Daniella dan aku sedang dalam perjalanan pulang dari Le Viral.id Plered ketika ia meminta sesuatu yang tidak terduga padaku.
"Ayank masih rajin latihan menembak tidak kalau di markas?" tanyanya sambil menoleh dan tersenyum padaku.
"Masih. Dirga termasuk anggota khusus, kemampuan harus tetap diasah, tidak boleh tumpul," jawabku jelas.
"Hmm, di sana juga jadi pengajar?" tanyanya sambil membuka layar iPhone-nya.
"Iya, Dirga ditunjuk jadi instruktur untuk melatih yang muda-muda," kuanggukkan kepala balas menatapnya.
"Memang Ayank merasa tua?" ia tersenyum lebar menggodaku.
"Haha, ya sadar diri saja sudah kepala tiga," jawabku.
"Euum, Ayank ..." ia memanggilku.
"Kenapa nih? biasanya kalau begini mau minta sesuatu," ucapku yang sudah hafal 'aturan mainnya' Daniella.
"Hehe, pinter* ciiih ... Iya betul. Ayank, mau dong Ella diajari menembak," ucapnya.
Wah, agak sudah memperkirakan sih, tapi ya aku sendiri belum yakin soal ini.
"Oh, hmm, buat apa ya?" tanyaku, tentu harus ditanya dulu.
"Ya biar bisa saja dong, kan bisa jaga diri nantinya," jawabnya.
"Ya sih, tapi tanggung jawabnya lumayan, loh, harus lulus tes kesehatan mental juga kalau mau diizinkan pegang senjata api," kujelaskan padanya kalau-kalau dia belum paham.
"Boleh, tidak apa-apa kalau harus tes. Mau ya ngajarin istrinya ...? Ella mau yang mengajari Ella itu the best-nya," Ia menatap mataku dan menyentuh tangan kiriku sementara tangan kananku menyetir.
"Tidak usah deh Yank. Kan ada Dirga," jawabku agak masih keberatan.
"Dih, kan Ella juga kadang menyetir sendiri, tuh. Kalau dibegal bagaimana?" ia berargumen.
"Ya, mending jangan keluar mobil, terus telepon polisi atau ke Dirga bisa," jawabku. Memang secara logika beresiko keluar kendaraan menodongkan senjata ketika dibegal, lagipula mobilnya Daniella itu bulletproof.
"Huft ... kok enggak mau ngajarin sih?" ucapnya terdengar kesal.
"Duh, gimana ya, takutnya Ayank penasaran terus beli senjata, bikin saja Ella bisa. Terus salah-salah bisa melukai diri sendiri atau orang lain," jawabku, memang apa adanya.
"Enggak tahu ah ... Huft," ia ngambek, tangannya langsung berubah jadi menyilang di depan dada.
"Ayolah, Yank. Dirga bilang demi kebaikan Ayank juga kok," kucoba membujuknya agar tidak jadi ngambek.
"Hufffffftttt ...!!!" ia tidak menjawab dan membuka iPhone-nya, lalu lanjut cuek.
Sejalan-jalan sampai di rumah ia tetap ngambek dan tidak mau bicara padaku. Oh ya Allah, padahal maksudku baik, loh, mencegah hal buruk dari risiko menggunakan senjata api.
---
Ia berbaring membelakangiku, menarik selimutnya. Sejak kami datang Daniella tetap tidak mereda ngambeknya, ia bahkan mandi di kamar berbeda demi menghindariku. Hal itu masih berlangsung hingga menjelang tidur.
"Ayank masih mau ngambek nih ...?" kusentuh bahunya mencoba mencari perhatiannya.