Our Violet Cruise

Wachyudi
Chapter #13

Bad blood acquaintance

Hari ini aku harus menghadiri acara Drama Bakti Persit Kartika Chandra Kirana dengan agenda sosial bulan bakti anak yatim dan gelar acara operasi katarak gratis bagi warga sekitar markas kesatuan.

Acara yang dilaksanakan di rumah sakit TNI ini dihadiri semua anggota Persit Kartika. Organisasi ini sendiri bertujuan menaungi istri-istri para TNI AD demi mendukung tugas suaminya. Dan pagi itu kami berdua tengah bersiap-siap.

"Bagus enggak Ella pake kerudung?" tanyaku yang memang sehari-harinya jarang berhijab.

"Cantik," jawab Dirga sembari mengacungkan jempol.

"Serius Ayank?! enggak PD nih kerudungan," aku yang masih tidak puas dengan jawaban singkat.

"Ayank cantik, serius," jawabnya sambil tersenyum.

Iapun tampak gagah dalam balutan seragam hariannya. Sesosok prajurit tangguh penuh wibawa sedang berdiri di hadapanku.

"Ayank juga gagah banget, suka," ucapku seraya mendekat padanya.

"Yuk berangkat sekarang?" tanya Dirga.

"Oke, yuk!" sambutku.

Kami berangkat bersama, karena Dirga mengantarkanku ke tempat acara PKCK tadi. Ia lalu harus langsung ke markas di Pilang. Perjalanan dari rumah Manoa ke rumah sakit TNInya kira-kira 30 menit makanya kami berangkat jam 6:20 WIB karena acara dimulai jam 8 pagi. Dan aku adalah orang yang haram untuk telat, never in my life.

---

Kamipun sampai dengan tanpa hambatan, Dirga mengantarku sampai pintu aula dimana acara akan digelar.

"Okey, Dirga berangkat ya," ujarnya lalu memberi kecupan di pipi kananku setelah aku mencium punggung tangannya.

"Hati-hati ya, kabar-kabarin, cepet pulang," ucapku mengelus pipinya.

Ia mengangguk dan tersenyum, senyum yang selalu akan kutagih kalau-kalau ia lupa.

Akupun masuk, menghirup nafas agar on focus, lalu menyapa ibu Sartika dan jajaran pengurus lain.

"Assalamu'alaikum Bu," ucapku sesopan mungkin

"Wa'alaikumsalam, wah rajin nih Mba Maharani, jam segini udah dateng," ujar Bu Sartika.

"Tadi sekalian Dirga berangkat Bu," jawabku memang begitu kenyataanya.

Akupun lanjut menyalami para pengurus PKCK yang tentu saja sudah tengah menyambut anggota lain yang datang. Ibu-ibu pengurus PKCK adalah ibu-ibu yang ramah dan amat mengayomi anggotanya. Untungnya aku sudah biasa berada di kumpulan dengan lintas usia. Sejujurnya aku termasuk paling muda di saat ini di antara para anggota lain, hanya enam orang yang seumuran denganku. Selain Bu Sartika ada Bu Lina, Bu Nana yang kerap dipanggil Mba Nana, Bu Hugess, Bu Meli, Bu Gina, Bu Tari, Bu Ana, dan Bu Ayunda. Aku memang hanya dekat dengan pengurus saja, dan di antara sembilan orang pengurus, Mba Nana dan Bu Ayunda yang paling dekat denganku.

"Ella bisa bantu di depan sama Bu Ayunda untuk nerima tamu?" Tanya Mba Nana yang seumuran denganku maka kupanggil Mba.

"Ok siap Mba Nana," jawabku lalu segera menghampiri Bu Ayunda.

"Ibu, aku disuruh bareng ibu di depan nerima tamu," ucapku.

"Wah iya bener, biar di depannya seger gitu diisi yang cantik," ujarnya menghibur.

"Haha iya ya, makanya kita berdua yang diminta jaga di sini," jawabku klop aja.

"Maksudnya kamu Ella, ibu mah udah mau kepala empat, udah tua," jawab Bu Ayunda merendah.

"Ah ibu cantik koq, merendah tuh," ucapku setulus mungkin.

Kamipun mulai mengisi pos depan untuk menerima para undangan yang datang baik dari anggota PKCK atau dari para peserta bakti sosial dan operasi katarak gratis ini.

"Iya Pak tanda tangan disini terus bapak silahkan menunggu di sana," ucapku mengarahkan seorang kakek-kakek peserta operasi katarak gratis yang ditemani, mungkin, cucunya.

"Adeknya pinter ya, mau nemenin kakeknya," kuelus pipi anak perempuan itu, Ia tersenyum.

"Ella emang hebat ya, masih muda tapi piawai bersosialisasi. Seneng tuh liat anak muda kayak kamu," ujar Bu Ayunda.

"Ah ibu bisa aja, alhamdulillah, makasih," jawabku yang senang dipuji olehnya.

Lalu satu orang anggota datang menghampiri.

"Ibu Ayunda kata Bu Sartika ibu diminta ke sana. Rara diminta gantiin dulu," ujar seorang anggota ibu-ibu berumur mungkin sekitar 28 tahunan tapi aku tidak kenal.

"Owh iya, yaudah, Ella, ibu kesana dulu ya, nanti sama Bu Rara tugasnya," ujar Bu Ayunda sambil menyentuh pundakku.

"Iya Bu siap, Ella bisa koq," jawabku.

Akupun berpasangan dengan Bu Rara melaksanakan tugas menerima tamu. Sekitar dua jam tamu terus berdatangan sampai akhirnya acara dimulai pada pukul sembilan saat dirasa semua hadirin telah tiba. Aku dan Bu Rarapun bisa sedikit bersantai.

"Alhamdulillah sudah selesai," ucapku sambil duduk.

Aku memang tipe manusia yang menyesuaikan gaya bicara dengan kondisi lingkungan. Saat seperti ini di tengah organisasi istri aparat tentunya aku harus agak lebih religius kan? apalagi dihadapan orang-orang yang tahu aku berdarah Minang.

Hanya yang tidak kumengerti kenapa Bu Rara berwajah ketus ya. Apa memang bawaannya seperti itu atau dia sedang mengalami hari yang buruk? sebenarnya orangnya cukup cantik kalo enggak ketus. Kucoba untuk mengakrabkan diri saja.

"Bu Rara, daritadi ngerjain tugas bareng, tapi kayaknya Ella belum kenalan ya sama ibu. Daniella Maharani Bu," ujarku sembari mengulurkan tangan mengajak bersalaman.

Lihat selengkapnya