"Ayank tuh gelarnya apa?" tanya Dirga padaku yang sedang mengoleskan liptint.
Tahan dulu ah sedikit, biar dia tidak sabar, kan lagi touch up.
"Apa Yank?" tanya Dirga lagi.
Aku masih merapikan liptint-ku.
Ia menyerah dan akhirnya menghampiriku.
"Oh, lagi lipstick-an? ini Dirga lagi nulis di amplop," ujarnya sambil menunjukan sebuah amplop putih.
Rupanya ia bertanya karena ingin menuliskan nama kami di amplop kondangan.
"B.Sc, Daniella Maharani B.Sc, Yank ..." jawabku tersenyum.
Senyum karena tadi sedikit mengerjainya. Aku suka banget Dirga yang penyabar, suka mancing-mancing dia marah, hehe.
"Ella perlu nambah gelar tidak, Yank?" tanyaku agak setengah serius.
"Bagus sih ya, nanti jadinya apa?" tanyanya.
"M.Sc, ya ambil pascasarjana. Di MIT bagus, Yank," jawabku yang sudah sampai final berdandan.
"Ayank mau? ya Dirga sih izinkan kalau untuk pendidikan," ujarnya.
Hmmm, yakin kamu Yank?
"Berarti nanti Ella dua tahun di Amerika, tidak apa-apa?" tanyaku sambil tersenyum lebar.
Dirga terdiam, ya kan Ayank bimbang.
"Di Indonesia memang tidak ada?" tanyanya.
"Ella sih maunya di MIT, programnya bagus," kujawab lagi sambil melirik ke arahnya.
Dirga terdiam, makin bimbang hehe.
Aku lalu menyelesaikan merias diriku lalu merangkulkan tanganku ke pundaknya, mengecupnya.
"Enggak juga enggak apa-apa, bisa nanti, sekarang lagi menikmati pernikahan dulu," ujarku menenangkan hatinya.
Dirga tersenyum, ya kan kamu tidak rela jauh dariku, Yank.
"Ya sudah yuk, Ella sudah siap," ucapku.
"Oke, for all," jawab Dirga dengan perasaan lega.
---
Kami menuju pernikahan temannya Dirga, Mas Satya. Pernikahan ini digelar di rumah pengantin wanita yang berada di wilayah pesisir kota Cirebon.
Dirga pun memarkirkan mobil di depan baperkam ketika kami sampai. Sejujurnya kalau bukan karena Dirga, aku agak enggan datang ke gelaran pernikahan 'rakyat' semacam ini. Alasannya simpel, karena ribut, rusuh, repot. Namun karena pengantin prianya adalah sahabat baik suamiku, ya suka-tidak suka, mau-tidak mau aku harus mendampingi.
Baru melihat dari dalam mobil saja sudah terbayang suasananya akan seperti apa. Sialnya hari ini aku memilih mengenakan halter dress karena mengira pernikahannya akan digelar di gedung. Dan suasana tenang pun berubah secara sporadis ketika kubuka pintu mobilku.
"Jangan dikunci ya Pak, biar bisa digeser-geser," ujar tukang parkir.
Maksudnya bagaimana? Mobilnya mau digeser ke mana? Lahan parkir sudah sempit begini, tidak habis pikir aku.
Aku pun berjalan menggandeng Dirga sambil kerepotan dengan jalannya yang tidak rata plus agak becek.
"Pelan-pelan jalannya, awas becek," ujar Dirga.
"Iya, Ella juga lihat, duuh salah kostum," ucapku.
Kami pun lanjut menuju meja tamu dan membubuhkan nama di buku tamu lalu diberi suvenir centong nasi.
"Suvenirnya centong nasi? Ella enggak tahu kalau ini bisa jadi pilihan suvenir nikah," tanyaku pada Dirga.
"Haha, iya begitulah, lupa kalau punya istri putri dalam istana yang hampir tidak pernah ikut acara rakyat jelata," ujar Dirga.
"Huuuww, mengejek," kucubit perutnya.
"Eh ada bule ... gila, cantik banget," terdengar gumaman entah dari mana.
"Putih banget, cantik coooy," suara lain yang terdengar lebih jauh.
Kami sudah sedang berjalan di antara para tamu undangan lain yang sedang makan. Aku sih sudah kebal soal ini, cuma Dirga terganggu tidak ya. Benar saja, Dirga berwajah agak kesal, namun berusaha maklum. Akhirnya kami sampai di panggung kecil tempat kursi mempelai berada. Satya menyambut dengan begitu antusias.
"Weei, Kang Dirga ... sama Nona Maharani juga ya," ujarnya.
Aku tersenyum sopan. Dirga menyalami Satya dengan gaya manly.