Ia sedang menyelesaikan tahap akhir dari dua belas perawatan wajah dan kulit hariannya. Hal yang rutin dilakukan oleh Daniella setiap bangun dan menjelang tidur; bahkan sudah menjadi kewajiban semenjak hari pertama aku seatap dengannya. Bukan hanya ini sebenarnya, masih ada ritual lain seperti lulur, creambath, perawatan kuku, hingga perawatan menggunakan lilin seminggu sekali dengan mengundang layanan kecantikan panggilan. Bagi Daniella, tabu hukumnya jika ia melewatkan ritual itu meski hanya sekali. Ya, wajar, namanya juga wanita; beauty matters, bukan?
Aku tidak keberatan, justru merasa dihargai karena istriku rela bersusah payah demi selalu tampil sempurna di mataku. Kata Daniella, ia ingin aku selalu bisa membanggakannya di hadapan semua orang. Bangga sekali, Yank. Bagaimana tidak? Segalanya ada, segalanya tersedia. Terkadang kupikir ia bersikap terlalu rendah hati untuk ukuran kualitas yang ia miliki. Sepertinya benar kata Satya; siapa orang yang kukenal yang punya istri sepertiku? Komandan saja tidak punya.
"Sudah tantik belum Ellanya, Yank?" tanyanya padaku setelah benar-benar selesai. Aku sangat suka saat ia bersikap manja seperti ini. Sikap yang hanya ia tunjukkan sepenuhnya di dalam rumah atau ketika kami hanya berdua saja.
"Selalu, setiap saat, sungguh," jawabku mantap dengan segenap jiwa ragaku. Seluruh bagian diriku mengakui hal itu tanpa tapi.
"Ma'acih... istrinya siapa?" balasnya sambil berlagak imut. Sumpah, aku masih merasa lucu jika teringat masa awal bertemu saat ia masih sangat menjaga citranya di hadapanku.
Dulu, dari awal bertemu hingga saat aku melamarnya di panggung perayaan Imlek di Grage City Mall, Daniella menunjukkan kesan wanita yang berwibawa. Ia selalu tampak seperti wanita dengan karisma yang menjulang tinggi bagai Menara Eiffel. Bahasa tubuhnya, susunan katanya, hingga detail kecil yang ia bawa bersama sosoknya yang anggun mempesona. Lalu kini, setelah kami resmi menikah, Daniella adalah adik kecil nan manja yang kadang juga suka mengambek, haha.
"Istri tercintanya Dirga satu-satunya," jawabku romantis.
Ia tersenyum manis. Daniella sepertinya menyukai aku yang bersikap gentleman begini.
"Jadi Ayank sendiri belum pernah sama sekali menonton konser?" tanyaku melanjutkan obrolan kami tentang pengalaman masa remajanya.
Ia menggeleng pelan sambil matanya melihat ke atas dan telunjuk kirinya menempel di bibir merahnya, mencoba mengingat-ingat.
"Lah, padahal dulu sendirinya manggung, tapi kok tidak pernah menonton konser sama sekali?" ujarku agak tidak mengerti dunia perkonseran. Di Bandung memang sering diadakan konser musik, hanya saja aku tidak terlalu mengikuti tren seperti itu karena teman-temanku lebih hobi menjelajah hutan atau memanjat gunung.
"Eh, eh, Ella pernah satu kali! Tapi itu juga cuma mengantar Angrea, jadi bukan Ella yang sengaja ingin menonton konser," ucapnya lalu mendekat ke arahku dan duduk di pangkuanku, melingkarkan kedua tangannya di leherku.