Outsider

Susanti
Chapter #26

Bagian 26 - Gloria

Keberuntungan itu … selalu kuinginkan. Seberapa keras aku memikirkannya, aku menganggap Ibu adalah manusia paling beruntung di dunia. Terlepas dari sikap Kakek yang selalu dia anggap dingin, di mataku hanya ada kehangatan. Entah luka seperti apa yang dialami Ibu hingga membuatnya menarik diri dari Kakek. Aku tak pernah menemukan jawabannya.

Bahkan setelah bertemu Tom, separuh maaf yang dia lontarkan untukku dia lakukan untuk Ibu. Sikap orang tua Tom jauh lebih membuatku tak sanggup berkata-kata. Di balik perhatiannya padaku, nama Ibu tak pernah luput mereka sebut. Kerinduan mereka pada Ibu dapat dipastikan lebih besar dari yang Ibu bayangkan.

Sayang sungguh sayang. Terlepas dari schizoid yang diderita Ibu, pikirannya selalu dipenuhi dengan kecemasan yang menurutku … sungguh tak beralasan. Aku selalu berharap. Seandainya … seandainya saja. Ibu dapat hidup normal seperti Ibu lain pada umumnya.

Keegoisan ini sungguh tak masuk akal. Padahal sikap Ibu padaku jauh lebih baik dari kata sempurna. Kekhawatiran orang lain atas ketidaksanggupan Ibu membesarkanku berhasil dibungkam oleh Ibu.

Itulah kenyataannya. Meskipun begitu enggan menjalin hubungan dengan orang lain, hanya sikap Ibu yang kuanggap paling normal di sekitarku. Maksudku, sikap teman-temanku di sekolah sungguh palsu. Seringkali aku mendengar pembicaraan mereka di belakangku.

“Ah … berteman dengan Gloria? Oh, yang benar saja! Jika ibunya tidak membayarkan biaya olimpiade kami, malas sekali aku berbicara dengannya.”

“Kau benar. Jika Gloria tidak membelikanku tiket konser Andromeda, aku tak akan bicara dengannya.”

“Dia juga memberiku salah satu koleksi terbatas dari Andromeda. Itu edisi khusus di album ke tiga Andromeda. Dia sungguh gila! Maksudku ... hanya untuk mendapatkan teman?”

“Oh, aku ingat. Itu sangat mahal. Kau memanfaatkannya untuk mendapatkan itu?”

“Tentu saja, hahaa …”

“Bukankah dia akan menganggapmu sebagai temanmu?”

“Oh, tidak mungkin. Hanya Jose yang bodoh itu yang rela menjadi temannya. Aku berpikir tidak ingin terlalu dekat dengannya. Aku dengar ibunya mendapat perawatan dari rumah sakit jiwa.”

“Ibuku juga berkata demikian. Dia mungkin sama saja dengan ibunya.”

Well, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.”

Sungguh … semua itu bukan apa-apa bagiku. Aku mendengarnya sehari-hari sejak aku berada di sekolah dasar. Itu sudah hampir sepuluh tahun hingga kini. Bukankah itu terdengar seperti kesialan? Tidak bagiku. Itu adalah keberuntungan. Berkat mereka aku cukup mahir menebak sikap orang lain padaku.

Sayangnya … itu tidak berlaku saat aku bertemu Tom. Maksudku … bagiku, sikap Tom sungguh mengejutkanku. Kehangatan itu … cukup aku rasakan dari sikapnya padaku. Namun, saat melihatnya berinteraksi dengan orang lain? Well, sejauh ini yang kulihat hanya Spencer, Hannah, dan beberapa pegawai lain di rumahnya. Itu saja cukup membingungkanku.

Sikap berkebalikan itu sungguh memusingkanku. Tom yang terlampau dingin pada orang lain tetapi hangat padaku dan juga Kakek, membuatku berpikir ribuan kali. Sebenarnya … Ibu atau Tom yang mengidap schizoid?

