"Minggu depan itu Dirga antar ke mana?" tanya suamiku sambil mengenakan celana dalam.
"Acara amal yayasan Mahaseroja, acaranya di Padang," jawabku.
"Oh, ya. Harus pulang pergi, tidak apa-apa?" tanyanya lagi.
"Ya, tidak apa-apa. Ella wajib datang, kan bendahara," kujelaskan urgensinya.
"Yayasan Mahaseroja itu siapa saja pengurusnya?" tanya Dirga ingin tahu.
"Penanggung jawabnya Bang Gunadira, ketua Andeh Mahavir, wakil ketua Bang Fauzan Mahandaru, sekretaris Bu Aruni. Bendahara dulunya Ama, terus ganti ke Ella. Anggota ya semua keluarga Mahaseroja," jawabku simpel.
"Oh... Ya sudah. Ini kalau hari ini ada acara apa sama ibu-ibu Persit?" tanya Dirga lagi. Kali ini ia sudah berpakaian semi-kasual lengkap.
Dirga menghampiriku yang sedang duduk sambil berdandan maksimal. Ia berdiri di belakangku, membuat "revolver"-nya menusuk-nusuk punggungku. Aku menengadah ke atas sampai bisa kulihat wajahnya, lalu tersenyum.
"Arisan dong, Yank," jawabku, lalu memajukan bibir minta cium.
Dirga gercep; ia tidak akan melewatkan romantic kiss dengan bibir mewahku ini.
"Dulu sekolahnya di TJ School SMP dan SMA?" tanya Bu Huggess.
"Iya Bu. Papa maunya anak-anak sekolah di swasta, dan yang afiliasinya ke science ya TJ International School. Untung di sini ada," jawabku.
"Lumayan lho itu biayanya. Uang pangkal sama SPP-nya gede ya, Mbak Daniella?" tanya Bu Tari penasaran.
"Ya worth it kok Bu, itu kita bayar untuk fasilitasnya juga," jawabku tanpa menyebutkan nominal.
"Daniella juga ranking satu berturut-turut seangkatan, ya? Hebat benar prestasinya, lemari pialanya saja penuh," ujar Bu Gina berdecak kagum.
"Terima kasih Bu Gin. Jadi anak rumahan yang kesepian, sih. Orang tua jarang sekali pulang, jadi ya cari kegiatan positif saja," jawabku sambil tersenyum ramah.
Kami sedang mengobrol santai di acara arisan yang digelar di wisma. Rumahku ini jadi pilihan karena katanya ibu-ibu PKCK penasaran. "Rumah istrinya Mas Dirga sepertinya mewah, lihat yuk," begitu info dari Bu Ayunda.
"Tapi sekarang sih sudah tidak kesepian, kan?" goda Bu Tari seraya menaik-turunkan alisnya, mengangguk-angguk ke arah Dirga yang sedang mengobrol dengan Pak Gunawan.
Aku tersipu juga dibilang begitu. "Iya, sudah ada ciptaan Tuhan paling ganteng dan aleman yang menemani," jawabku, pintar-pintar menjaga suasana.
"Hahahaha!" Para ibu tertawa renyah.
"Dek Ella itu sepertinya sibuk banget ya? Capek tidak tuh kalau pulang-pulang Mas Dirga minta 'malam Jumat-an'?" tanya Bu Tari lagi. Senang sekali dia dengan bahasan seperti ini.
"Yaa... capek sih, pasti namanya pulang kerja. Cuma ya kalau si Ayang sudah minta, ya Ella kasih... lagian enyakk," jawabku menyesuaikan dengan vibe mereka.
"Hahahahhaaaaa!" Tawa para ibu semakin kencang. Benar kata Vero, humor seperti ini memang ampuh membuat kalangan ibu-ibu arisan tertawa.
"Mas Gunawan jadi mutasi kapan?" tanya Dirga pada pria berambut cepak di hadapannya.
"Bulan Maret Mas Dirga, mana jauh ke Irian," jawab si Bapak sambil berdecak.