Our Violet Cruise

Wachyudi
Chapter #17

My husband's another hobby

Selain seni menembak, Dirga ternyata punya hobi lain. Hobi khas para pria, hobi yang agak tidak kumengerti sih sebenarnya. Sepak bola! Dia suka nobar sama kenalannya. Tapi tidak semua pertandingan dia tonton, hanya Piala Dunia dan Liga Indonesia. You know, Dirga itu seorang bobotoh yang cukup bersemangat.

​“Iya, sama Badra, Satya, dan Pandu saja. Di sini kok, Yank,” ujarnya dengan begitu antusias.

​“Oh, kirain mau ramai banget gitu,” ucapku sambil merapikan seragam yang dikenakannya.

​“Tadinya sih, mau bikin nobar di bengkel, tapi kan nanti pulangnya malam banget, pertandingannya dimulai jam 10 malam, sih,” kembali Dirga bicara soal nobar-nya.

​“Eum, ya boleh aja ... perlu Ella sediakan apa? prasmanan bancakan khas LV buat empat orang?” tawarku selayaknya istri yang baik yang selalu pengertian sama keinginannya suami.

​“Snack saja Yank ... kayak kacang sama yang manis-manis gitu,” jawab Dirga.

​Kucubit perutnya, makanan manis terus!

​“Tapi, Ella tidak ikut tidak apa-apa? bobo duluan, Ayank sama teman-teman saja,” ujarku.

​“Ya sudah, tidak apa-apa, Ayank tidak boleh tidur malam, kan? Pertandingannya juga paling cuma sampai jam 12, sih,” jawab Dirga yang tersenyum puas.

---

​“Goooollll!!!” teriak para prajurit bobotoh ini.

​“Yeahhh, 1–0, harus mengejek Sabugha, nih,” ucap Dirga.

​“Sabugha? apa hubungannya?” tanyaku yang tidak memahami keseruan dari persepakbolaan.

​“Sabugha itu Bonek, Yank,” jawabnya sambil merangkulku, mengambil kacang metenya, lalu memasukkannya ke mulut. Ayank lagi bergaya bos besar, nih.

​“Ella tidak mencermati persepakbolaan, Yank,” protesku meminta penjelasannya.

​“Oh, Sabugha pendukung Persebaya, Dirga kan Persib, ini kan pertandingan dua klub besar ini,” jawab Dirga. Kali ini aku paham.

​Lah, baru tahu si Sabugha suka sepak bola juga.

​“Tapi, ngomong-ngomong, katanya Ayank mau bobo? koq jadinya menemani di sini?” tanya Dirga keheranan.

​“Tidak apa-apa sesekali, lagian kasihan Heni, masa sendirian, ya kan, Hen?” tanyaku pada Heni yang duduk di sebelahku.

​Kami duduk meleseh di karpet ruang rekreasi menyaksikan pertandingan Persebaya melawan Persib. Kata Dirga, enak seperti ini lebih nyaman, sofanya tidak laku. Yang datang ya Kang Badra, Kang Satya dengan istrinya, Mbak Henita, dan seorang yang baru saja kukenal bernama Kang Pandu Dwinanta.

​“Hehe, iya Mbak,” jawab Heni.

​“Takut dia ditinggal sendiri, katanya, Ibu sama Bapak mertua lagi keluar kota, sih,” jawab Satya menjelaskan alasan mengapa Henita juga ikut nobar.

​“Wah, Kang Dirga sama Satya, sih, enak ada yang menemaninya, lah, saya sama Badra,” ujar si Pandu bermaksud bercanda sepertinya, terlihat dari senyum lebarnya.

​“Yaa, kalianlah berdua, haha,” balas Dirga ceria.

My hubbie itu memang happy-nya all out kalau sama teman-temannya.

​“Wah, iya juga ya, eum, Ella panggilkan para dayang saja, ya,” ucapku.

​“Dayang?” Badra bingung.

​Kutelepon Mira.

​“Mir, ke sini ya, sama Nengsih, oh ya, agak dandan, ya,” ucapku pada si Mira itu.

​“Baik, Nona,” jawab Mira.

​Lalu, tidak sampai 10 menit, kedua ART-ku itu datang dan benar-benar berdandan termasuk pakai baju semiformal. Mereka itu lumayan cantik juga ya kalau dandan.

​“Ya Non, ada yang Neng bisa bantu?” tanya Nengsih dengan bibir merah merona.

​Henita tertawa kecil menutupi tawanya di balik pundak Satya. Si Pandu memandangi Nengsih dan Mira sambil memasukkan keripik singkong ke mulutnya.

Lihat selengkapnya