagum.
"You good at this, Sir," ujarku memujinya.
"Once a week, kerja sama bisnis kadang dilakukan di lapangan golf Dirga boy. Bagaimana mungkin aku tidak terlatih? by the way, pakai bahasa Indonesia saja, aku suka berbicara dengan bahasa Indonesia," ujarnya dengan cukup panjang.
Daniella memang pernah bilang kalau Tuan Reginald suka berbicara dengan bahasa Indonesia karena hal itu menjadi kenangan miliknya dan Bu Adellina sebagai yang pertama mengajarinya bahasa Indonesia.
"Omong-omong soal bisnis, RAGE itu bergerak dalam bidang apa, Tuan?" tanyaku sambil mengambil giliranku untuk memukul.
Kubidik arah hole tempat ke mana bola harusnya masuk. Dan dalam satu tarikan napas kuberikan tee shot terbaikku. Wuuussh, dan menghasilkan par yang mulus.
"Hmmm, bidikanmu bagus, Dirga boy," ucapnya.
"I'm the best, Sir," jawabku penuh kepercayaan diri, dibalas anggukan oleh Tuan Reginald.
Kami pun berjalan menuju bolanya diikuti seorang gadis caddie yang membawa tas stik kami.
"Boleh aku pastikan ini hanya sebuah pertanyaan ringan seorang menantu pada mertuanya dan bukan berkaitan dengan urusan militer negara?" tanya Tuan Regi, tentu saja.
"Hanya obrolan ringan, Sir, aku yakinkan itu," jawabku yang memang tidak punya niat lain.
"Yah, aku tidak khawatir apa-apa sih. Kami bergerak dalam bidang engineering. Bekerja sama dengan pabrik-pabrik di Eropa, Afrika, dan Asia. Kebanyakan di Afrika sih, aku dapat proyeknya di sana soalnya. Kau tahu kan di mana negaraku bermain. Kami juga menerima jasa konsultan. Tahu tidak siapa konsultan terjenius RAGE?" ia malah bertanya padaku.
"Siapa, Sir? Aku tidak punya bayangan tentang bidang engineering kecuali senjata api," jawabku.
Regi menoleh ke Daniella yang tampak dari jauh sedang sibuk menelpon.
"Tuh, wanita yang setiap malam menemanimu di ranjang," jawab Tuan Regi, amat mirip Daniella sekali.
"Ooohhh I see. Kok aku tidak sadar ya?" ujarku benar-benar asli terkejut.
"Hati-hati, di balik wajah cantik dan pesonanya, dia anak yang super berbakat, suka memaksa, dan matre ..." ujar Tuan Regi setengah bercanda.
"Hahahaaaa, couldn't agree more, Sir," jawabku menggaruk dahiku. Ya, mau dibantah bagaimana, aku memang setuju.
Kami berhenti di dekat bola Tuan Regi. Ia lalu memicingkan matanya membidik lubang yang hanya berjarak empat meter. Ia lalu memukul bolanya dengan kekuatan yang tepat menghasilkan par yang anggun.
"Tidak merambah Amerika?" tanyaku melanjutkan obrolan kami.
"Itu tugasnya Jean, adikku yang paling bungsu. Lagian dia menikah dengan orang sana," jawabnya.
"Oh, Anda tiga bersaudara kan ya?" tanyaku lagi.
"Betul, aku, Emillio, dan Jean. Kusebutkan sesuai urutan kelahiran. Aku yang paling tua, Dirga boy," ucapnya sambil tersenyum hingga gigi-giginya terlihat.