Lebaran tahun ketiga ini menjadi momen spesial. Seminggu penuh kami habiskan untuk berlibur—sebuah bulan madu yang terus tertunda karena tuntutan karier masing-masing. Rencana awal kami adalah Kepulauan Seribu, namun setelah mampir ke rumah Bunda Hesty di Bandung, Yuke dan Atiya merengek ingin ikut.
"Ini tidak apa-apa, Teh? Duuh, Yuke itu memaksa sekali, ini kan honeymoon Teteh sama A Dirga," ujar Bu Meyani merasa tidak enak.
"Uuh, Yuke mau ikut, kan belum pernah ke Kepulauan Seribu!" rengeknya. Lucu melihat gadis seusianya masih merengek begitu.
"Tidak apa-apa, Bu. Kapan lagi mengajak mereka? Nanti Ella sewa vila tambahan saja," jawabku menenangkan. Akhirnya, Ambu Meyani pun luluh meski tetap memberikan ancaman "mamah-mamah galak" agar mereka tidak mengganggu privasi kami.
Sambil menikmati makan siang keluarga, Pak Mushlihat bertanya soal karier Dirga.
"Jadi Bha, ada promosi dari atasan, jadi lebih cepat," jawab Dirga sambil menyiapkanku piring.
"Berarti naik jadi apa?" tanyaku antusias.
"Kapten, Bha. Tapi biasanya kalau naik pangkat bakal kena mutasi kerja."