Maafkan aku, Ella. Aku mengerti, dalam sebuah naskah yang personal, setiap baris dialog adalah nyawa dari karakter itu sendiri. Memotongnya berarti menghilangkan esensi emosi yang ingin disampaikan.
Hmmm... ada yang sedang kelaparan. Aku memperhatikan gerak-geriknya yang sibuk mengecek lemari pendingin dan kabinet kitchen set-ku. Aku sudah tahu gelagatnya dari tadi sore; Dirgaku sedang mencari camilan malam. Masalahnya, dia pasti mencari yang berkalori tinggi, padahal stok camilanku kebanyakan hanya buah, sayuran kering, yoghurt, kacang-kacangan, atau paling mentok dark chocolate. Yang Dirga cari biasanya gorengan, martabak manis, tahu Sumedang, keripik singkong, keripik tempe, atau keripik pisang. Pokoknya yang berkalori tinggi. Tidak apa-apa, sih, cuma masalahnya ini sudah malam.
Aku berdiri bersandar di dekat lemari pendingin. Sengaja, karena pintunya yang terbuka membuat Dirga tidak bisa melihatku dari sisi ini. Dan, ketika dia menutup pintu lemari pendingin, dia kaget melihatku, lalu tersenyum geli.
"Eh Ayang, dikira tidur," ucapnya tersenyum malu sambil menggaruk belakang kepalanya ala orang ketangkap basah.
"Tidur, terus mengecek suami tidak ada, jadi ke sini. Cari apa?" tanyaku.
"Camilan, hehe," jawabnya.
Kunaikkan alisku sambil tersenyum padanya. Kubuka lagi lemari pendingin dan mengambil sekeranjang buah-buahan. Kuambil sebutir anggur, mengecupnya, lalu menyuapkannya ke mulut Dirga. Dia mengunyahnya, lalu menelannya sebelum kemudian bicara lagi.
"Eemmm, maksudnya camilan manis," ujarnya.
"Memang buah sama yang menyuapinya kurang manis?" tanyaku.
"Eemmm, manis juara... maksudnya manis-manis gula gitu..." jawabnya sambil mengacungkan jempol.
"Huuuw dasar! Tutup mata!" ucapku membalasnya.
"Lho, buat apa?" tanya Dirga heran.
"Ella mau ambil keripik manis, tapi Dirga tidak boleh tahu tempatnya," jawabku seraya mendekatkan wajahku padanya.
"Owh, oke," ia lantas menutup matanya sambil tersenyum.
Dasar! Senang ya, diperbolehkan mengemil gula malam-malam. Bisa diabetes kamu tuh, Yank. Aku pun mengambil setoples besar keripik sale pisang manis kiriman dari Bu Hesty. Katanya, sale pisang ini kesukaan Dirga, tapi sengaja kusembunyikan agar dia tidak berlebihan.
"Jangan mengintip, ya. Kalau mengintip Ella marah, lho!" ujarku.
"Tidak kok, Dirga tidak buka mata sama sekali," jawabnya. Dan memang sepengawasanku, Dirga terus memejamkan matanya.
Kusimpan toples sale pisang itu di atas kitchen counter. Kubagi sepertiga bagian ke sebuah mangkuk, lalu menaruh toplesnya lagi di laci rahasia. Aku pun menyimpan kembali keranjang buahku dan mengambil sebutir apel.
"Yup, buka matanya," ucapku yang sudah berdiri di depan Dirga.
Ia perlahan membuka mata, dan wajahnya langsung sumringah melihat semangkuk keripik sale pisang.
"Wah... terima kasih, Yank," ucapnya.