Pemikiranku sungguh menyita energiku. Aku bahkan masih bergelut dengan pemikiran tak berguna itu saat ini. Meskipun tubuhku berada di meja makan bersama Tom dan Kakek, otakku masih bekerja keras mendapatkan jawaban atas pemikiran janggalku.

Maksudku … siapa sangka kalau Kakek dapat tersenyum selebar itu? Dan itu untuk siapa? Tom! Oh, aku pasti bermimpi. Seumur hidupku, melihat senyum lebar Kakek adalah anugerah. Sama seperti Ibu, senyum Kakek terlampau irit. Bahkan untukku atau Ibu.

Kini, bibirku turut menunggingkan senyum. Kakek berucap hangat sembari mengantar Tom keluar setelah makan malam kami selesai.

“Datanglah lebih sering. Temani Ayah main catur.”

“Hum … aku akan mengusahakannya.”

Senyum mereka cukup menghangatkan hatiku. Ah, jika saja Ibu di sini. Sempurnalah kebahagiaanku.

“Umh … Gloria, kau akan menghabiskan liburan sisa liburan sekolahmu bersama kakekmu?”

Suara Tom sedikit mengagetkanku. Maksudku … untuk apa dia menanyakan tentang liburanku?

“Sepertinya tidak. Ibu akan kembali di hari Jumat.”

“Oh, begitukah?”

“Hum.”

Tom tampak terdiam untuk sesaat sebelum berucap kembali.

“Aku mengerti. Aku akan berada di Kota Georgia mulai besok. Pekerjaanku menunggu.”

Aku hanya mengangguk tanpa berucap. Namun, Kakek berucap sembari menghela napas.

“Wah, kau terdengar cukup sibuk.”

“Begitulah, Ayah.”

Tom menjawab dengan senyum kecil. Dapat kurasakan ada tatapan tidak puas di matanya. Entah itu kekecewaan atau kesedihan. Aku tak dapat menangkapnya dengan benar. Saat pandangan kami bertemu, aku berucap lirih. Suaraku bahkan terdengar bergetar.

“Umh … bolehkah aku meneleponmu?”

Ucapanku pasti di luar dugaan. Entah dari mana datangnya keberanian itu. Tom terpaku mengunci pandanganku. Namun, tersenyum lebar setelahnya. Tanpa ragu dia mengulurkan ponselnya padaku.

“Masukkan nomormu.”

Tanpa menunggu lama aku meraih ponselnya. Mengetik nomorku tanpa ragu. Aku bahkan berniat memasukkan nomor Ibu sekaligus. Namun, kuurungkan niatku. Alih-alih melakukannya, kuberanikan diri untuk bertanya sembari mengembalikan ponselnya.

“Bagaimana … dengan nomor Ibu?”

Tom tampak terhenyak. Tangannya sedikit bergetar saat kembali menerima ponselnya dariku. Pandangannya dia alihkan dengan cepat. Tangannya terlihat menyimpan nomorku di ponselnya. Kedua alisnya dia angkat tinggi-tinggi. Pandangannya dia kunci pada layar ponselnya.

Butuh beberapa detik bagi Tom untuk kembali menatapku. Kemudian berganti menatap Kakek untuk sesaat. Kakek tampak tergagap saat pandangan mereka bertemu.

“Ah, Winter mengganti nomor ponselnya. Hum … itu sudah lama sekali. Seseorang terus menguntitnya kala itu.”

Kakek menjelaskan perlahan. Kulihat sorot mata Tom menggelap. Terasa dingin meskipun pandangan kami tak bertaut. Kakek kembali berucap sembari mengeringkan tenggorokannya.

“Masalah itu sudah teratasi. Kau tidak perlu khawatir.”

“Benarkah? Itu bagus sekali.”

Mendengar ucapan Kakek, kerutan di wajah Tom memudar perlahan. Saat Kakek mengangguk kulihat kembali kilau biru pada bola matanya. Biru yang serupa dengan milikku.

Lihat selengkapnya