Our Violet Cruise

Wachyudi
Chapter #15

Our violet cruise

Lebaran pada tahun ketiga pernikahanku dan Dirga, kami habiskan dengan liburan selama seminggu penuh. Liburan terpanjang yang pernah aku dan Dirga lakukan. Sebenarnya ini adalah bulan madu yang tertunda-tunda terus karena, ya, aku dan kesibukanku, Dirga dan kariernya yang perlu perhatian masing-masing.

​Kami memutuskan untuk berlibur ke sebuah resor di Kepulauan Seribu, tepatnya Pulau Pramuka. Namun, karena kami mampir dulu ke Bunda Hesty di Bandung, jadinya Yuke dan Atiya minta ikut. Ya, tidak apa-apa, sih. Nanti aku sewa sebuah vila tambahan saja buat mereka.

​“Ini tidak apa-apa, Teh? duuh, Yuke itu maksa banget, ini kan honeymoon-nya Teh Daniella sama A Dirga,” ujar Bu Meyani yang merasa tidak enak hati padaku.

​“Uuh, Yuke mau ikut, kan belum pernah ke Kepulauan Seribu,” rengeknya. Lucu sekali melihat gadis yang sudah seumurnya merengek.

​“Iya, Ambu tuh, Teh Daniella saja tidak apa-apa,” Atiya ikut mendukung Yuke.

​Aku, ya, pasrah saja, mau bagaimana lagi? masa ditolak? lagipula masih bisa dapat privasi sih. To marry someone, marry the whole family.

​“Ih, era kamu Teh, malu-maluin wae,” timpal Bu Meyani.

​“Tidak apa-apa Bu, kapan lagi kan mengajak mereka? nanti Ella pesan vila tambahan lagi saja,” jawabku.

​“Hmm, ya sudah Teh ... nih ya, kalian awas saja kalau Ambu dengar kalian ganggu Teh Daniella sama A Dirga, awas saja pulangnya!” ujar Bu Meyani mengancam Yuke dan Atiya ala mamah-mamah lagi marah.

​“Duuuh iya, Ambu teh galak pisan,” jawab Atiya.

​“Teh, makan dulu yuk, sudah pada matang masakannya,” ajak Bu Meyani.

​Kami pun makan bersama di ruang makan, mengisi kunjungan itu dengan keakraban keluarga yang begitu hangat.

---

​“Dirga bulan depan jadi pendidikan buat naik pangkat?” tanya Pak Mushlihat pada Dirga.

​“Jadi Bha, ada promosi dari atasan juga jadi lebih cepat,” jawab Dirga sambil mengambil sebuah piring dan sepasang sendok garpu lalu memberikannya padaku.

​“Hebat, berarti naik jadi apa nanti?” tanyaku.

​“Kapten Bha, tapi biasanya kalau sudah naik gitu bakal kena sasaran mutasi kerja, ya, lima tahun lima tahun saja sih,” jawab Dirga.

​“Nanti umur empat puluhan Teteh sudah jadi istri seorang jenderal kayaknya Teh,” ujar Yuke sambil memasang raut wajah tersenyum padaku.

​“Amin,” jawabku, senang mendengarnya, asal Dirga enjoy, ya, why not.

​“Eh, awas Teh, yang itu asin pisan, ikan asin, asli Cirebon loh itu,” ujar Yuke.

​“Iya Teh, Ambu masaknya enggak direndam air hangat dulu, jadi asinnya terasa pisan,” tambah Bu Meyani.

​“Iya, kah? Ella coba deh,” aku penasaran juga, sebagai warga Cirebon aku merasa tertantang mencoba ikan asin ini.

​Aku pun mengambil dua potong beserta kuahnya yang juga diberi potongan cabai besar. Ikan asin, kok, di kuah ya? tapi ya, mungkin khas di sini. Selain menu tadi, aku juga ambil tumis genjer, sayuran yang jarang aku dapatkan, ini aku ambil agak banyak.

​“Dieh Teteh, nasinya kayak cuma empat sendok deh, tapi genjernya banyak banget,” tanya Atiya.

​“Iya dong, Ella kan herbivora aslinya,” jawabku.

​“Teh Daniella itu vegetarian, ya? Tapi kok nyobain ikan asin?” tanya Yuke ketika kami duduk di meja makan.

​“Ella itu lebih tepatnya pesketarian ya, penasaran, soalnya kalian bilang asin banget sih, sejauh apa tuh asinnya,” jawabku.

​“Asin, sumpah Teh, coba saja,” balas Yuke penuh keyakinan pada kata-katanya.

​Dirga mulai makan, tetapi sebelum satu sendok, Bu Meyani menepuk tangan kirinya.

​“Husss, si Aa, doa bersama dulu, atuh,” ujarnya.

Lihat selengkapnya