Our Violet Cruise

Wachyudi
Chapter #18

Lottery Club

"Minggu depan itu Dirga antar ke mana?" tanya suamiku sambil mengenakan celana dalam.

​"Acara amal yayasan Mahaseroja, acaranya di Padang," jawabku.

​"Oh, ya. Harus pulang pergi, tidak apa-apa?" tanyanya lagi.

​"Ya, tidak apa-apa. Ella wajib datang, kan bendahara," kujelaskan urgensinya.

​"Yayasan Mahaseroja itu siapa saja pengurusnya?" tanya Dirga ingin tahu.

​"Penanggung jawabnya Bang Gunadira, ketua Andeh Mahavir, wakil ketua Bang Fauzan Mahandaru, sekretaris Bu Aruni. Bendahara dulunya Ama, terus ganti ke Ella. Anggota ya semua keluarga Mahaseroja," jawabku simpel.

​"Oh... Ya sudah. Ini kalau hari ini ada acara apa sama ibu-ibu Persit?" tanya Dirga lagi. Kali ini ia sudah berpakaian semi-kasual lengkap.

​Dirga menghampiriku yang sedang duduk sambil berdandan maksimal. Ia berdiri di belakangku, membuat "revolver"-nya menusuk-nusuk punggungku. Aku menengadah ke atas sampai bisa kulihat wajahnya, lalu tersenyum.

​"Arisan dong, Yank," jawabku, lalu memajukan bibir minta cium.

​Dirga gercep; ia tidak akan melewatkan romantic kiss dengan bibir mewahku ini.

​"Dulu sekolahnya di TJ School SMP dan SMA?" tanya Bu Huggess.

​"Iya Bu. Papa maunya anak-anak sekolah di swasta, dan yang afiliasinya ke science ya TJ International School. Untung di sini ada," jawabku.

​"Lumayan lho itu biayanya. Uang pangkal sama SPP-nya gede ya, Mbak Daniella?" tanya Bu Tari penasaran.

​"Ya worth it kok Bu, itu kita bayar untuk fasilitasnya juga," jawabku tanpa menyebutkan nominal.

​"Daniella juga ranking satu berturut-turut seangkatan, ya? Hebat benar prestasinya, lemari pialanya saja penuh," ujar Bu Gina berdecak kagum.

​"Terima kasih Bu Gin. Jadi anak rumahan yang kesepian, sih. Orang tua jarang sekali pulang, jadi ya cari kegiatan positif saja," jawabku sambil tersenyum ramah.

​Kami sedang mengobrol santai di acara arisan yang digelar di wisma. Rumahku ini jadi pilihan karena katanya ibu-ibu PKCK penasaran. "Rumah istrinya Mas Dirga sepertinya mewah, lihat yuk," begitu info dari Bu Ayunda.

​"Tapi sekarang sih sudah tidak kesepian, kan?" goda Bu Tari seraya menaik-turunkan alisnya, mengangguk-angguk ke arah Dirga yang sedang mengobrol dengan Pak Gunawan.

​Aku tersipu juga dibilang begitu. "Iya, sudah ada ciptaan Tuhan paling ganteng dan aleman yang menemani," jawabku, pintar-pintar menjaga suasana.

​"Hahahaha!" Para ibu tertawa renyah.

​"Dek Ella itu sepertinya sibuk banget ya? Capek tidak tuh kalau pulang-pulang Mas Dirga minta 'malam Jumat-an'?" tanya Bu Tari lagi. Senang sekali dia dengan bahasan seperti ini.

​"Yaa... capek sih, pasti namanya pulang kerja. Cuma ya kalau si Ayang sudah minta, ya Ella kasih... lagian enyakk," jawabku menyesuaikan dengan vibe mereka.

​"Hahahahhaaaaa!" Tawa para ibu semakin kencang. Benar kata Vero, humor seperti ini memang ampuh membuat kalangan ibu-ibu arisan tertawa.

​"Mas Gunawan jadi mutasi kapan?" tanya Dirga pada pria berambut cepak di hadapannya.

​"Bulan Maret Mas Dirga, mana jauh ke Irian," jawab si Bapak sambil berdecak.

Lihat selengkapnya